Sabtu, 04 September 2010

BI Coba Redam Inflasi

JAKARTA (SINDO) – Bank Indonesia (BI) mengeluarkan peraturan baru mengenai kenaikan giro wajib minimum (GWM) perbankan.Ini sebagai langkah meredam banjir likuiditas yang bisa memacu inflasi.

Berdasarkan peraturan tersebut, GWM primer naik dari 5% menjadi 8% dari dana pihak ketiga (DPK). “Mempertimbangkan ada potensi tekanan inflasi ke depan, Dewan Gubernur BI merasa penting untuk menaikkan rasio GWM primer dari 5% menjadi 8% dari DPK rupiah mengingat jumlah kelebihan likuiditas masih besar,” kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta kemarin.

Dengan penambahan GWM primer sebesar 3%, BI akan memberi remunerasi sebesar 2,5% per tahun.“Kombinasi kebijakan tersebut dipandang memadai untuk menjaga stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan di tengah arus modal yang masih tinggi,” tutur Darmin. Bersamaan dengan kenaikan GWM, BI mematok rasio penyaluran kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio) di kisaran 78-100% agar kredit perbankan tumbuh dengan tetap berlandaskan pada prinsip kehati-hatian.

“Bank dengan LDR di luar kisaran tersebut akan dikenakan disinsentif berdasarkan selisih terhadap target. Apabila LDR bank melebihi target dengan kondisi permodalan yang memadai,bank dapat memperoleh insentif,”ujar Darmin. Aturan baru mengani GWM diterapkan mulai 1 November 2010, sedangkan ketentuan LDR berlaku mulai 1 Maret 2011.

Dengan begitu, perbankan diharapkan memiliki waktu cukup untuk menyesuaikan diri. Selain melalui instrumen GWM,bank sentral juga mencoba menghambat laju inflasi dengan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6,5%. Dengan begitu, besaran BI Rate ini sudah bertahan selama 14 bulan.

Sedot Likuiditas

Menurut Darmin, kombinasi kebijakan mempertahankan BI Rate dan menaikkan GWM primer ini akan menarik ekses likuiditas secara permanen.Kendati demikian, dia menilai inflasi tetap akan melampaui target awal yaitu di kisaran 5% plus minus 1%. Berdasarkan pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya, inflasi tahun kalender (Januari–Agustus 2010) sebesar 4,82%.

Sementara inflasi tahunan (year on year) mencapai 6,44%. “Kami akan berusaha berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga inflasi tetap sesuai target awal,”ucap Darmin. Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan, ekses likuiditas di pasar saat ini mencapai Rp300 triliun. Dengan kebijakan menaikkan GWM primer,diharapkan bisa menarik likuiditas sebesar Rp50 triliun.

“Ekses likuiditas ini harus dikelola dengan baik agar tidak berdampak ke inflasi,”tegasnya. Menurut Budi, kebijakan ini diambil karena seluruh indikator pascakrisis sudah menunjukkan posisi normal.“Waktu akhir 2008 kita lakukan pelonggaran GWM. Memang saat itu banyak negara yang sektor keuangannya mengalami tekanan.

Tetapi, seluruh indikator sudah kembali normal sekarang,”tuturnya. Deputi Gubernur BI Muliaman Darmansyah Hadad menambahkan, terkait ketentuan LDR yang baru, jika ada bank yang memiliki rasio lebih kecil dari batas minimal yang ditentukan, akan dikenakan disinsentif berupa tambahan GWM sebesar 0,1% dari DPK rupiah untuk setiap 1% kekurangan LDR.

Sementara untuk bank dengan LDR lebih tinggi dari batas atas dan memiliki rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) lebih kecil dari 14%,akan dikenakan disinsentif berupa tambahan GWM sebesar 0,2% dari DPK rupiah untuk setiap 1% kelebihan LDR. Dengan kebijakan tersebut, lanjut Muliaman, diharapkan intermediasi semakin tumbuh, khususnya di tahun depan.

Apalagi, perbankan menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 22- 24% hingga akhir tahun ini. Ekonom HSBCWellianWiranto menilai,langkah menaikkan GWM efektif untuk meredam laju inflasi. “Kebijakan ini memang dapat membantu mengatasi potensi inflasi meski tidak seefektif suku bunga,”ujarnya. Ekonom BNI Ryan Kiryanto berpendapat,tren inflasi ke depan semakin melandai dengan inflasi tertinggi terjadi pada Juni.

“Setelah Lebaran, inflasi akan lebih rendah,”ucapnya. Dia menambahkan, BI juga akan mempertahankan suku bung acuannya di level 6,5% hingga akhir tahun mengingat aliran dana asing yang masuk (capital inflow) masih besar.“Meski masih di level 6,5%, kondisi tersebut tidak akan berpengaruh negatif ke pasar,” tandasnya. (didik purwanto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar