JAKARTA--MICOM: Pengamat ekonomi Revrisond Baswir menyampaikan, laporan Credit Suisse Research Institute bahwa kekayaan orang Indonesia sudah mencapai US$1,8 triliun atau men ingkat lima kali lipat dalam satu dekade terakhir harus dilihat secara hati-hati. Pasalnya, laporan tersebut tidak secara rinci menjelaskan distribusi kekayaan orang-orang Indonesia.
"Saya kira harus hati-hati. Itu sama sekali tidak ada soal distribusi kekayaan. Itu kekayaannya merata atau menumpuk di lapisan tertentu masih belum jelas. Berita itu belum merupakan berita baik bagi rakyat kita," kata Revrisond, Rabu (13/10).
Revrisond menjelaskan bahwa selama ini kesenjangan masyarakat di Indonesia semakin parah jika diukur baik dari segi pendapatan, penghasilan, apalagi kekayaan. "Kalau bicara distribusi, isu lama di Indonesia adalah kesenjangan semakin parah," ujarnya.
Selain itu Revrisond mengingatkan bahwa laporan Credit Suisse Research Institute tersebut juga tidak menjelaskan kekayaan warga negara Indonesia atau semua warga yang berusaha di Indonesia. "Orang Indonesia itu maskudnya apa? Warga negara Indonesia atau semua orang warga yang berusaha di Indonesia. Jika semua orang warga yang berusaha di Indonesia, sama saja menghitung PDB (produk domestik bruto)," cetusnya.
Jika nilai kekayaan orang Indonesia meningkat karena modal asing, Revrisond menyebutnya hal tersebut sebagai suatu malapetaka bagi rakyat Indonesia. Kekayaan tersebut ternyata bukan dikumpulkan oleh warga negara Indonesia.
Revrisond menilai hal tersebut mungkin saja terjadi karena masuknya modal asing semakin dominan di Indonesia. Apalagi di sektor-sektor seperti perkebunan, perbankan, dan pertambangan, peran asing sangat besar. "Dominasi modal asing di Indonesia ini terkait dengan dibukanya pintu untuk investor asing," tandasnya. (OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar