SURABAYA - Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah akan lebih meningkatkan kredit pemilikan rumah (KPR). Direktur Utama BNI Syariah, Rizqullah, optimistis kucuran KPR akan tumbuh 55 persen.
"Kami akan optimalkan pemanfaatan electronic financing origination (EFO)," katanya kepada Republika, di Surabaya, Kamis (14/4).
Dengan begitu, katanya, proses KPR akan dilakukan secara cepat dan bisa diputus dalam tiga hari.
BNI Syariah juga bakal mengeluarkan KPR dengan akad musyarakah mutanaqisah. Akad ini merupakan produk turunan dari akad musyarakah.
Dalam musyarakah mutanaqisah, terdapat kerja sama antara dua pihak atau lebih. Kemitraan ini menyebabkan berkurangnya hak atas kepemilikan oleh salah satu pihak dan bertambahnya hak kepemilikan pada pihak lain.
Meski demikian, Rizqullah mengatakan hal ini masih dalam proses. "Jadi, belum bisa direalisasikan sekarang," ujarnya.
Sementara itu, sebagai bentuk social corporate responsibility (CSR), BNI Syariah kini meluncurkan program pengembangan pendidikan melalui kegiatan Manajemen Syukur. Program ini memberikan bantuan baik sarana maupun prasarana untuk pendidikan di berbagai jenjang pendidikan.
"Ini adalah wujud nyata komitmen keluarga besar BNI Syariah dalam bersyukur atas pencapaian yang telah didapat," katanya.
Bukan hanya dari profit perusahaan, bantuan ini juga melibatkan beberapa pihak, seperti dana serikat pekerja BNI Syariah, Rumah Zakat, dan pemerintah kabupaten.
Rizqullah menjelaskan program Manajemen Syukur dimulai di dua kota, Surabaya dan Malang. Kemudian, akan dilanjutkan di seluruh cabang BNI Syariah di Indonesia, seperti Yogyakarta.
"Di Surabaya, kita memberi bantuan pada dua sekolah, yakni SD Juara dan SMP Juara, sedangkan di Malang, SD As-Said Kalipare," ujarnya. Di kedua kota ini, BNI Syariah memberi bantuan hingga Rp 100 juta dengan estimasi masing-masing sekolah Rp 50 juta.
Ia menjamin hal ini bakal dilakukan BNI Syariah secara terus-menerus dan jangka panjang. "Perusahaan bukan lagi dinilai dari keuntungan dan aset saja, melainkan bisnis yang beretika," katanya.
BNI Syariah memiliki 60 outlet dengan total 28 cabang. Sebelumnya, bank syariah ini bakal menambah 18 kantor cabang di beberapa kota seperti Purwokerto, Pontianak, Cilegon, Depok, Mataram, dan Denpasar dengan dana investasi masing-masing Rp 1 miliar.
Per Desember 2010, BNI Syariah mencatat aset Rp 6,1 triliun. BNI Syariah menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp 4,9 triliun dan pembiayaan sebesar Rp 3,25 triliun. ed: firkah fansuri
"Kami akan optimalkan pemanfaatan electronic financing origination (EFO)," katanya kepada Republika, di Surabaya, Kamis (14/4).
Dengan begitu, katanya, proses KPR akan dilakukan secara cepat dan bisa diputus dalam tiga hari.
BNI Syariah juga bakal mengeluarkan KPR dengan akad musyarakah mutanaqisah. Akad ini merupakan produk turunan dari akad musyarakah.
Dalam musyarakah mutanaqisah, terdapat kerja sama antara dua pihak atau lebih. Kemitraan ini menyebabkan berkurangnya hak atas kepemilikan oleh salah satu pihak dan bertambahnya hak kepemilikan pada pihak lain.
Meski demikian, Rizqullah mengatakan hal ini masih dalam proses. "Jadi, belum bisa direalisasikan sekarang," ujarnya.
Sementara itu, sebagai bentuk social corporate responsibility (CSR), BNI Syariah kini meluncurkan program pengembangan pendidikan melalui kegiatan Manajemen Syukur. Program ini memberikan bantuan baik sarana maupun prasarana untuk pendidikan di berbagai jenjang pendidikan.
"Ini adalah wujud nyata komitmen keluarga besar BNI Syariah dalam bersyukur atas pencapaian yang telah didapat," katanya.
Bukan hanya dari profit perusahaan, bantuan ini juga melibatkan beberapa pihak, seperti dana serikat pekerja BNI Syariah, Rumah Zakat, dan pemerintah kabupaten.
Rizqullah menjelaskan program Manajemen Syukur dimulai di dua kota, Surabaya dan Malang. Kemudian, akan dilanjutkan di seluruh cabang BNI Syariah di Indonesia, seperti Yogyakarta.
"Di Surabaya, kita memberi bantuan pada dua sekolah, yakni SD Juara dan SMP Juara, sedangkan di Malang, SD As-Said Kalipare," ujarnya. Di kedua kota ini, BNI Syariah memberi bantuan hingga Rp 100 juta dengan estimasi masing-masing sekolah Rp 50 juta.
Ia menjamin hal ini bakal dilakukan BNI Syariah secara terus-menerus dan jangka panjang. "Perusahaan bukan lagi dinilai dari keuntungan dan aset saja, melainkan bisnis yang beretika," katanya.
BNI Syariah memiliki 60 outlet dengan total 28 cabang. Sebelumnya, bank syariah ini bakal menambah 18 kantor cabang di beberapa kota seperti Purwokerto, Pontianak, Cilegon, Depok, Mataram, dan Denpasar dengan dana investasi masing-masing Rp 1 miliar.
Per Desember 2010, BNI Syariah mencatat aset Rp 6,1 triliun. BNI Syariah menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp 4,9 triliun dan pembiayaan sebesar Rp 3,25 triliun. ed: firkah fansuri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar