JAKARTA: Bank Dunia melihat Indonesia memiliki potensi signifikan pada pertumbuhan masyarakat kelas menengah untuk itu pemerintah diharapkan menggenjot insentif yang tepat untuk sektor swasta. Enrique Blanco Armas, ekonom senior Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan jika Indonesia terus berkembang pada kecepatan yang sama seperti dekade terakhir, dan distribusi pertumbuhan kira-kira sama, besar kemungkinan banyak orang yang sekarang di bawah garis kemiskinan akan bergabung dengan jajaran kelas menengah.
"Untuk mendukung pertumbuhan kelas menengah pemerintah harus menciptakan lingkungan usaha dengan menyediakan insentif yang tepat untuk sektor swasta. Pemerintah juga mendukung keberlanjutan pertumbuhan melalui pengadaan peraturan dan jasa pendukung yang tepat,” ujar Enrique, hari ini.
Dari 2003 hingga 2010, dengan menggunakan pengukuran absolut Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan kelas menengah Indonesia bertambah sekitar 50 juta jiwa. Walaupun, kata Enrique, sebagian besar penambahannya terjadi pada bagian bawah dari kelas menengah dimana pengeluaran hariannya hanya US$2-US$6.
Dia mengatakan jika dilihat dari kuatnya pertumbuhan yang berlanjut dan pola distribusi yang ada maka jumlah orang yang masuk ke golongan kelas menengah di Indonesia akan terus meningkat pada beberapa tahun ke depan. Makin tingginya tingkat pertumbuhan kelas menengah di Indonesia, kata Enrique, akan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Peneliti Senior LPEM UI Mohammad Ikhsan mengatakan per tahun ada 7 juta penduduk Indonesia yang meningkat statusnya dari kelas penduduk miskin dan bukan miskin menjadi kelas menengah.
Peningkatan ini mengubah komposisi penduduk Indonesia yang 7 tahun lalu didominasi oleh penduduk miskin dan nyaris miskin, kini lebih didominasi oleh penduduk kelas menengah.
Pada 2003, katanya, 38% atau 81 juta penduduk Indonesia tergolong kelas menengah. Dan tahun lalu, proporsi kelas menengah sudah melebihi separuh penduduk Indonesia yakni sekitar 134 juta atau mencapai 56,6% dari total penduduk.
Dia mengatakan implikasi dari pertumbuhan kelas menengah adalah terjadi ekspansi pasar untuk barang tahan lama. Selain itu, adanya tuntutan akan perubahan penyusunan kebijakan. Konsekuensi lain adalah berlanjutnya krisis energi dan krisis pangan.
"Dalam kasus di Indonesia dimana kelas menengah yang masih didominasi menengah bawah maka pengaruh ekspansi kelas menengah secara teroritis akan mempercepat pertumbuhan ekonomi, tergolong kecil,” ujar Ikhsan.
Karena itu, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia saat ini belum bisa diharapkan menjadi sumber penerimaan pajak dalam jangka pendek kecuali jika ekspansi kelas menengahnya ditranslasikan dalam bentuk peningkatan pekerja di sektor formal dan professional.
Akan tetapi, dalam 10 tahun ke depan dia menilai jika proses transisi demokrasi terlewati, perluasan kelas menengah akan berkontribusi positif terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas yang tercermin pada tumbuhnya kelas entrepreneur dan peningkatan kualitas kerja.(yn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar