JAKARTA: Ekonomi dari Indef Ahmad Erani Yustika menilai laju pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 6,7% karena laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia tengah tumbuh baik.
"Target pertumbuhan ekonomi 2011 seharusnya bisa mencapai 6,7%," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.
Untuk bisa mencapai laju pertumbuhan 6,7% tersebut, jelasnya, pemerintah harus mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan cara memberdayakan potensi ekonomi dalam negeri dan mempercepat penyerapan anggaran.
"Kalau di 2011 target pertumbuhan ekonomi pemerintah hanya 6,2%-6,5% itu menunjukkan pemerintah kita tidak mau bekerja keras," ujarnya.
Menurut Erani, pemerintah selama ini memang selalu konservatif dalam mematok target-target asumsi makroekonomi salah satunya pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, Dradjad Hari Wibowo, Ekonom Suistainabilitas Development Indonesia (SDI), menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 sebenarnya bisa digenjot lebih tinggi, minimal 6,7%-7,1%. Untuk mencapai itu, masalah utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah pasokan energi dan penguatan Rupiah yang berlebihan.
“Jika pasokan tidak cukup, growth bisa terseret turun ke sekitar 6% saja. Ancaman lain adalah overvaluasi Rupiah yang sudah mengganggu ekspor serta infrastruktur di daerah,” ujar dia kepada Bisnis, hari ini.
Menurutnya, memang ada faktor eksternal yang perlu diwaspadai pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pertama, potensi lonjakan harga pangan dan komoditas dunia sebagai akibat kebakaran di Rusia dan ketidak-menentuan iklim. Kedua, belum pulihnya kepercayaan global karena masih belum menentunya pemulihan sektor perbankan di AS.
“Tapi lonjakan harga pangan bisa dibalik menjadi pemicu growth kalau Indonesia mampu menggenjot produksi pangan. Terutama biji-bijian, gula, susu, daging, dan hortikultura. Jadi sektor pangan tahun depan berpotensi dijadikan salah satu pemicu pertumbuhan untuk mencapai minimal 6,7%,” tuturnya. (faa)
"Target pertumbuhan ekonomi 2011 seharusnya bisa mencapai 6,7%," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.
Untuk bisa mencapai laju pertumbuhan 6,7% tersebut, jelasnya, pemerintah harus mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan cara memberdayakan potensi ekonomi dalam negeri dan mempercepat penyerapan anggaran.
"Kalau di 2011 target pertumbuhan ekonomi pemerintah hanya 6,2%-6,5% itu menunjukkan pemerintah kita tidak mau bekerja keras," ujarnya.
Menurut Erani, pemerintah selama ini memang selalu konservatif dalam mematok target-target asumsi makroekonomi salah satunya pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, Dradjad Hari Wibowo, Ekonom Suistainabilitas Development Indonesia (SDI), menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 sebenarnya bisa digenjot lebih tinggi, minimal 6,7%-7,1%. Untuk mencapai itu, masalah utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah pasokan energi dan penguatan Rupiah yang berlebihan.
“Jika pasokan tidak cukup, growth bisa terseret turun ke sekitar 6% saja. Ancaman lain adalah overvaluasi Rupiah yang sudah mengganggu ekspor serta infrastruktur di daerah,” ujar dia kepada Bisnis, hari ini.
Menurutnya, memang ada faktor eksternal yang perlu diwaspadai pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pertama, potensi lonjakan harga pangan dan komoditas dunia sebagai akibat kebakaran di Rusia dan ketidak-menentuan iklim. Kedua, belum pulihnya kepercayaan global karena masih belum menentunya pemulihan sektor perbankan di AS.
“Tapi lonjakan harga pangan bisa dibalik menjadi pemicu growth kalau Indonesia mampu menggenjot produksi pangan. Terutama biji-bijian, gula, susu, daging, dan hortikultura. Jadi sektor pangan tahun depan berpotensi dijadikan salah satu pemicu pertumbuhan untuk mencapai minimal 6,7%,” tuturnya. (faa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar