BEIJING. China kembali mengkritik kebijakan Federal Reserve yang membanjiri pasar dengan dollar AS. Kritik, kemungkinan besar berlanjut di pertemuan kepala keuangan negara yang tergabung dalam G20 di China hari ini.
Menteri Keuangan AS Timothy F. Geithner, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Wakil Perdana Menteri China Wang Qishan dan Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet akan berkumpul di Nanjing dalam seminar kebijakan moneter internasional hari ini.
Seorang ekonom China meminta Amerika menghentikan dominasi dollar di pasar dunia. Fed yang memiliki program stimulus (quantitative easing) pembelian kembali obligasi senilai US$ 600 miliar yang akan berakhir Juni 2011 dianggap menyebabkan terjadinya inflasi tingkat global.
Xu Hongcai, pejabat di China Center for International Economic Exchanges melalui tulisannya mengeluhkan, stimulus Fed telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dan komoditas.
China memang telah menjadi salah satu pengkritik terbesar kebijakan moneter AS. Sebab, hal itu berimbas pada perekonomian negeri tirai bambu tersebut karena pernah mencatat rekor inflasi tertinggi 28 bulan pada November 2010 di level 5,1%.
Tapi, Chris Rupkey ekonom Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ di New York menilai kritik tersebut sudah tak berpengaruh lagi. "Terlambat, kritik itu merupakan isu lama," ujar Rupkey. The Fed, telah menetapkan kebijakan moneter yang independen dan sudah masuk ke putaran kedua program pelonggaran kuantitatif untuk mendukung pertumbuhan setelah krisis keuangan.
Menteri Keuangan AS Timothy F. Geithner, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Wakil Perdana Menteri China Wang Qishan dan Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet akan berkumpul di Nanjing dalam seminar kebijakan moneter internasional hari ini.
Seorang ekonom China meminta Amerika menghentikan dominasi dollar di pasar dunia. Fed yang memiliki program stimulus (quantitative easing) pembelian kembali obligasi senilai US$ 600 miliar yang akan berakhir Juni 2011 dianggap menyebabkan terjadinya inflasi tingkat global.
Xu Hongcai, pejabat di China Center for International Economic Exchanges melalui tulisannya mengeluhkan, stimulus Fed telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dan komoditas.
China memang telah menjadi salah satu pengkritik terbesar kebijakan moneter AS. Sebab, hal itu berimbas pada perekonomian negeri tirai bambu tersebut karena pernah mencatat rekor inflasi tertinggi 28 bulan pada November 2010 di level 5,1%.
Tapi, Chris Rupkey ekonom Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ di New York menilai kritik tersebut sudah tak berpengaruh lagi. "Terlambat, kritik itu merupakan isu lama," ujar Rupkey. The Fed, telah menetapkan kebijakan moneter yang independen dan sudah masuk ke putaran kedua program pelonggaran kuantitatif untuk mendukung pertumbuhan setelah krisis keuangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar