JAKARTA. International Monetary Fund (IMF) memprediksikan perekonomian Indonesia dan beberapa negara berkembag seperti Argentina dan Brasil terancam overheating akibat lonjakan harga minyak dan minimnya kapasitas investasi di sektor riil. Namun, anggota Komisi XI DPR Kemal Azis Stamboel menilai prediksi IMF tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Kemal menilai, perekonomian Indonesia masih jauh dari overheating. Sebab, dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata 5,7% per tahun masih belum optimal menyerap pengangguran. “Tapi, saya kira tidak ada salahnya jika pemerintah dan BI merespon laporan IMF tersebut untuk lebih antisipatif," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (19/4).
IMF dalam World Economic Outlook (WEO) bulan ini menyatakan ekonomi Indonesia termasuk ekonomi yang dianggap mulai overheating dengan indikator pertumbuhan Indonesia yang dianggap terlalu cepat, angka pengangguran yang dianggap terlalu rendah dan inflasi yang tinggi.
Kemal mengatakan, inflasi yang relatif tinggi memang harus diwaspadai. Dia mengatakan, laju inflasi tidak serta-merta diakibatkan oleh faktor moneter saja namun juga oleh faktor nonmoneter seperti kenaikan harga pangan yang ekstrem, lonjakan harga minyak dunia, dan biaya distribusi ekonomi yang tinggi akibat buruknya infrastruktur.
Menurutnya, dalam jangka pendek perekonomian Indonesia masih punya peluang untuk tetap tumbuh lebih tinggi tanpa disertai inflasi tinggi. ”Asalkan pembangunan infrastruktur yang direncankan benar-benar cepat dieksekusi dan investasi di sektor riil bergerak. Selain itu kita harus bekerja keras untuk menurunkan tren inflasi melalui peningkatan kapasitas infrastruktur, peningkatan produksi pangan dan peningkatan sumber energi," katanya.
Kemal menilai, perekonomian Indonesia masih jauh dari overheating. Sebab, dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata 5,7% per tahun masih belum optimal menyerap pengangguran. “Tapi, saya kira tidak ada salahnya jika pemerintah dan BI merespon laporan IMF tersebut untuk lebih antisipatif," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (19/4).
IMF dalam World Economic Outlook (WEO) bulan ini menyatakan ekonomi Indonesia termasuk ekonomi yang dianggap mulai overheating dengan indikator pertumbuhan Indonesia yang dianggap terlalu cepat, angka pengangguran yang dianggap terlalu rendah dan inflasi yang tinggi.
Kemal mengatakan, inflasi yang relatif tinggi memang harus diwaspadai. Dia mengatakan, laju inflasi tidak serta-merta diakibatkan oleh faktor moneter saja namun juga oleh faktor nonmoneter seperti kenaikan harga pangan yang ekstrem, lonjakan harga minyak dunia, dan biaya distribusi ekonomi yang tinggi akibat buruknya infrastruktur.
Menurutnya, dalam jangka pendek perekonomian Indonesia masih punya peluang untuk tetap tumbuh lebih tinggi tanpa disertai inflasi tinggi. ”Asalkan pembangunan infrastruktur yang direncankan benar-benar cepat dieksekusi dan investasi di sektor riil bergerak. Selain itu kita harus bekerja keras untuk menurunkan tren inflasi melalui peningkatan kapasitas infrastruktur, peningkatan produksi pangan dan peningkatan sumber energi," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar