Pada 1896 seorang sosiolog Jerman bernama Georg Simmel mengatakan dalam bukunya The Philosophy of Money, bahwa "Money is the spider that spins society's web." Maksudnya, jaringan uang dalam hal ini sistem pembayaran sangat penting dalam mentransformasikan perekonomian, sosial, dan kondisi politik masyarakat. Bahkan negara yang memiliki sistem ekonomi yang tangguh dan sistem pertahanan kemanan yang tangguh juga disebabkan kekuatan dari sistem pembayaran negara tersebut.
Perekonomian yang sehat adalah perekonomian yang terus-menerus mampu mengambangkan sistem pembayaran dengan dasar perkembangan driving forces-nya. Australia secara system payment merupakan sebuah contoh state of the art dari sistem pembayaran di Asia Pasifik. Sistem ini dengan seksama mengutamakan keamanan dalam konteks efisiensi perekonomian. Sistem pembayaran di Australia telah mendesainkan diri menjadi salah satu sistem yang akan kompatibel dengan sistem-sistem pembayaran lainnya di Asia Pasifik. Orientasi keamanan menjadikan sistem Australia sebagai sistem yang sangat mungkin diadopsi negara-negara Asia Pasifik. Kehebatan sistem pembayaran Australia adalah menciptakan sistem perundang-undangan yang kompatibel dengan berbagai yurisdiksi hukum. Sistem ini dibuat sangat transparan sehingga setiap peserta dalam sistem pembayaran mengetahui dampak risiko dari sistem tersebut bagi setiap peserta.
Ibaratnya, sistem pembayaran Australia memberikan panel-panel informasi penting bagi para peserta sistem pembayaran dengan biaya yang relatif murah dan transparan. Sistem ini juga sangat transparan dalam menggambarkan risiko kredit dan risiko likuiditas selain juga menggambarkan dengan jelas tanggung jawab dari operator dan tiap-tiap peserta beserta potensi risiko yang akan ditimbulkannya. Motto dari sistem pembayaran Australia ialah 'Ensure a high degree of security and operational reliability and should have contingency arrangements for timely completion of daily processing', dan 'Provide a means of making payments which is practical for its users and efficient for the economy'. Inilah esensi persaingan sistem pembayaran di dunia saat ini, yaitu keamanan dan efisiensi ekonomi yang ternyata telah menjadi roh dari sistem pembayaran di Australia. Jelas sekali bahwa pertempuran sistem pembayaran di Asia Pasifik akan didominasi dua kekuatan besar, yaitu Jepang dan Australia. Seandainya kedua sistem ini dapat berkolaborasi, sangat mungkin sentral sistem pembayaran di Asia akan berada pada jangkar Jepang dan Australia. Di Australia sendiri kekuatan terbesar yang memengaruhi sistem pembayaran adalah fund manager dan perbankan. Sementara perbankan, masyarakat pembangunan (building society), dan serikat kredit (credit union) merupakan penopang dari sistem pembayaran. Dalam konteks Indonesia, maka peran bank seperti Mandiri dan BCA tentu akan semakin penting untuk terus berkiprah dalam bisnis pembayaran. Masyarakat pembangunan dan serikat kredit merupakan financial intermediary nonperbankan yang kontribusinya minimal dalam sistem keuangan di Australia. Sistem pembayaran di Australia bersifat technological led growth. Kondisi inilah akhirnya yang membuat lembaga pembuat kebijakan dalam sistem pembayaran jatuh ke pangkuan bank sentral. Hal ini terjadi setelah melalui evaluasi matang akan driving forces dari sistem pembayaran itu sendiri. Dengan demikian, upaya menjadikan sistem pembayaran Australia sebagai sistem pembayaran utama di Asia Pasifik sebetulnya bukan semata-mata didasari ambisi politik, tetapi juga berdasarkan rasionalitas dari driving forces itu sendiri. Lembaga kajian Wallis Committee, selain meletakkan bank sentral sebagai pembuat kebijakan dalam sistem pembayaran Australia, juga memperkenalkan konsep real time gross settlement dan continuous linked settlement. Dengan konsep ini, secara drastis risiko penyerahan valuta asing menjadi berkurang, di mana penyerahan valuta asing didasari keamanan transaksi dengan sistem penyerahan payment versus payment. Payment system board dari bank sentral terus melakukan inovasi untuk menciptakan efisiensi dari sistem pembayaran, misalnya dengan memperkenalkan best practice, siklus kliring cek yang harus selesai dalam tiga hari. Lembaga ini juga menjadi otoritas dari kartu kredit dan kartu debit di Australia. Setiap regulasi baru dalam sistem pembayaran yang berorientasi keamanan selalu ditantang dengan kondisi munculnya inovasi-inovasi baru. Setiap strategi selalu memperhitungkan kemungkinan munculnya inovasi baru. Dengan kata lain, sistem pembayaran Australia tidak hanya bersifat technology led growth, tetapi juga innovation led growth.
Efisiensi dari sistem pembayaran Australia dapat terlihat ketika krisis ekonomi menghantam dunia pada 2008 lalu di saat nilai transaksi RTGS harian meningkat sebesar hanya 45% dan nilainya meningkat sebesar 1,05 kali. Yang kemudian berangsur-angsur mengalami penurunan. Kapasitas peak dari sistem pembayaran didesain tidak melebihi 80%. Volume rata-rata transaksi harian dalam periode jangka panjang, menengah, dan pendek juga terus memperlihatkan tren yang meningkat. Secara nilai adalah nilai transaksi di bawah US$1 juta yang nilai rata-rata hariannya terus mengalami kenaikan. Sesuai dengan yang dikemukakan Irving Fisher pada tahun 1920-an, mana ia mengamati kondisi krisis pada tahun 1800-an bahwa ancaman keamanan dari sistem keuangan akan berkorelasi dengan konjungture riil perekonomian. Peningkatan utang, resesi, dan deflasi merupakan sumber dari munculnya masalah keamanan di dalam perekonomian. Pengetahuan akan sejarah inilah yang membuat pembuat kebijakan dalam sistem pembayaran Australia terus melakukan pembaharuan sehingga tidaklah juga mengherankan jika sistem moneter dan sistem pembayaran selalu berjalan beriringan. Naiknya tingkat suku bunga di Australia baru-baru ini sebetulnya telah dikompensasi dengan semakin murahnya biaya transaksi akibat sistem pembayaran yang semakin efisien. Otoritas moneter sudah memperhitungkan bahwa secara riil dalam konteks transaksi keuangan akan membuat biaya modal sebetulnya terus mengalami penurunan. Konsekuensinya, dalam konteks Australia, nilai transaksi harian dari Austraclear mencapai rasio sebesar 25% dari nilai harian RTGS. Artinya, ancaman langsung dari besarnya utang terhadap keamanan sistem pembayaran sebetulnya cukup signifikan. Hal ini dapat terjadi karena diterapkannya sistem algoritma yang mendukung efisiensi dalam likuiditas yang bernama next down looping. Sistem algoritma ini telah terbukti dalam mendukung efisiensi secara likuiditas ketika krisis ekonomi terjadi pada 2008. Sistem gridlock hanya dapat dihindari jika sistem algoritma next down looping dapat berjalan dengan baik. Hal ini juga dapat dilihat dari likuiditas turnover yang dengan berjalannya waktu terus mengalami penurunan. Saat ini angka likuiditas turnover sudah mencapai 10. Artinya, krisis ekonomi tahun 2008 tidak mengganggu program likuiditas saving dari sistem pembayaran. Dengan kata lain, teknologi likuiditas saving-nya bersifat bias terhadap kemajuan teknologi dan netral terhadap krisis ekonomi. Dengan kualitas sistem teknologi sistem pembayaran yang seperti ini, perekonomian Australia memiliki daya tahan secara sistem terhadap gempuran globalisasi melalui dampak volatilitas pasar modal dan keuangan dunia seperti yang baru saja diprediksikan IMF. Australia memang belajar banyak dari Simmel!
Oleh Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar