JAKARTA (SINDO) – Pemerintah belum menentukan skenario baru untuk menutupi defisit anggaran, selain dengan pinjaman dalam dan luar negeri baik berupa pinjaman proyek maupun pinjaman program.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengungkapkan, asumsi makro dalam nota keuangan RAPBN 2011 tidak mengalami perubahan dengan besaran defisit yang masih dipatok pada kisaran angka 1,7%. Armida mengakui, sejauh ini opsi yang akan diambil pemerintah untuk menutup defisit anggaran adalah dengan berutang. “Iya, baik pinjaman domestik atau luar negeri.Kalau pinjaman luar negeri bisa berupa pinjaman program atau pinjaman proyek,” ungkap Armida di Jakarta,kemarin.
Selain itu, lanjut dia, ada pula skenario penerbitan surat berharga negara (SBN) dan obligasi pemerintah baik domestik maupun luar negeri. Namun, pemerintah belum menemukan skenario baru untuk mengejar anggaran yang dipergunakan menutupi defisit. “Di luar itu, sementara ini belum ada skenario lain,”ujar Armida. Kendati tetap mengandalkan utang atau pinjaman luar negeri untuk menutupi defisit, kata Armida, pemerintah sangat berhatihati dalam menentukan pinjaman. Kecenderungannya, pemerintah akan memilih pola pinjaman lunak atau pinjaman yang tidak mengikat. Sementara pola pinjaman yang mengikat, dikesampingkan oleh pemerintah.Dia menegaskan, meskipun masih mengandalkan pinjaman, pemerintah tetap berkomitmen untuk mengurangi utang baik pinjaman mengikat maupun tidak mengikat.
“Kalau pinjaman yang tidak mengikat tingkat suku bunganya relatif lebih rendah.Tinggal kita cari sumber-sumbernya,misalnya menerbitkan obligasi,”katanya. Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo menambahkan, pemerintah kemungkinan besar tidak akan memperlebar defisit anggaran hingga mendekati batas maksimum 3% seperti yang diatur dalam undang-undang. (wisnoe moerti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar