Oleh: Mia Chitra Dinisari & Th. D. Wulandari
JAKARTA: Japan International Corporation Agency (JICA) mengisyaratkan menyetujui besaran anggaran pinjaman proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) tahap II rute Bundaran HI-Kampung Bandan mencapai Rp10 triliun.
JICA bahkan telah mengirimkan dokumen hasil evaluasi pinjaman atau fact funding mission kepada PT MRT Jakarta yang berisi kesepakatan dari beberapa perubahan di tahap II sebagai upaya realisasi operasional MRT pada 2018.
"Artinya sudah ada sinyal dari JICA, kita bisa teruskan dengan perubahan tersebut. Estimasi anggarannya antara Rp8 triliun hingga Rp10 triliun," ujar Dirut MRT Jakarta Tribudi Rahardjo, kemarin.
Perubahan yang dimaksud adalah perubahan desain rute. Semula proyek MRT tahap I mengambil rute Lebak Bulus-Dukuh Atas dilanjutkan kemudian tahap II dengan rute Dukuh Atas-Kampung Bandan.
Namun karena pertimbangan letak Stasiun Dukuh Atas yang sudah sangat ramai, rute berubah menjadi Lebak Bulus-Bundaran HI dilanjutkan Bundaran HI-Kampung Bandan.
Akibat perubahan rute tersebut MRT Jakarta harus menambah 900 meter rute stasiun bawah tanah yang otomatis akan memengaruhi perubahan biaya pembangunan fisik yang mengubah skema besaran pinjaman dari pihak JICA kepada MRT Indonesia
"Fact funding ini mengukur ulang dari Dukuh Atas ke HI dan dari HI ke Kampung Bandan. Dan untuk perubahan tahap II tersebut sudah tidak ada masalah lagi. Bahkan JICA sudah memberikan green light untuk memberikan pinjaman itu," ujar Tribudi.
MRT Koridor Selatan-Utara sepanjang 21,7 kilometer akan dibangun dalam dua tahap. Tahap I dengan rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI) sepanjang 15,5 kilometer yang terdiri dari 9,5 kilometer stasiun layang dan 6 kilometer stasiun bawah tanah. Tahap II dengan rute Bunderan HI-Kampung Bandan sepanjang 6,2 kilometer yang terdiri 8 stasiun bawah tanah.
Kegiatan fisik MRT tahap I rencananya dimulai pada 2012 dan ditargetkan rampung 2016. Saat ini, prosesnya tengah dalam pembuatan desain dasar yang dimulai sejak November 2009 dan diharapkan rampung selama 14 bulan.
Adapun pekerjaan fisik tahap II diperkirakan dimulai 2015, atau 3 tahun sebelum operasional. Untuk tahap ini, akan dibangun delapan stasiun bawah tanah. Selain percepatan tahap II itu, kemungkinan besar untuk tahap III dengan rute Balaraja-Cikarang juga akan dipercepat.
Koridor MRT Timur-Barat yakni Balaraja-Cikarang akan dibagi dalam tiga tahap, di mana tahap pertama direncanakan rampung dibangun pada 2020 dari rencana semula pada 2024. Adapun tahap selanjutnya akan dilaksanakan paralel dengan pelaksanaan tahap awal tersebut. Saat ini, tahap III tengah masuk dalam prastudi kelayakan dan ditargetkan beroperasi pada 2027.
Fokus tahap I
Sementara itu, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan untuk besaran biaya pembangunan proyek MRT tahap II masih dalam proses pengkajian, pasalnya saat ini mereka masih fokus dalam pelaksanaan proyek MRT tahap I yang baru memasuki tahap pembuatan desain dasar.
Untuk sumber pendanaan dia mengatakan kemungkinan masih berasal dari JBIC, tapi tidak menutup kemungkinan pihak lain yang tertarik untuk masuk. "Peluang masih ada, dan semuanya akan dikaji sesuai ketentuan yang berlaku."
Dihubungi terpisah, Sekretaris Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Nugroho Indriyo mengatakan sumber pendanaan memang kemungkinan berasal dari JBIC, karena proyek MRT sudah memiliki komitmen dengan JICA sejak awal.
"Untuk sumber pendanaan lain yang berminat semua bisa saja, tapi yang sekarang menjadi konsep skema pembiayaan dari JICA sebagai pemegang komitmen sejak awal." (er)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar