Senin, 23 Agustus 2010

Reviu RAPBN 2011

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi

PEKAN lalu, di depan sidang paripurna DPR, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011.

Ritual semacam ini selalu dilakukan sehari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan acap kali menjadi acuan dunia usaha dalam menyiapkan rencana kerja dan anggaran untuk tahun berikutnya. Oleh karena itu, akurasi prediksi pemerintah sungguh sangat diharapkan karena dengan demikian perencanaan dunia usaha akan menjadi lebih realistis. Artikel ini lebih menyoroti berbagai data pokok yang menjadi acuan dasar penyiapan RAPBN 2011 dan tidak akan memberikan komentar mengenai kebijakan fiskal.

Data pertama yang selalu menjadi acuan adalah pertumbuhan ekonomi. Dalam data pokok RAPBN 2011 disebutkan, pertumbuhan ekonomi untuk 2010 diperkirakan berada pada level 5,8%. Berdasarkan data semester I/2010, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sudah mengalami pertumbuhan tahunan 5,9% sehingga pertumbuhan ekonomi aktual sudah lebih tinggi dibandingkan prediksi awalnya. Sementara itu, dari data yang ada tampak terjadinya proses akselerasi dari pertumbuhan kuartal IV/2009 sebesar 5,4%, kuartal I/2010 sebesar 5,7%, dan kuartal II/2010 sebesar 6,2%.

Dengan telah berjalannya momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, bukan tidak mungkin pada kuartal III dan IV/2010 ini masih akan terjadi akselerasi lebih lanjut. Jika demikian, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2010 bukan tidak mungkin akan mencapai 6,2– 6,3%. Dengan prediksi semacam itu, pertumbuhan ekonomi untuk 2011 bukan tidak mungkin akan mencapai antara 6,5–7%. Proses akselerasi lebih lanjut akan terjadi karena tercapainya angka pendapatan per kapita sebesar USD3.000 (berdasarkan nilai tukar pasar) tahun ini yang menghasilkan kelas menengah yang jumlahnya lebih besar.

Barubaru ini Asian Development Bank (ADB) memperkirakan kelas menengah Indonesia telah mencapai 102 juta penduduk yang merupakan 46% dari total populasi.Angka ini ternyata jauh melampaui prediksi saya sebelumnya (The Rise of the Indonesian Middle Class,Jakarta Post 16 September 2008) yang mencapai jumlah 30 juta penduduk di tahun 2010 ini. Adapun PDB nominal (berdasarkan harga yang berlaku) diperkirakan mencapai Rp6.254 triliun pada 2010 dan Rp7.007 triliun pada 2011. Dalam semester I/2010, PDB nominal dilaporkan mencapai Rp3.072 triliun.

Berdasarkan pola musiman tahun sebelumnya, sangat mungkin PDB nominal tersebut akan mencapai lebih dari Rp6.400 triliun di 2010.Dengan nilai tukar Rp9.000 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2010 (selama semester I/2010 rata-rata nilai tukar dolar berada pada level Rp9.120), PDB nominal Indonesia akan mencapai lebih dari USD700 miliar sehingga akan menghasilkan pendapatan per kapita sekitar USD3.000.Ini berarti untuk tahun 2011, PDB nominalnya juga menjadi tampak terlalu rendah. Prediksi PDB nominal sebesar Rp7.007 triliun berarti hanya akan mengalami kenaikan sebesar Rp600 triliun sepanjang 2011 dibandingkan 2010.

Jika kuartal IV/2010 PDB nominal akan menghasilkan angka sekitar Rp1.700 triliun, PDB nominal kuartal I/2011 akan berada di atasnya. Jika diasumsikan PDB nominal kuartal I/2011 sebesar Rp1.725 triliun,angka ini sudah berada pada Rp227 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun 2010. Ini berarti sepanjang tahun 2011 sangat mungkin dihasilkan kenaikan PDB nominal sebesar Rp800 triliun–1.000 triliun sehingga sepanjang tahun 2011 akan dihasilkan PDB nominal antara Rp 7.200 triliun–7.500 triliun.

Asumsi pemerintah yang tertuang dalam data pokok RAPBN 2011 untuk tingkat inflasi sebesar 5,3% juga dirasakan menjadi konservatif jika kita melihat perkembangan terakhir ini.Tahun 2010, hingga Juli, inflasi sudah mencapai sekitar 4,02% dengan inflasi tahunan (year on year) 6,22%.Dengan perkembangan terakhir ini, inflasi sangat mungkin mendekati atau bahkan melampaui 7% pada 2010 dan sangat boleh jadi perkembangan tersebut akan terus berlanjut pada 2011.Tekanan inflasi yang bersifat cost pushmuncul dari anomali cuaca maupun pengurangan subsidi pupuk yang memengaruhi produksi dan harga bahan makanan serta sebagian yang bersifat demand pull karena pertumbuhan PDB yang relatif tinggi.

Mengingat pertumbuhan PDB nominal yang mencapai sekitar 14,7% pada semester I/2010 di mana selisihnya dengan pertumbuhan PDB riil yang dilaporkan sebesar 5,9% menjadi sekitar 8,8% (lebih tinggi dibandingkan Inflasi IHK 6,2%), maka selisih tersebut sebetulnya akan tecermin pada inflasi yang lebih tinggi atau pertumbuhan PDB yang lebih tinggi dari yang dilaporkan. Dengan keadaan itu, rencana kebijakan Bank Indonesia mendorong lebih lanjut perkreditan melalui ketentuan giro wajib minimum- loan to deposit ratio(GWMLDR) menjadi sangat dipertanyakan. Jika inflasi diperkirakan tetap tinggi, sedangkan inflasi adalah musuh utama Bank Indonesia, maka kebijakan yang harus diambil adalah mengerem pertumbuhan kredit atau menaikkan suku bunga.

Rencana penerapan kebijakan GWM-LDR tersebut berarti diagnosis Bank Indonesia tentang keadaan pertumbuhan ekonomi dan inflasi menjadi lebih rendah dari yang seharusnya sehingga Bank Indonesia harus repot-repot mendorong kredit lebih lanjut melalui pengenaan penalti bagi bank yang tidak mencapai LDR yang dikehendaki. Atau apakah informasi yang dimiliki Bank Indonesia sebetulnya sudah tertinggal (behind the curve) dibandingkan dengan keadaan ekonomi riil yang sungguhsungguh terjadi? Asumsi terakhir yang ingin disoroti di sini adalah prediksi tentang nilai tukar dolar terhadap rupiah yang mencapai Rp9.300 untuk 2011.

Saya yakin angka tersebut bukan berasal dari wishful thinking.Memprediksi nilai tukar merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu bisa dipahami jika banyak pertimbangan yang dilakukan pemerintah pada saat melakukan estimasi nilai tukar tersebut. Namun dengan perkembangan yang ada saat ini, kita bisa melihat, neraca pembayaran Indonesia mengalami surplus, baik dari neraca berjalan (current account) maupun dari neraca modal. Saya memperoleh banyak informasi mengenai begitu besarnya minat para investor, baik foreign direct investment (FDI) maupun portofolio,yang akan masuk ke Indonesia.

Ini berarti Bank Indonesia dihadapkan pada pilihan yang pahit. Jika nilai tukar ingin dipertahankan pada tingkat di atas Rp9.000,Bank Indonesia harus banyak melakukan intervensi sehingga cadangan devisa akan meningkat tajam.Namun biaya untuk melakukan itu menjadi terlalu berat untuk bank sentral.

Oleh karena itu, saya memperkirakan nilai tukar dolar terhadap rupiah akan berada di bawah Rp9.000 atau bahkan menurun lebih lanjut ke arah Rp8.500. Ini berarti nilai tukar rata-rata bisa berada di sekitar Rp8.700–8.800 di 2011. Barangkali dengan berbagai pandangan ini dunia usaha bisa memperkirakan ke manakah arah perekonomian kita di tahun 2011 mendatang ini.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar