JAKARTA: Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Maret 2011 terjadi deflasi -0,32%, yang merupakan tertinggi sepanjang 4 tahun terakhir.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan deflasi yang terjadi pada Maret 2011 disumbang oleh harga komiditas yang bergejolak. Dia menjelaskan deflasi ini tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Catatan tertinggi selama kurun waktu tersebut pernah terjadi deflasi -0,31% pada April 2009. Kemudian pada Januari 2009 deflasi -0,07% dan Desember 2008 sebesar -0,04%.
“Deflasi kali ini agak besar karena kita sudah menikmati harga yang tinggi dibulan-bulan sebelumnya menjelang akhir 2010,” ujar Rusman dalam konfrensi persnya hari ini.
Dia menjelaskan penyumbang deflasi Maret adalah adalah penurunan harga empat komoditas yakni cabe merah yang penurunan harganya 30,50% sehingga memberikan deflasi 0,23%. Kemudian beras yang penurunan harga secara nasional 3,54% memberikan 0,21% untuk deflasi. Selanjutnya cabe rawit yang penurunannya 19,57% dengan sumbangan 0,07% serta bawang merah yang turun 4,56% dengan sumbangan terhadap deflasi sebesar 0,03%.
Adapun laju inflasi Januari-Maret 2011 baru mencapai 0,70% dengan laju inflasi year on year 6,65%. Rusman menyebutkan yang menjadi penyumbang inflasi adalah telur ayam ras yang harganya naik 4,56% dan menyumbang 0,03% untuk inflasi. Bawang putih menyumbang inflasi 0,2% serta harga emas perhiasan yang naik 0,71% sehingga menyumbang 0,02% pada inflasi.
Rusman menyebutkan sumbangan inflasi sedikit diberikan atas kenaikan harga pertamax, yang pada Maret harga naik dari Rp8.100-Rp8.700 sehingga menyumbangkan 0,01% inflasi. “Karena penggunaan pertamax masih terbatas. Sebagaian besar masyarakat masih gunakan premium. Jadi sumbangan kontribusi inflasi pertamax di rumah tangga secara nasional masih sangat kecil.”
Dari 66 kota IHK (indeks harga konsumen) sebanyak 52 kota mengalami deflasi dan 14 kota inflasi. Deflasi tertinggi di Padang dengan -2,59% dan Dumai -2,34%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Palu dengan 0,67% dan Maumere sebesar 0,57%. Inflasi terendah terjadi di Banjarmasin 0,01%. (mrp)
Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan deflasi yang terjadi pada Maret 2011 disumbang oleh harga komiditas yang bergejolak. Dia menjelaskan deflasi ini tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Catatan tertinggi selama kurun waktu tersebut pernah terjadi deflasi -0,31% pada April 2009. Kemudian pada Januari 2009 deflasi -0,07% dan Desember 2008 sebesar -0,04%.
“Deflasi kali ini agak besar karena kita sudah menikmati harga yang tinggi dibulan-bulan sebelumnya menjelang akhir 2010,” ujar Rusman dalam konfrensi persnya hari ini.
Dia menjelaskan penyumbang deflasi Maret adalah adalah penurunan harga empat komoditas yakni cabe merah yang penurunan harganya 30,50% sehingga memberikan deflasi 0,23%. Kemudian beras yang penurunan harga secara nasional 3,54% memberikan 0,21% untuk deflasi. Selanjutnya cabe rawit yang penurunannya 19,57% dengan sumbangan 0,07% serta bawang merah yang turun 4,56% dengan sumbangan terhadap deflasi sebesar 0,03%.
Adapun laju inflasi Januari-Maret 2011 baru mencapai 0,70% dengan laju inflasi year on year 6,65%. Rusman menyebutkan yang menjadi penyumbang inflasi adalah telur ayam ras yang harganya naik 4,56% dan menyumbang 0,03% untuk inflasi. Bawang putih menyumbang inflasi 0,2% serta harga emas perhiasan yang naik 0,71% sehingga menyumbang 0,02% pada inflasi.
Rusman menyebutkan sumbangan inflasi sedikit diberikan atas kenaikan harga pertamax, yang pada Maret harga naik dari Rp8.100-Rp8.700 sehingga menyumbangkan 0,01% inflasi. “Karena penggunaan pertamax masih terbatas. Sebagaian besar masyarakat masih gunakan premium. Jadi sumbangan kontribusi inflasi pertamax di rumah tangga secara nasional masih sangat kecil.”
Dari 66 kota IHK (indeks harga konsumen) sebanyak 52 kota mengalami deflasi dan 14 kota inflasi. Deflasi tertinggi di Padang dengan -2,59% dan Dumai -2,34%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Palu dengan 0,67% dan Maumere sebesar 0,57%. Inflasi terendah terjadi di Banjarmasin 0,01%. (mrp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar