TOKYO: Yen melemah atas dolar AS dan euro untuk pertama kali dalam 3 hari terakhir menyusul sinyal pemulihan ekonomi Asia-Pasifik bergerak naik yang memicu investor membeli aset dengan imbal hasil tinggi.
Mata uang Jepang itu melemah terhadap 16 rekanan utama setelah China melaporkan ekspansi sektor manufaktur tercepat pada Agustus. Dolar Australia menguat setelah pemerintah mengklaim pertumbuhan GDP lebih cepat dari prediksi ekonom.
"Pertumbuhan yang cepat di Australia dan manufaktur di China menopang sentimen pengambilan risiko. Kondisi ini kemungkinan akan memicu aksi jual yen," kata Yuji Saito, direktur departemen valas Credit Agricole Corporate and Investment Bank Tokyo.
Yen melemah menjadi 106,99 per euro pada pukul 11:15 di Tokyo, dari 106,76 penutupan New York kemarin. Terhadap dolar AS, yen tertekan menjadi 84,38 dari 84,20 setelah sempat menguat sampai 83,60 pada 24 Agustus, terkuat sejak Juni 1995. Mata uang Jepang juga melemah menjadi 75,72 per dolar Australia, dari 74,99 kemarin.
Federation of Logistics and Purchasing melaporkan Purchasing Managers Index China naik menjadi 51,7 pada Agustus dari 51,2 posisi Juli. Angka itu lebih tinggi dari estimasi median survei Bloomberg sebesar 51,5.
"Oh, terima kasih kepada China dan Australia. Semua negara sangat bergantung kepada China atas pertumbuhan yang berarti," kata Takashi Kudo, general manager layanan informasi pasar NTT SmartTrade Inc, anak usaha Nippon Telegraph & Telephone Corp di Tokyo.
Bureau of Statistics Australia melaporkan ekspansi GDP sebesar 1,2% pada kuartal II dari 3 bulan sebelumnya. Estimasi median dari 23 ekonom berada pada 0,9%.
MSCI Asia Pacific Index dari bursa regional naik 0,5% dan Nikkei 225 Stock Average bertambah 0,6%.(yn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar