JAKARTA - Sektor kelistrikan masih memerlukan investasi tinggi. Tahun depan setidaknya diperlukan USD 9,739 miliar (sekitar Rp 87,6 triliun) untuk investasi sektor kelistrikan di tanah air. Angka itu naik 19,9 persen daripada investasi tahun ini yang masih USD 8,122 miliar. Hingga 2019 nanti, kebutuhan investasi sektor listrik diperkirakan mencapai USD 97,1 miliar.
''Itu dibutuhkan untuk menyeimbangkan pertumbuhan kebutuhan listrik 9,2 persen per tahun,'' ujar Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang di kantornya kemarin (6/9). Jika dilihat berdasar daerah operasi, angka pertumbuhan kelistrikan di Jawa-Bali diprediksi 8,97 persen per tahun. Kemudian, Indonesia Barat 10,2 persen per tahun dan Indonesia Timur 10,6 persen per tahun.
Dari total rencana investasi tersebut, lanjut dia, sekitar USD 6,605 miliar untuk pembangunan pembangkit 6.248 megawatt (MW). Dari total kapasitas yang akan dibangun tersebut, sekitar 4.985 MW dikerjakan PLN dan sisanya digarap kontraktor listrik swasta (independent power producer/IPP). ''Sekitar USD 2,045 miliar untuk transmisi dan USD 781,2 miliar untuk distribusi,'' bebernya.
Rencananya, sumber pendanaan berasal dari PLN, APBN 2011, pinjaman pemerintah, utang luar negeri, serta pinjaman dari lembaga keuangan dunia, seperti ADB, JICA, dan Bank Dunia. ''Yang lainnya IPP. Mereka kan bisa dapat bantuan dari mana-mana,'' ujarnya.
BUMN setrum itu kemarin meluncurkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2010-2019 yang berisi rencana strategis penyediaan listrik nasional dalam waktu sepuluh tahun ke depan. RUPTL itu ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 2026.K/20/MEM/2010 tertanggal 8 Juli 2010.
RUPTL itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN). Bisa dikatakan RUPTL adalah turunan dari RUKN. Di dalam RPUTL tergambar informasi tentang prakiraan pertumbuhan demand listrik, serta rencana pengembangan pembangkit, transmisi, dan distribusi. Kemudian indikasi proyek PLN dan IPP, proyeksi fuel mix dan kebutuhan energi primer, serta kebutuhan investasi.
Dalam RUPTL disebutkan, penambahan pembangkit listrik untuk seluruh Indonesia sampai 2019 diperkirakan mencapai 55.484 MW dengan rata-rata penambahan pembangkit per tahun 5.500 MW. Sebagian besar penambahan pembangkit dari PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). ''Dari total penambahan pembangkit itu, 31.958 MW dari pembangkit PLN dan 23.525 MW dari IPP,'' tuturnya.
Penambahan pembangkit terbesar dalam sepuluh tahun ke depan berada di wilayah operasi Jawa-Bali yang mencapai 36.222 MW. Lalu disusul Indonesia Barat 12.365 MW dan Indonesia Timur 6.896 MW. ''Di sisi pengembangan transmisi dan distribusi, direncanakan hingga 2019 dapat dibangun 43.455 kms jaringan transmisi dengan pertambahan kapasitas trafo/gardu induk mencapai 116.722 MVA (megavolt ampere),'' sebutnya. (wir/c2/oki)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar