Selasa, 12 Oktober 2010

China minta peran SDR diperkuat

Oleh: Dewi Astuti
WASHINGTON DC (Bisnis.com): Bank sentral China (People’s Bank of China/PBOC) menyarankan Special Drawing Right (SDR) lebih dimanfaatkan dan diperkuat perannya dalam sistem moneter internasional.

Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan mengemukakan ada pelajaran berharga dari pengalaman turbulensi sistem keuangan internasional lebih dari 66 tahun lalu. Dana Moneter Internasional (IMF) diberikan mandat untuk mengawasi sistem moneter untuk menjamin efektifitas sistem tersebut.

PAda 41 tahun lalu, sebagai respons terhadap krisis dolar AS, IMF kemudian membuat SDR untuk membantu menjaga stabilitas moneter dunia. Akan tetapi, kata Zhou, setelah negara maju berhasil menjalankan rezim nilai tukar mengambang, peran SDR makin lemah

“Krisis keuangan global dan resesi ekonomi saat ini mengingatkan kita betapa pentingnya mempercepat reformasi sistem moneter internasional. Harus ada upaya memperkuat peran SDR," katanya dalam pernyataannya, hari ini.

SDR adalah aset cadangan devisa di dunia. SDR dipakai sebagai satuan mata uang IMF yang mencerminkan klaim atas mata uang asing dan dapat dikonversi jika diperlukan. Per hari ini, 1 dolar AS setara dengan 0,637 SDR.

Dia menjelaskan masalah paling besar dalam pemulihan ekonomi dunia saat ini adalah lambatnya perkembangan negara maju dalam memperbaiki dan mereformasi sistem keuangannya serta berlanjutnya ketergantungan pada paket stimulus pemerintah.

"Stimulus pemerintah yang masih terus dikucurkan tidak hanya memperbesar beban fiskal, tetapi juga mengurangi efektifitas kebijakan moneter."

Menurut dia, risiko dalam surat utang pemerintah juga harus diberikan perhatian lebih dan direspons dengan kebijakan yang tepat. Risiko surat utang pemerintah diyakini dapat merusak stabilitas keuangan dunia, mengingat besarnya utang jatuh tempo dan defisit fiskal negara maju periode 2010-2011.

Untuk China sendiri, dia mengungkapkan pemerintah pada tahun ini terus mengimplementasikan paket kebijakan untuk merespons krisis global dan pengelolaan makroekonomi diperkuat.

"Hasilnya, pada semester I, ekonomi tumbuh 11,1%, atau 3,7% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu," tandasnya. (yus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar