JAKARTA: Rasio penyaluran kredit terhadap penghimpunan dana perbankan mencapai angka tertinggi setelah krisis ekonomi global mendera pada 2008. Meskipun fungsi intermediasi meningkat, penurunan dana masyarakat menjadi penyebab kenaikan indikator tersebut.
Berdasarkan data Bank Indonesia per 13 Agustus 2010, rasio kredit terhadap penghimpunan dana (loan to deposit ratio/LDR) meningkat mencapai 77,34%, lebih besar jika dibandingkan dengan akhir Juli 2009 sebesar 74,97%
Tren kenaikan indikator LDR itu terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya rasio kredit terhadap penghimpunan dana itu meningkat 58 basis poin dari semula76,76%.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi A. Johansyah mengatakan peningkatan penyaluran kredit yang tak diiringi oleh kenaikan dana pihak ketiga (DPK) membuat pertumbuhan LDR cukup signifikan.
Bank sentral mencatat dalam sepekan terakhir kredit naik sebesar Rp5,44 triliun menjadi Rp1.592,3 triliun, sehingga secara year to date kredit tumbuh 11,33% atau secara year on year meningkat 19,54%.
Peningkatan kredit bersumber dari pertumbuhan kredit rupiah Rp3,79 triliun dan valas Rp1,64 triliun. Secara tahunan, kredit rupiah tumbuh 21,82%, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kredit valas yang hanya 6,95%.
Dana masyarakat turun sebesar Rp8,4 triliun menjadi Rp2.058,79 triliun, sehingga secara year to date DPK hanya tumbuh 4,48%, atau secara year on year 13,84%.
“Turunnya DPK terutama disebabkan turunnya DPK rupiah sebesar Rp12,99 triliu, karena kontraksi antara lain setoran pajak serta pembayaran haji, sedangkan DPK valas meningkat Rp4,6 triliun,” kata Difi dalam pesan tertulis.
Menurut dia, jika dilihat data historis sejak 2001, pertumbuhan mingguan DPK yang melambat dalam tiga minggu terakhir merupakan pola musiman.
“DPK cenderung naik sejak bulan Januari sampai Juni, setelah itu cenderung turun selama kuartal III, kemudian cenderung naik lagi sampai akhir tahun,” paparnya. (ln)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar