Kamis, 16 September 2010

PELAJARAN DARI DISTRIBUSI ZAKAT

Sahabat, banyak diantara kita yang bertanya mengapa RYI tidak membuat iven-iven Distribusi Zakat yang dapat dipulikasi secara massal atau iklan di media cetak dan elektronik ? yang pertama, membuat iven atau iklan butuh dana yang tidak sedikit, kedua kita tidak menginginkan adanya korban dalam bentuk apapun karena yang meminta pasti jauh lebih besar daripada apa yang akan kita bagikan, ketiga kami ingin menjaga keikhlasan dan ketulusan Sahabat semua karena dengan membuat iven atau iklan besar-besaran itu pasti punya tujuan diantaranya adalah ingin dikenal dan terkenal, ingin menunjukkan kemampuan dan kekuatan, seolah-olah kita mau mengatakan “ ini lho kami, saksikanlah bahwa kami bisa dan mampu berbuat “, apakah pernyataan seperti tersebut penting ? , lebih indah mana ketika kita memberikan sedikit atau sebagian dari karunia yang diberikan kepada kita lalu berucap “ Ya Allah, baru ini yang aku mampu berikan untuk Agamamu, dengan ikut berkontribusi menyantuni, mendidik dan membina para generasi Yatim dan Dhu’afa agar kelak menjadi Generasi Qur’ani Robbani yang akan mencerahkan ummat saat ini dan yang akan datang “.

Sahabat ada sedikit pelajaran yang amat berharga dalam perjalanan kami mendistribusi Zakat, Infaq, buka puasa dan Wakaf yang Anda amanahkan kepada kami.

Coba kita lihat fenomena menjelang Lebaran betapa banyaknya para Faqir Miskin, Yatim dan Dhu’afa yang berebut meminta kupon Zakat atau yang meminta-minta di jalanan dan ke rumah-rumah ? mengapa ini terjadi ? karena ada Pihak-Pihak baik personal ataupun Lembaga ingin dikenal dan terkenal atau minimal menunjukkan eksistensi kemampuannya. Bukankah seorang Khalifah/Presiden Umar bin Khothob memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan langsung ke rumah rakyatnya yang termiskin tanpa seorang pengawalpun yang boleh mengikutinya ?


Sebenarnya siapa yang harus kita prioritaskan untuk kita santuni ? ” (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui ” ( Al-Baqoroh :273 ).

Sahabat, Memang tidak mudah untuk mengetahui dan melacak Para Faqir Miskin yang mempunyai anak-anak Yatim yang memelihara diri mereka dari meminta-minta, dibutuhkan kesungguhan dan menyebar para pengintai untuk bisa menemukan mereka, sebagaimana Umar bin Khothob pun mengintai rakyatnya di malam hari.



Di sebuah kampung di Daerah Banjar Sari Jawa Barat, hiduplah seorang Janda beranak 3 sebut saja namanya ummu Salamah, beberapa tahun yang lalu suaminya meninggal karena kecelakaan, tinggal di sebuah rumah pinjaman dari teman baik mendiang suaminya. Wanita ini memegang teguh prinsip untuk sekuat tenaga berjuang di rumah mengurus dan mendidik anak-anak dan melakukan pekerjaan yang dia mampu yaitu menjahit. Ada satu keyakinan yang tertancap kokoh pada diri wanita ini ” Bahwa hanya Allah-lah yang pasti akan mecukupi KEBUTUHAN hidupnya ”, dia bergantung dan pasrah secara totalitas kepada Allah yang Maha Kaya, dia tidak merengek dan menghiba kepada keluarga atau tetangga terdekatnya ketika tak ada sebutir nasipun di rumahnya.



” Kalau hari ini Allah mencukupkan keperluanku dan anak-anakku hanya dengan air putih, maka aku akan terima dengan tulus ”, begitulah suara hatinya berbicara ketika tak ada apapun yang bisa dimakan untuknya dan anak-anaknya.


Namun ternyata Allah Maha mendengar dan Maha memahami kebutuhan hambanya, setiap suara hatinya merintih dan perutnya mulai perih ada saja tamu yang tak diundang bahkan yang tak dikenal mendatangi rumahnya dan memberikan apa yang sekedar ia perlukan, subhaanallah.


Ketika kami datang ke rumahnya membawa sembako dan donasi dari para Sahabat RYI, kami hanya menemukan beras tinggal segelas, baju-baju mereka sudah cukup menyengat hidung pertanda tak ada sabun untuk mencuci. Sebelum kami berpamitan pulang ada satu nasehat yang sangat berharga dari wanita ini, ” Kalau kita siap hidup dengan apa yang KITA BUTUHKAN saja, maka tidak akan ada orang miskin di dunia ini dan tak akan ada satu barang kita yang mubadzir (tak berdayaguna), namun kebanyakan kita hidup menuruti KEINGINAN-KEINGINAN sehingga banyak barang yang kurang fungsi dan dayagunanya ”.


Berapa banyak pakaian kita yang numpuk di lemari yang sudah jarang kita pakai bahkan gak pernah lagi kita pakai, itu adalah hasil dari keinginan kita

Berapa banyak perabot rumah tangga yang hanya sekedar kita pajang memenuhi ruangan padahal hanya sedikit sekali fungsinya, itu juga hasil keinginan kita

Mobil berderet, perhiasan bergelantungan, serta asesoris diri dan rumah tangga yang sekedar untuk menunjukkan eksistensi kemampuan kita itu semua adalah hasil dari keinginan-keinginan kita.


Bisa jadi keinginan-keinginan satu orang dintara kita akan mampu memenuhi kebutuhan puluhan orang yang menunggu uluran tangan kita karena mereka malu meminta.


Saya jadi teringat kisah teman saya yang mantan sutradara, dia ingin bertaubat, sebagai bukti keseriusannya bertaubat dia pindah bersama keluarganya menjauh dari lingkungan para seniman. Di tempat baru itu dia belum banyak kenal para tetangganya, beberapa bulan kemudian karena belum dapat pekerjaan yang baru, kantongpun kering tak ada satu makananpun yang dapat dimakan hari itu. Kemudian dia panggil istrinya, ” gimana nih ma dari pagi hingga malam ini belum ada satu makananpun masuk ke perut kita ? ”. Istrinya Cuma terdiam pertanda belum ada saran untuk suaminya. ” Gimana kalau kita Sholat saja minta makan sama Allah, sekalian aku ingin membuktikan apakah Allah masih mau menerima taubatku dan mendengar keluhanku sekarang ini ? ”. Suami istri inipun kemudian Sholat lalu berdo’a dengan segala kepolosannya MINTA MAKAN.


Ternyata Allah benar-benar Maha Mendengar dan Rindu terhadap rintihan-rintihan hambanya, tidak berapa lama setelah mereka sholat ada seseorang mengetuk pintu, dan subhaanallah orang itu membawa makanan untuknya.


Masih dalam perjalanan distribusi ZIS, di sebuah kampung di daerah Parung Bogor tidak jauh dari sebuah mega proyek salah satu Lemabaga Amil Zakat Nasional number one, Ustadz Ifan bersama 15 santrinya usia SD yang yatim dan dhu’afa sedang serius mengangkat program Menghafal Al-Qur’an, mereka benar-benar hidup cukup dengan KEBUTUHAN MINIMUM saja tak pernah terbesit memenuhi KEINGINAN-KEINGINAN. Coba kita bayangkan mereka hidup dengan jatah anggaran Rp.600.000,- per bulan dengan beras 50 kg untuk 15 santri dan satu keluarga, menurut rasional kita apakah cukup ? mungkin anggaran sebesar itu hanya bisa kita pakai untuk satu anak kita yang masih sekolah !


Ketika kami berkunjung di Asrama beliau dan ikut menikmati buka bersama dengan Tempe orek dan kerupuk, alhamdulillah ternyata dibalik kesangatsederhanaan itu terukir prestasi dan visi yang berlian, salah satu santrinya yang masih usia SD telah hafal 30 Juz Al-Qur’an dan diterima di Sekolah Arab Saudi di Jakarta.


Masih banyak yang ingin kami ceritakan dari beberapa tempat sasaran distribusi Zakat, Infaq, Buka Puasa dan Wakaf dalam program sukses bersama Ramadhan RYI, ada buka bersama di pesantren2 Tahfidh Qur’an, Buka bersama satu kampung, dan I’tikaf 10 hari penuh, yang semuanya tidak jauh beda kondisinya seperti yang kami ceritakan diatas.


Dan di penghujung Ramadhan ini kami sempatkan untuk mengirim Al-Qur’an, Alat-Alat Sholat serta bingkisan lebaran untuk saudara-saudara kita di Nusa Kambangan yang akan menghabiskan seluruh masa hidupnya untuk ibadah di Pulau itu.

Semoga Amal ibadah kita semua di Bulan Ramadahan yang mulia kali ini diterima oleh Allah SWT dan akan mengantar kita menjadi manusia-manusia baru yang bijak dan mampu menjadikan semua bulan seperti Ramadhan, amin ya Robbal ’alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar