Kamis, 14 Oktober 2010

Serbuan dana asing ke pasar saham mengkhawatirkan

Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: Analis memprediksi menariknya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan LQ-45 di mata investor asing justru masih mengkhawatirkan dalam jangka pendek karena volume kapitalisasi pasar saham Indonesia yang masih kecil.

Kapitalisasi pasar IHSG berada pada level 2.913 triliun dengan P/E sebesar 38,27 kali, seiring dengan penguatan pasar ke level 3.611, yang mematahkan rekor sebelumnya yang dicatatkan di level 3.603 pada 6 Oktober.

“Kalau investor asing masuk dalam jumlah besar lagi dan dalam waktu singkat, maka ada kekhawatiran pasar akan gampang digoyang kalau investor asingnya keluar dalam waktu singkat,” ujar Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing kepada pers sore ini.

Dia menilai ukuran kapitalisasi pasar Indonesia yang lebih kecil dibandingkan pasar modal lain membuatnya rentan terhadap dana panas (hot money) dari investor asing yang biasanya masuk dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat.

"Ketika minat sudah hilang, maka dana panas itu akan langsung pergi dari pasar modal Indonesia." ujarnya.

Pardomuan berpendapat, untuk menghindari pasar yang rentan terhadap masuknya investor asing, sebaiknya Bank Indonesia mulai meningkatkan suku bunganya secara perlahan, sehingga dana asing yang masuk ke pasar Indonesia sifatnya tidak terlalu sporadis dan untuk investasi jangka panjang.

Dia mengakui selama setahun terakhir suku bunga yang rendah memang berhasil membuat pasar saham dan obligasi menjadi incaran investasi, tetapi karena jumlahnya yang terbatas membuatnya terlihat menggelembung semu (bubbling).

"Apalagi, level P/E pasar saham sudah mencapai level 38 kali yang menunjukkan harga saham secara umum sudah relatif mahal."

Berdasarkan data pasar saham lain, indeks Dow Jones di AS memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$3,5 triliun dengan P/E sebesar 14,31 kali, Nikkei di Jepang memiliki P/E sebesar 14,31 kali, Hang Seng Hongkong sebesar 14,82 kali, dan Kospi Korea Selatan sebesar 28,65 kali.

Dia mengibaratkan pasar saham yang sedang diserbu investor itu layaknya rumah sewaan yang diserbu penghuni baru dalam jumlah besar dan waktu singkat dan memberikan keuntungan bagi pemilik rumah karena mendapat sewa kamar baru.

“Namun kalau penghuninya berlomba-lomba keluar karena rumah itu sudah tidak menarik, bukan hanya pintunya yang rusak tetapi juga rumah dan ruangannya," tegasnya. (yus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar