JAKARTA. Pemerintah mengaku hingga saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia belum dikategorikan kepanasan. Menko Perekonomian Hatta Rajasa masih menilai kondisi makro ekonomi Indonesia masih cukup baik.
Hal itu terlihat dari indikator-indikator makro ekonomi. Meski demikian, Hatta menegaskan ada hal-hal yang harus diperhatikan, khususnya pengendalian inflasi. "Saya kok melihat ekonomi kita makronya cukup baik. Rapat bulanan kita cukup bagus," kata Hatta, Senin (18/4).
Dia juga menyampaikan hal itu menanggapi Laporan World Economic Outlook (IMF) yang menilai bahwa ekonomi Indonesia termasuk ekonomi yang dianggap mulai kepanasan (overheating). Menurut Hatta, ada tiga hal yang harus diwaspadai, yakni inflasi, volatile food, dan harga minyak.
"Inflasi. Saya kira semua dunia juga sedang mempersoalkan inflasi. Kita bersyukur kuartal pertama Februari Maret bagus. Saya berharap April deflasi," ujar Hatta. Hatta menambahkan kalau volatile food juga dialami semua negara, begitu pula dengan harga minyak.
Terkait dengan capital inflow, Hatta berpendapat, "Sampai sekarang saya menganggap jauh lebih baik ada capital inflow ketimbang tidak ada flow sama sekali. Yang penting bagaimana pemanfaatan capital inflow pada instrumen jangka menengah dan panjang," ucapnya.
Hatta lebih optimistis memandang capital inflow ini dibanding 2010. "Pada 2010 kira-kira US$ 12 miliar masuk ke investasi (foreign direct investment), US$ 16 miliar kira-kira di portofolio. Kita harapkan lebih baik lagi, meningkat sepanjang ekonomi kita baik seperti saat ini, tidak ada gangguan," kata Hatta. Lembaga rating juga positif memosisikan Indonesia.
Seperti diketahui, IMF menganggap ekonomi Indonesia mulai kepanasan berdasarkan beberapa indikator, yakni pertumbuhan ekonomi dianggap terlalu cepat; angka pengangguran dianggap terlalu rendah, dan inflasi terlalu tinggi yang menunjukkan ekonomi “kepanasan”.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu cepat dan belum tergolong “overheating”.
IMF sendiri menilai perekonomian tumbuh cepat karena IMF membandingkannya dengan periode sebelum krisis global terakhir (2002-2007). Dalam periode tersebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1 persen. "Ini tidak cukup untuk mengurangi angka pengangguran secara berkesinambungan," terang Edy.
Pada periode 2002-2007 perekonomian Indonesia belum pulih sepenuhnya dari dampak krisis 1997-1998. Potensi pertumbuhan sebenarnya lebih tepat digambarkan oleh laju pertumbuhan 1986-1996, di sekitar 6,8 %. "Saat ini ekonomi kita masih tumbuh di bawah 6,8%. Jadi, belum kepanasan," tutupnya.
Hal itu terlihat dari indikator-indikator makro ekonomi. Meski demikian, Hatta menegaskan ada hal-hal yang harus diperhatikan, khususnya pengendalian inflasi. "Saya kok melihat ekonomi kita makronya cukup baik. Rapat bulanan kita cukup bagus," kata Hatta, Senin (18/4).
Dia juga menyampaikan hal itu menanggapi Laporan World Economic Outlook (IMF) yang menilai bahwa ekonomi Indonesia termasuk ekonomi yang dianggap mulai kepanasan (overheating). Menurut Hatta, ada tiga hal yang harus diwaspadai, yakni inflasi, volatile food, dan harga minyak.
"Inflasi. Saya kira semua dunia juga sedang mempersoalkan inflasi. Kita bersyukur kuartal pertama Februari Maret bagus. Saya berharap April deflasi," ujar Hatta. Hatta menambahkan kalau volatile food juga dialami semua negara, begitu pula dengan harga minyak.
Terkait dengan capital inflow, Hatta berpendapat, "Sampai sekarang saya menganggap jauh lebih baik ada capital inflow ketimbang tidak ada flow sama sekali. Yang penting bagaimana pemanfaatan capital inflow pada instrumen jangka menengah dan panjang," ucapnya.
Hatta lebih optimistis memandang capital inflow ini dibanding 2010. "Pada 2010 kira-kira US$ 12 miliar masuk ke investasi (foreign direct investment), US$ 16 miliar kira-kira di portofolio. Kita harapkan lebih baik lagi, meningkat sepanjang ekonomi kita baik seperti saat ini, tidak ada gangguan," kata Hatta. Lembaga rating juga positif memosisikan Indonesia.
Seperti diketahui, IMF menganggap ekonomi Indonesia mulai kepanasan berdasarkan beberapa indikator, yakni pertumbuhan ekonomi dianggap terlalu cepat; angka pengangguran dianggap terlalu rendah, dan inflasi terlalu tinggi yang menunjukkan ekonomi “kepanasan”.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu cepat dan belum tergolong “overheating”.
IMF sendiri menilai perekonomian tumbuh cepat karena IMF membandingkannya dengan periode sebelum krisis global terakhir (2002-2007). Dalam periode tersebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1 persen. "Ini tidak cukup untuk mengurangi angka pengangguran secara berkesinambungan," terang Edy.
Pada periode 2002-2007 perekonomian Indonesia belum pulih sepenuhnya dari dampak krisis 1997-1998. Potensi pertumbuhan sebenarnya lebih tepat digambarkan oleh laju pertumbuhan 1986-1996, di sekitar 6,8 %. "Saat ini ekonomi kita masih tumbuh di bawah 6,8%. Jadi, belum kepanasan," tutupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar