VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan rakyat dengan satu isu besar, yakni soal ekonomi hijau. Menurut Presiden, malapetaka akan terjadi jika dari sekarang pemerintah tidak menuju ke arah ekonomi hijau.
"Di berbagai kesempatan di dalam dan luar negeri, green economy menjadi semacam ideologi baru di tingkat dunia, di abad 21," kata SBY saat mengunjungi redaksi koran Jurnal Nasional di Jakarta, Kamis 3 Juni 2010.
Latar belakang ideologi ini, kata SBY, karena, pertama, dunia menghadapi perubahan iklim. Kedua, ada tantangan dalam membangun kesejahteraan manusia secara adil dan berkelanjutan terutama berkaitan dengan pemenuhan pangan, energi, dan air bagi 6,8 miliar populasi manusia yang terus bertambah.
Ekonomi hijau kemudian hadir menjawab itu. "Sebuah ekonomi yang dibangun dan dijalankan untuk mengatasi perubahan iklim, mencegah makin membesarnya emisi gas rumah kaca," kata SBY. Caranya adalah dengan menghemat pemakaian sumber daya alam, memprioritaskan penggunaan sumber daya alam yang terbarui.
Modalnya adalah kebijakan yang mendukung, ilmu pengetahuan dan teknologi serta cara pandang dan perilaku yang lebih hijau. "Tak rakus, tak boros, tak mudah menguras sumber daya alam ciptaan Allah," ujar SBY.
Dalam soal penggunaan energi, Presiden menyatakan perlu transformasi ke arah penggunaan energi hijau. Pemakaian energi fosil perlahan-lahan dikurangi.
"Ingat Saudara-saudara, dari APBN kita, lebih dari 20 persen atau seperlimanya untuk subsidi," kata SBY. "Yang terbesar adalah subsidi minyak listrik."
Sementara harga bahan bakar fosil itu diperkirakan terus naik karena stok yang terbatas. Jika model subsidi ini terus dipertahankan untuk bahan bakar fosil, tentu ke depan bisa menyedot APBN.
Minyak itu, kalau bisa dikurangi melalui perubahan gaya hidup, maka ada ratusan triliun rupiah dihemat dalam setahun. "Kita bisa gunakan untuk kesehatan, mengurangi kemiskinan dan sebagainya," ujar SBY.
Pemerintah juga melakukan transformasi menggunakan sumber energi alternatif seperti panas bumi. Jadi pelan-pelan, kata SBY, pemerintah dan rakyat bergerak menuju pemakaian energi terbarukan.
Sementara dalam soal pangan, SBY mengajak rakyat menuju pertanian yang memiliki produktivitas tinggi tanpa perlu menambah lahan sehingga tak perlu merambah hutan. Indonesia harus mengembangkan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi.
Kemudian dalam soal air, Presiden mengajak masyarakat untuk hemat air. "Gunakan air secara efisien. Ini titipan saya untuk dikomunikasikan ke seluruh Indonesia," ujar Presiden.
Pekan lalu, Indonesia dan Norwegia meneken kesepakatan untuk melakukan moratorium penebangan hutan di sela-sela konferensi perubahan Iklim di Oslo. Presiden menyatakan, pengembangan pertanian melalui perluasan lahan hanya dilakukan atas hutan-hutan yang telah terdegradasi. (adi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar