Sabtu, 16 Oktober 2010

Langkah Sia-sia Meredam Yuan

Makmun, PENELITI DAN PENGAMAT EKONOMI
Sumber: Koran Tempo, 15 Oktober 2010

Cina merupakan salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia dan makin berperan penting dalam ekonomi global. Negara ini terbukti mampu mencapai pertumbuhan positif pada saat dunia terjangkit krisis global pada 2008. Bahkan Cina juga terbukti mampu meraup foreign direct investment (FDI) dalam jumlah yang cukup besar karena menerapkan strategi yang berbeda dalam menarik FDI.

Kemampuan modal dan tenaga kerja yang besar memungkinkan Cina membangun industri manufaktur dan infrastruktur yang besar pula. Akibatnya, Negeri Tirai Bambu menguasai dunia dengan ekspor barang-barang manufaktur ke seluruh dunia. Cina secara nyata telah berhasil menjadi pusat perhatian bagi para investor global. Untuk itu, tak mengherankan apabila mereka akhirnya menjadikan negara ini sebagai tumpuan dalam menanamkan modalnya, terutama untuk tujuan investasi baru maupun perluasan kapasitas pabrik.
Tentunya pilihan ini bukan semata-mata karena Cina memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, tapi Cina juga memang memiliki banyak daya tarik lainnya, seperti tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi, liberalisasi kebijakan peraturan tentang modal asing, terbukanya kesempatan bagi investor asing membeli aset perusahaan negara, iklim investasi serta pengurusan perizinan yang mudah, cepat dan murah, kesempatan perusahaan asing melakukan kegiatan pembangunan prasarana infrastruktur, dan undang-undang penanaman modal asing yang memberikan kelonggaran repatriasi modal maupun laba perusahaan, serta jangka waktu perizinan investasi dan hak pengelolaan yang semakin panjang.
Dengan berbagai strategi di atas, Cina menikmati aliran FDI dalam jumlah yang cukup besar. Pada 2005, Cina berhasil menarik sekitar 22 persen dari arus masuk FDI ke negara berkembang. Kehadiran FDI secara umum telah memberikan manfaat bagi negara penerima dan mitra bisnis lokal di negara tersebut. Ekonomi Cina makin meraksasa dengan cadangan devisa negeri menembus US$ 2,5 triliun pada Mei 2010. Bahkan negeri itu menyalip kekuatan ekonomi negara-negara maju, seperti Inggris, Prancis, dan Italia.
Dalam rangka meminimalkan risiko atas besarnya cadangan devisa, Cina juga melakukan diversifikasi. Hal ini pernah dikatakan oleh mantan penasihat bank sentral China People's Bank of China, Yu Yongding, bahwa diversifikasi harus menjadi prinsip dasar pengelolaan cadangan devisa. Kini surat utang Pemerintah Korsel (KTB) yang dimiliki investor Cina melonjak 111 persen hingga menyentuh nilai US$ 3,4 miliar (3,99 triliun won) pada semester I/2010. Pada periode yang sama, Departemen Keuangan Amerika Serikat mencatat kepemilikan Cina atas surat utang pemerintah AS turun 6 persen menjadi US$ 843,7 miliar. Cina juga memiliki surat utang pemerintah Jepang sebanyak US$ 20,1 miliar dan AS sebesar US$ 843,7 miliar sampai Juni 2010. Negara itu juga berencana membeli obligasi International Monetary Fund (IMF) senilai US$ 50 miliar.
Menurut Ding Zhijie, Dekan Fakultas Keuangan Universitas International Business and Economics di Beijing, tren yang muncul belakangan ini adalah Cina mengalokasikan sejumlah cadangan ke aset keuangan di sejumlah negara Asia. Hal ini dilatarbelakangi pengaruh dolar AS dan euro melemah akibat krisis keuangan global, sedangkan peran sejumlah mata uang negara berkembang menguat.
Cadangan devisa yang besar diyakini bisa membuat Cina leluasa mengendalikan yuan. Kebijakan diversifikasi yang ditempuh Cina tentu sudah diperhitungkan dengan matang dan pasti cukup menguntungkan yuan. Apabila kondisi makro membaik, akan berpengaruh positif terhadap mata uang. Permasalahannya, pemerintah Cina tidak menginginkan apresiasi yuan yang berlebihan karena akan berdampak buruk terhadap ekspornya.
Kebijakan Cina di atas sangat memukul perekonomian negara-negara maju karena daya saing menurun, sehingga dikhawatirkan ekspornya akan anjlok dan ini akan mempersulit pemulihan ekonomi global. Sehingga wajar saja kalau Amerika Serikat terus menyerang kebijakan Cina. AS selama bertahun-tahun selalu mengeluhkan kebijakan Cina, yang dengan sengaja menekan nilai mata uangnya, yang menyebabkan neraca perdagangan di antara kedua negara menjadi timpang. Bahkan, sebagai reaksinya, AS terus menekan Cina agar segera melepas intervensi mata uangnya terhadap dolar.
Langkah AS menekan Cina kini diikuti oleh sejumlah negara maju dengan cara menggelontorkan mata uangnya di pasar valas. Tujuannya untuk melemahkan nilai tukar dan membantu ekspor negaranya. Dunia pun kini seolah tengah dilanda perang mata uang rendah. Tentunya langkah itu memicu kemarahan pengambil kebijakan di sejumlah negara karena akan menurunkan daya saing, sehingga akan mengancam kinerja ekspor. Sebagaimana diketahui bahwa belakangan ini terjadi aksi intervensi dari sejumlah negara dari Kolombia hingga Singapura dengan melakukan pembelian mata uang lokal di pasar valas dengan harapan membuat ekspor lebih murah.
Ketegangan perang mata uang pun dibawa ke sidang IMF, meski akhirnya jalan buntu yang didapat. IMF gagal mencapai konsensus untuk mengatasi ketegangan kurs mata uang dunia. IMF juga gagal menengahi perselisihan antara AS dan Cina tentang proteksi terhadap nilai tukar yuan.
Terlepas dari masalah perang mata uang dan kegagalan IMF di atas, pertanyaan yang timbul adalah apa sebenarnya yang ditakutkan oleh negara-negara maju. Takut daya saingnya turun ataukah sebenarnya mereka takut perekonomian global akan didominasi oleh Cina? Langkah apa pun yang akan dilakukan negara-negara maju di bawah komando IMF banyak diyakini tidak akan berdampak pada kebijakan Cina, karena Negeri Panda pasti akan mati-matian melindungi daya saing ekonominya yang sudah dibangun selama ini. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar