Selasa, 04 Januari 2011

Pertumbuhan tanpa Kualitas

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia belum berkualitas. Walaupun pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 6% di 2010, ternyata tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat tidak berubah signifikan.

Hal itu tecermin dari rasio Gini yang mengukur ketimpangan pendapatan penduduk secara menyeluruh. Menurut Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika, dalam lima tahun terakhir rasio Gini hanya turun 0,012, yakni dari 0,343 pada 2005 menjadi 0,331 pada 2010.
Rasio Gini membentang dari nol sampai satu. Nol menunjukkan pemerataan, satu melambangkan ketimpangan.
Pertumbuhan kualitasnya masih jauh dari baik. Problem kesenjangan antara masyarakat miskin dan kaya semakin besar," ujar Erani.
Berbeda dengan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa yang mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah efektif meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pengangguran susut menjadi 7,14%, tahun-tahun sebelumnya masih 'double digit'. Penduduk miskin yang dientaskan dari 2009 ke 2010 berjumlah 1,5 juta jiwa, atau dari 14,1% menjadi 13,3%,” ujar Hatta dalam evaluasi perekonomian yang disampaikan pemerintah, kemarin.

Hatta juga mengatakan rasio Gini di Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain. "'Gini ratio' di India sekarang 0,4. Di Amerika Latin juga cukup tinggi.”

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan memaparkan, pada 2010 rata-rata pendapatan masyarakat golongan rendah yang berjumlah 50,15 juta jiwa (mewakili 60% masyarakat penerima pendapatan) mencapai US$2.284/tahun (sekitar Rp20,5 juta/tahun).

Rata-rata pendapatan golongan menengah yang berjumlah 25 juta jiwa (30%) US$5.326/tahun (Rp47,9 juta/tahun). Adapun golongan atas yang berjumlah 8,3 juta jiwa (10%) rata-rata berpendapatan US$14.198/tahun (Rp127,7 juta/tahun). (Mad/X-10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar