JAKARTA. Harga minyak di perdagangan Asia, Senin (3/1) masih saja nongkrong di atas US$ 91 per barel. Optimisme pemulihan ekonomi yang mendorong kenaikan permintaan pasokan membuat harga ini masih akan ada dalam tren naik pada tahun 2011.
Tapi melihat ini semua, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa enggan berandai-andai. Tapi yang pasti menurut Hatta, jika di awal 2011 harga minyak telah mencapai US$ 90 per barel, bukan berarti harga minyak dalam asumsi APBN 2011 yang masih US$ 80 per barel lantas buru-buru diubah. “Bukan berarti kita asumsikan harganya mencapai US$ 100 per barel. Kita tak ingin berspekulasi atau berasumsi pada seandainya harga minyak akan bagaimana, maka kita tetap di asumsi awal,” katanya, Senin (3/10).
Namun, bukan berarti juga pemerintah tinggal diam. Pemerintah akan tetap mengamati pergerakan harga minyak saat ini. “Kita tetap mengamati tren. Kita lalukan pendekatan di sisi suplai dan deman, menggenjot produksi dan meningkatkan produksi, dan juga diversifikasi energi,” tandasnya.
Sementara pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa menilai, harga minyak tidak sustainable berada di atas US$ 90 per barel hingga akhir tahun ini. “Biasanya, ketika permintaan meningkat, ekonomi mulai kelihatan jalan. Maka spekulator pasar komoditi balik lagi biasanya ke pasar saham, sahamnya naik biasanya komoditi cenderung stabil, jadi kalau saya lihat pengalaman masa lampu setelah bubble-nya pecah di 2008, maka biasanya harga minyak akan stabil,” katanya.
Purbaya pun memperkirakan, harga minyak akan stabil pada kisaran US$ 75 per barel hingga US$ 85 per barel. Boleh jadi, ini mengindikasikan asumsi harga minyak yang dipatok Pemerintah masih wajar. “Ini akan stabil hingga beberapa tahun ke depan, tahun ini masih akan stabil. Ini kita bicara jangka panjang,” ucapnya.
Tapi melihat ini semua, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa enggan berandai-andai. Tapi yang pasti menurut Hatta, jika di awal 2011 harga minyak telah mencapai US$ 90 per barel, bukan berarti harga minyak dalam asumsi APBN 2011 yang masih US$ 80 per barel lantas buru-buru diubah. “Bukan berarti kita asumsikan harganya mencapai US$ 100 per barel. Kita tak ingin berspekulasi atau berasumsi pada seandainya harga minyak akan bagaimana, maka kita tetap di asumsi awal,” katanya, Senin (3/10).
Namun, bukan berarti juga pemerintah tinggal diam. Pemerintah akan tetap mengamati pergerakan harga minyak saat ini. “Kita tetap mengamati tren. Kita lalukan pendekatan di sisi suplai dan deman, menggenjot produksi dan meningkatkan produksi, dan juga diversifikasi energi,” tandasnya.
Sementara pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa menilai, harga minyak tidak sustainable berada di atas US$ 90 per barel hingga akhir tahun ini. “Biasanya, ketika permintaan meningkat, ekonomi mulai kelihatan jalan. Maka spekulator pasar komoditi balik lagi biasanya ke pasar saham, sahamnya naik biasanya komoditi cenderung stabil, jadi kalau saya lihat pengalaman masa lampu setelah bubble-nya pecah di 2008, maka biasanya harga minyak akan stabil,” katanya.
Purbaya pun memperkirakan, harga minyak akan stabil pada kisaran US$ 75 per barel hingga US$ 85 per barel. Boleh jadi, ini mengindikasikan asumsi harga minyak yang dipatok Pemerintah masih wajar. “Ini akan stabil hingga beberapa tahun ke depan, tahun ini masih akan stabil. Ini kita bicara jangka panjang,” ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar