Jumat, 01 April 2011

Meski sistem sudah canggih, perbankan tak kuasa melawan fraud

JAKARTA. Perbankan tak kuasa menghadapi kasus penyelewengan atau fraud yang menimpa sejumlah bank dalam beberapa waktu terakhir ini.

Seperti yang diketahui, sejumlah kasus penyelewengan yang dilakukan oleh karyawan bank dengan nilai mencapai miliaran rupiah. Sebut saja kasus Malinda Dee, mantan karyawan Citibank dengan dugaan penyelewengan dana mencapai Rp 17 miliar.
Ada juga bank Mandiri yang kebobolan bilyet deposito senilai Rp 18,7 miliar yang terjadi pada April 2009. Bank lain, Bank Negara Indonesia (BNI) nyaris kebobolan Rp 4,5 miliar dengan salah satu tersangkanya adalah Wakil Kepala Cabang BNI Cabang Depok.

Ketua Himpunan Bank Negara (Himbara) sekaligus Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Gatot Suwondo mengatakan, serentetan kasus ini sulit diantisipasi karena dilakukan oleh oknum. Gatot bilang, perbankan telah bersikap hati-hati dengan menerapkan sistem berlapis untuk mencegah terjadinya fraud.

"Bank-bank negara sistemnya sudah berlapis, sudah canggih. Tapi tidak bisa jamin ada bank yang hebat sekali sistemnya sehingga tidak terjadi fraud itu, karena ini disebabkan oleh orang yang tidak baik," tuturnya, Kamis (31/3).

Gatot bilang, nasabah juga harus berhati-hati agar kasus yang sama tidak terulang lagi. "Nasabah jangan menandatangani dokumen kosong, ini juga harus berhati-hati," ujarnya.

Direktur Retail Banking HSBC Indonesia Wawan Salum menegaskan, pihaknya juga menerapkan sistem yang ketat untuk mencegah fraud. "Kami menerapkan prinsip kehati-hatian. Di kita tidak ada fraud dan sistem kita ketat," tuturnya.

Wawan bilang, kuatnya sistem ini terlihat karena HSBC menjadi salah satu bank yang sanggup bertahan saat dihantam krisis 2008 lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar