Oleh: Makmun Syadullah
Pengamat ekonomi
Indonesia Finance Today, 3 Januari 2012
Kendaraan
bermotor, baik roda dua maupun roda empat, bagi sebagian besar masyarakat
Indonesia merupakan gaya hidup, namun bagi sebagian yang lain sudah menjadi
kebutuhan. Akibatnya dengan segala kemudahan yang diberikan kepada konsumen,
permintaan kendaraan bermotor semakin meningkat. Krisis yang masih akan membayangi
ekonomi global pada tahun 2013 kemungkinan tidak akan berdampak pada permintaan
kendaraan bermotor. Bahkan kalangan pelaku industri otomotif di Indonesia
optimistis permintaan mobil akan tetap tinggi.
Menurut
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), permintaan mobil
pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 1,1 juta unit, naik dari tahun 2011 yang
berkisar 850.000 unit. Perkiraan ini cukup masuk akal bahkan bisa lebih tinggi,
mengingat realisasi penjualan hingga Agustus 2012 yang telah mencapai 714 ribu
unit. Bahkan tahun depan para produsen kendaraan bermotor juga akan merilis
produk mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car/LGCC). Data
historis juga menunjukkan bahwa permintaan kendaraan bermotor pada saat krisis
2008 juga tidak mengalami penurunan.
Sementara
itu penjualan sepeda motor tahun depan diproyeksikan akan mencapai 7,2 juta
unit, jauh di atas proyeksi penjualan tahun 2012 yang mencapai sebanyak 6,7
juta unit. Proyeksi ini diperkirakan akan tercapai, mengingat pertumbuhan
penjualan masih ditopang oleh tingginya kebutuhan konsumen terhadap
kendaraan bermotor dan pertumbuhan ekonomi nasional yang mendorong daya beli.
Sejalan
dengan proyeksi penjualan kendaraan bermotor, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) juga akan meningkat.
Kuota BBM bersubsidi pada tahun 20013 diperkirakan akan membengkak dari asumsi sebesar
46 juta kiloliter menjadi 48,7 juta kiloliter. Pembengkakan ini juga dipicu
karena masih terjadinya inefisiensi konsumsi BBM serta praktik penyelundupan
dan penimbunan.
Faktor
perbedaan harga yang mencolok antara BBM bersubsidi dengan BBM nonsubsidi
merupakan pangkal dari inefisiensi konsumsi BBM serta praktik penyelundupan dan
penimbunan. Harga BBM bersubsidi yang jauh lebih murah dibanding harga BBM
nonsubsidi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak tertentu dengan cara diselundupkan
atau ditimbun sehingga bisa dijual kembali dengan harga normal.
Politik Subsidi
Melihat
akar permasalahan membangkaknya kuota subsidi BBM, maka langkah paling efektif
adalah dengan mengurangi subsidi. Solusi seperti ini sudah banyak disampaikan
oleh berbagai stake holder. Mereka berharap sebaiknya pemerintah mengambil
keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi pada awal tahun. Pilihan awal
tahun ini dapat membuat pemerintah leluasa dalam mengalokasikan anggaran untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pintu
untuk menurunkan subsidi BBM sudah terbuka lebar, mengingat pemerintah telah
diberi keleluasaan untuk menaikkan harga BBM apabila harga minyak mentah sudah
berada di atas asumsi pemerintah di APBN. Meski demikian nampaknya pemerintah masih
ragu-ragu apakah akan menurunkan subsidi BBM atau tidak. Hal ini nampak sekali,
menjalang pertengahan Desember, pemerintah masih belum punya keputusan.
Ada
kemungkinan pemerintah masih berhitung untung ruginya menurunkan subsidi BBM, baik
secara ekonomis maupun secara politis. Secara ekonomis, pengurangan subsidi BBM
akan berdampak pada makro ekonomi. Setiap kenaikan harga BBM sebesar 10 persen diperkirakan akan
berdampak terhadap inflasi sebesar 0,5 persen-0,7 persen. Dengan demikian
apabila pemerintah mengurangi subsidi BBM sebesar 30 persen, maka inflasi akan
naik kurang lebih 1,5 persen hingga 2,1 persen.
Sementara
itu secara politis kebijakan mengurangi subsidi BBM mungkin saja dinilai tidak
tepat, apalagi menjelang pelaksanaan
pemilu tahun 2014. Pengurangan subsidi
BBM tentunya akan membawa sejumlah konsekuensi politik. Partai-partai oposisi,
bahkan tidak menutup kemungkinan yang tergabung dalam partai koalisi, akan menolak
rencana kebijakan pengurangan subsidi BBM. Apalagi menjelang pemilu, para
politikus seolah berlomba menjadi pahlawan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Sepertinya
tidak ada pilihan bagi pemerintah, kecuali
mengurangi subsidi BBM. Disamping mempertimbangkan faktor ekonomis dan
politis, pemerintah perlu pula mempertimbangkan dampak subsidi pada pembangunan
infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang tersandera oleh subsidi BBM pada
akhirnya juga akan berdampak pada pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.
Beberapa
studi menunjukkan adanya kaitan antara pembangunan infrastruktur terhadap
pembangunan ekonomi. Hasil studi yang
dilakukan beberapa ahli ekonomi, menunjukkan bahwa terdapat hubungan kausalitas
antara investasi di bidang infrastruktur dengan pembangunan ekonomi (Aschauer, 1991). Pertanyaannya adalah masihkah pemerintah akan
tetap mengorbankan pembangunan infrastrurtur demi membela subsidi BBM yang
secara nyata salah sasaran, namun secara politis menguntungkan.
Mempertahankan
subsidi BBM sejatinya hanya akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka
panjang. Dengan system politik yang ada,
nampaknya penguasa lebih senang dicitrakan “seolah” lebih pro rakyat kecil.
Keputusan mengurangi subsidi BBM tentunya akan diserahkan pada penguasa periode
berikutnya. Penguasa berikutnya bisa jadi akan berpandangan yang sama, karena
mereka akan berhitung dengan risiko politik.
Para politikus lebih senang mengorbankan peluang untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi jangka panjang, meski dengan konsekuensi akan menambah
beban anggaran melalui penambahan utang Negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar