Selasa, 21 September 2010

Rupiah melemah, risiko arbitrase mengecil

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, ke depan risiko arbitrase rupiah alias pengambilan laba atas selisih aset rupiah dengan aset non-rupiah oleh investor asing akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan mata uang Garuda tahun 2011 akan cenderung melemah, ditambah semakin banyaknya negara-negara yang menaikkan suku bunga acuannya sehingga tingkat imbal hasil aset rupiah akan cenderung mengecil.
Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan, proses pemulihan ekonomi global yang masih belum terlalu kuat tahun 2011 akan menekan kinerja ekspor. Sedangkan di saat yang sama, kinerja impor yang disokong oleh tingginya konsumsi domestik terus naik. Hal ini menyebabkan surplus transaksi berjalan akan menurun dan menekan nilai tukar rupiah.
"Kecenderungan rupiah yang melemah ke depan akan membuat peluang arbitrase oleh asing akan semakin berkurang. Ditambah lagi kecenderungan beberapa negara yang mulai menaikkan bunga acuan, sehingga yield rupiah cenderung mengecil," jelas Darmin.
Beberapa negara seperti Australia, New Zealand, Thailand, lalu Brazil sudah menaikkan suku bunga acuan. "India malah sudah lima kali menaikkan bunganya," imbuh Darmin.
Meski diperkirakan akan terus menurun, namun Darmin bilang BI akan terus mengupayakan agar risiko arbitrase ini bisa terus dikurangi. "Secara struktural apa yang bisa dilakukan untuk kurangi risiko arbitrase ini? Hal tersebut bisa dicapai dengan secara konsisten menurunkan tingkat inflasi Indonesia menjadi setara dengan tingkat inflasi dengan negara-negara di kawasan," paparnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar