Sabtu, 18 September 2010

BRI Incar Harga Rp3.000–5.000

JAKARTA(SINDO) – PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk berharap harga saham perusahaan setelah pemecahan nilai saham (stock split) berkisar antara Rp3.000–5.000 per saham.

“Mungkin Rp3.000–5.000. Maksimum Rp5.000 dan minimum Rp3.000,” kata Direktur Utama BRI Sofyan Basir di Jakarta kemarin. Menurut dia, manajemen masih memproses rencana pemecahan nilai saham tersebut, termasuk rasio pemecahan nilai nominal sahamnya. Pasalnya, menurut dia, rasio antara 1:2 hingga 1:4 jika dipatok Rp5.000 dinilai masih mahal.Terlepas dari itu,imbuh dia, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang saham BRI sudah memberikan persetujuan terhadap aksi korporasi itu. Karena itu, Sofyan yakin rencana pemecahan nilai saham itu bisa terealisasi tahun ini. “Surat persetujuan dari Kementerian BUMN diperkirakan keluar pekan depan,” tuturnya.

Mengenai jadwal memasukkan dokumen pendaftaran menurut dia akan dilakukan setelah surat administrasi rampung. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan siap menindaklanjuti rencana pemecahan nilai nominal saham BRI. Otoritas bursa menyatakan bakal menyetujui aksi korporasi itu sepanjang tidak merugikan pemegang saham publik. ”Tapi hingga kini (kemarin), kami belum terima dokumennya,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito kemarin. Dia mengatakan, saat ini BEI masih menunggu proposal dari manajemen BRI.Selanjutnya,otoritas akan menindaklanjuti rencana tersebut apakah sesuai dengan aturan pasar modal.

“Kami juga akan berdiskusi dahulu sebelum menyetujui rencana itu,”jelas Eddy. Pada prinsipnya, lanjut dia, kajian tersebut bertujuan agar pemegang saham publik tidak dirugikan. Untuk itu diperlukan data yang lengkap, khususnya terkait jumlah saham beredar.“Sizenya seperti apa itu penting, kami akan tunggu dari pihak manajemen,” katanya. Seperti diketahui, manajemen BRI sebelumnya menyatakan akan melakukan pemecahan nilai saham dengan rasio 1:2 atau 1:4. Besaran rasio pastinya masih menunggu persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa pada November atau Desember mendatang. Menurut Sofyan, jika pemegang saham menyetujui, perseroan segera merealisasikan rencana tersebut.

Saat ini perseroan belum menunjuk lembaga penunjang untuk merealisasikan rencana tersebut, termasuk penjamin pelaksana emisi (underwriter). Secara terpisah, analis PT UOB Kay Hian Securities Gema Merdeka menilai, rencana BRI untuk melakukan stock split sangat bagus.Menurut dia, investor akan menyambut baik pengurangan harga tersebut sehingga saham berkode BBRI ini akan lebih likuid.“Tentu ini bagus karena harganya semakin terjangkau,”katanya kemarin. Menurut Gema, dengan target harga saham pascapemecahan nilai di kisaran Rp3.000–5.000, pelaku pasar diperkirakan lebih memilih saham bank dengan predikat laba tertinggi di Indonesia ini.

“Selain didukung fundamental yang kuat, price earning BBRI tergolong bagus sehingga layak sebagai portofolio investasi. Kalau harganya menjadi Rp3.000 hingga Rp5.000, investor pasti banyak yang pilih BBRI dibandingkan saham perbankan lain yang berada di kisaran harga tersebut,”tuturnya. Meski demikian,lanjut dia,aksi korporasi tersebut jangan sampai merugikan pemegang saham publik. Untuk itu, diperlukan kajian lebih lanjut terkait jumlah saham yang beredar pascaaksi tersebut. (jerna/whisnu bagus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar