Rabu, 20 April 2011

Pemerintah belum khawatir terhadap pelemahan rupiah belakangan ini

JAKARTA. Setelah menguat untuk beberapa bulan, tetapi rupiah mulai melemah dalam beberapa hari terakhir ini. Data Bank Indonesia menunjukkan, dari hari jumat pekan lalu rupiah tercatat di Rp 8.661 per dollar AS, kemudian melemah hingga hari ini menjadi Rp 8.686 per dollar AS.


Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai selama rupiah masih belum jauh dari Rp 9.000 per dollar AS, masih produktif untuk perekonomian dalam negeri.

Bambang menganggap melemahnya rupiah serta hengkangnya kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) masih sebagai dinamika pasar. "Tetapi yang paling penting pemerintah selalu waspada dan siap menangkal kondisi yang terburuk,” ujarnya, Selasa (19/4).

Pengamat Ekonomi dari Universitas Atmajaya A Prastyantoko menyebut, melemahnya rupiah saat ini akibat dari mulai pulihnya kondisi global, yang ikut memukul rupiah. "Dengan membaiknya ekonomi Eropa, dan sedikit meredanya konflik Timur Tengah, serta mulai melandainya harga minyak dunia membuat investor asing mulai mengalihkan infestasinya tidak lagi di negara emerging market," katanya.

Namun, Prastyantoko menilai, pelemahan ini hanya bersifat sementara. Ditambah dengan predikat Amerika yang dinilai negatif oleh S&P akan membuat Indonesia kembali dibanjiri dana asing. "Jadi saya rasa penurunan rupiah ini hanya berlangsung beberapa hari saja," prediksinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar