http://investasi.kontan.co.id/news/suku-bunga-fed-sebabkan-mata-uang-asia-perkasa
KUALA LUMPUR. Sebagian besar mata uang Asia mencatatkan
penguatan terhadap dolar AS. Hal itu dapat dilihat dari pergerakan
Bloomberg-JPMorgan Asia Dollar Index yang kian mendekati level tertinggi
sejak 1 November lalu. Sepanjang bulan ini, Asia Dollar Index naik
1,6%, yang merupakan kenaikan terbesar Januari sejak 2006 lalu.
Sementara itu, pada pukul 10.55 waktu Kuala Lumpur, ringgit Malaysia terapresiasi 2,1% di sepanjang pekan ini ke level 3,0411 per dolar. Sementara, peso Filipina terapresiasi 1% menjadi 42,825, won Korea Selatan menguat 1,1% menjadi 1.121,89, dan baht Thailand menguat 0,8% menjadi 31,30.
Apresiasi mata uang Asia didongkrak oleh tingginya permintaan aset-aset dengan yield tinggi setelah the Federal Reserve memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuannya pada level rendah hingga 2014 mendatang.
"Mata uang regional mendapatkan suntikan besar pada pekan ini dari spekulasi bahwa suku bunga rendah akan menarik dana asing masuk ke kawasan regional," urai Kozo Hasegawa, trader Sumitomo Mitsui Banking Corp di Bangkok. Dia menambahkan, kendati begitu, isu krisis Eropa masih menyelimuti pasar. "Sehingga sulit melihat penguatan mata uang Asia yang berkelanjutan ke depannya," jelas Hasegawa.
Sementara itu, pada pukul 10.55 waktu Kuala Lumpur, ringgit Malaysia terapresiasi 2,1% di sepanjang pekan ini ke level 3,0411 per dolar. Sementara, peso Filipina terapresiasi 1% menjadi 42,825, won Korea Selatan menguat 1,1% menjadi 1.121,89, dan baht Thailand menguat 0,8% menjadi 31,30.
Apresiasi mata uang Asia didongkrak oleh tingginya permintaan aset-aset dengan yield tinggi setelah the Federal Reserve memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuannya pada level rendah hingga 2014 mendatang.
"Mata uang regional mendapatkan suntikan besar pada pekan ini dari spekulasi bahwa suku bunga rendah akan menarik dana asing masuk ke kawasan regional," urai Kozo Hasegawa, trader Sumitomo Mitsui Banking Corp di Bangkok. Dia menambahkan, kendati begitu, isu krisis Eropa masih menyelimuti pasar. "Sehingga sulit melihat penguatan mata uang Asia yang berkelanjutan ke depannya," jelas Hasegawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar