Pekan lalu,Republik Rakyat China (RRC) “resmi” menjadi kekuatan ekonomi yang kedua di dunia setelah “menyalip” Jepang. Produk domestik bruto (PDB) RRC sekarang USD5 triliun per tahun, sedangkan Jepang berkisar pada USD4,9 triliun per tahun.
Amerika Serikat tetap nomor satu dengan PDB USD14,5 triliun per tahun. Data dan angka PDB sering kali berbeda-beda menurut badan pemerintah/ lembaga swasta yang menerbitkannya. Lagipula, PDB adalah ukuran agregasi (penjumlahan) tentang seluruh produk barang dan jasa yang “dihasilkan” suatu negara dalam kurun satu tahun. PDB adalah bilangan metrik yang bersifat makro, tidak memerinci “kekuatan”mikro yang ada dalam negara.
Meskipun demikian besaran angka PDB USD5 triliun untuk RRC yang berpenduduk 1,3 miliar menandakan bahwa RRC sudah menjadi “kekuatan dunia”. Bahkan dalam pemberitaan beberapa media internasional pekan lalu, tampil gambar kekuatan militer RRC dengan kehadiran sejumlah kapal selam di sepanjang pantai selatan negeri itu. Penampilan berita tentang besaran ekonomi RRC bersamaan dengan kapal selam yang kini dimilikinya adalah bagian dari “lomba” citra kekuatan yang sering dilakukan oleh kalangan media, bisnis, dan konsultan bisnis mancanegara.
Kalangan ini juga tidak lepas dari penjualan “jasa” hubungan masyarakat perusahaan Amerika Serikat,Eropa,dan Asia yang langsung atau tidak langsung mendapat keuntungan dari jasa publikasi tentang perkembangan RRC. Perusahaan bisnis Goldman Sachs, misalnya, sejak awal tahun 2000 menggambarkan bahwa pada tahun 2050 PDB RRC akan menjadi yang terbesar di dunia dan Amerika Serikat akan turun ke peringkat ketiga atau keempat. Goldman Sachs meramalkan 40 tahun lagi Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nasional yang masuk dalam “10 besar dunia” bersama dengan India,Brasil,Rusia, Turki, dan sejumlah perekonomian lain di dunia.
Bias Angka
Sambil menyimak angka dan data yang menakjubkan secara kasatmata,ada baiknya kita kaji ulang makna dari “kekuatan China”secara lebih terperinci dan berimbang. Pertama, angka-angka besaran PDB tidak selamanya sama dengan “kekuatan”. Dalam bahasa asing dikenal ungkapan “size is not necessarily the same as strength”.Angka PDB China sebagian besar adalah hasil produksi perekonomian China di pusat-pusat ekonomi, industri, dan keuangan di sepanjang pantai selatan China,yang berpusat di Shanghai.Pusat atau zona ekonomi tersebut diperkirakan mencakup 75% seluruh produksi barang dan jasa sektor industri, manufaktur, dan keuangan China.
Zona-zona eksklusif ini sejak awal tahun 1980- an dibanjiri investasi perusahaan perusahaan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Timur Tengah yang melihat zona-zona itu sebagai pusat produksi manufaktur yang banyak dan murah.Lebih dari 50% investasi dunia selama 1980–1995 dipusatkan ke zona-zona eksklusif China.Ratusan pabrik manufaktur di mancanegara,termasuk di Amerika Utara, Eropa,Amerika Latin, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, gulung tikar akibat daya saing buruh murah China.
Kedua, ketergantungan China pada energi dan sumber mineral dari mancanegara (semisal minyak dan gas, biji besi dari Brasil,Peru, Afrika) membuat China memperkuat diplomasi sumber daya alam/ mineral. Lima tahun lalu China membangun Gedung Kementerian Luar Negeri Timor Leste, sekarang sedang membangun markas besar tentara di Dili, bagian dari upaya untuk mengakses minyak dan gas di Celah Timor.
Jika pada 2000 China perlu mengimpor minyak 15 juta barel/hari, China sekarang harus mengamankan 25 juta barel/hari demi mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi di atas 9% setahun. Jaringan perkapalan untuk menyuplai minyak dan gas dari mancabenua itu harus melalui samudera, laut, dan selat-selat yang sampai sekarang masih didominasi angkatan laut dan pangkalan udara Amerika Serikat.
Belum lagi pengamanan jalur perkapalan untuk ekspor China ke mancabenua pun dikuasai oleh kapal, pesawat,dan tentara Amerika Serikat di Asia,Timur Tengah, Afrika,Eropa,dan Amerika Latin.Bagaimanapun ketergantungan China kepada Amerika Serikat masih tinggi, sama dengan keterkaitan kekayaan China yang “ditabung” dalam surat utang dolar di lembaga keuangan Amerika Serikat. Ketiga, sama dengan negara- negara berkembang lain (India, Brasil), China menghadapi lemahnya kelembagaan sosial, ekonomi, dan keuangan yang kokoh dan yang dapat mengatasi masalahmasalah besar seperti ketimpangan “pusat-daerah”,
ketimpangan “kaya-miskin”, dan ketimpangan “harapan-kenyataan” pada kalangan di luar orang-orang mampu dan mapan. Sebutlah jumlah 350 juta jiwa kelas menengah China yang senasib dengan 300 juta kelas menengah India atau 50 juta kelas menengah Brasil. Mereka menjadi sasaran bidik perusahaan asing yang menawarkan barang mewah, mobil, dan gaya hidup layaknya orang mapan di Eropa dan Amerika Utara. Namun, bagaimana nasib 900 juta lebih yang belum terangkat dari kemiskinan di China, 1 miliar di India,dan 95 juta di Brasil?
Variabel Lain
Seorang pengusaha Indonesia yang baru kembali dari China belum lama ini mengingatkan: “Pergilah ke sana dan belajarlah dari China sekarang. Tapi jangan terpukau dengan gedung-gedung pencakar langit di Shanghai atau kota-kota besar lain. Lihatlah kemiskinan dan ketimpangan di kotakota besar itu, lihat pula daerah pedalaman yang banyak polusi dan kerusakan lingkungan serta dampak buruk terhadap kesehatan rakyat perdesaan.” Ada hikmah dari pengamatan pengusaha Indonesia itu.
Sedikit banyaknya,peringatan itu berlaku pula untuk kelas menengah Indonesia. Sambil mengingatkan bahwa “kekuatan” suatu bangsa jangan diukur dari PDB semata.PDB China USD5 triliun/tahun, nomor dua di dunia? Lihat dulu, di balik angka menakjubkan itu.(*)
Juwono Sudarsono
Guru Besar
Universitas Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar