KEDEKATAN kalangan pengusaha dengan lingkaran kekuasaan seringkali dipandang buruk oleh masyarakat. Namun bagi sebagian orang, ketergantungan tersebut justru diperlukan, salah satunya untuk menghapus tingkat ketergantungan pembangunan dan pelaksanaan proses kenegaraan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)
. "Coba lihat negara-negara lain yang lebih sukses dari kita. Bahkan ada dari mereka yang APBN-nya hanya membiayai 20% dari total belanja negara. Sedang kita, hampir sebagian besar masih dibiayai APBN. Ini yang harus kita ubah," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Usaha Kecil Menengah (UKM), Sandiaga S Uno, saat dihubungi, Selasa (21/).
Dengan paradigma tersebut, Sandiaga mengaku ingin Kadin dan juga seluruh pengusaha secara umum bisa semakin ‘dekat' dengan pemerintah untuk memberi masukan hal-hal yang terkait dengan kemandirian pendanaan.
Dengan sudut pandang yang dimilikinya, Sandiaga menjelaskan, pengusaha bisa melihat potensi-potensi penyelenggaraan aktivitas kenegaraan yang berpotensi mandiri secara pendanaan, sehingga sebisa mungkin tidak membebani APBN. "Saya pikir ini tugas ke depan kalangan pengusaha melalui Kadin, agar memberi masukan terkait kemandirian pendanaan. Dengan begitu pemakaian APBN bisa semakin efektif dan kita secara perlahan tidak lagi terlalu tergantung pada APBN seperti sekarang," ujar salah satu calon Ketua Kadin dalam Munas Kadin yang akan dihelat pada 25 September 2010 mendatang ini.
Terkait struktur kerjasamanya, lanjut Sandiaga, perlu dipahami semua pihak bahwa posisi pemerintah dan pengusaha dalam hal ini adalah setara. Masing-masing pihak, menurutnya, tidak berada di bawah kendali yang lain, melainkan setara untuk mewujudkan tujuan bersama. "Jadi tidak ada politik kepentingan di sana. Pengusaha tidak di bawah kendali pemerintah. Begitu pun sebaliknya, pengusaha tidak dalam upaya ‘menguasai' pemerintah. Semuanya setara untuk mewujudkan tujuan bersama, yaitu pembangunan yang berkualitas," tukasnya.
Dengan pandangannya tersebut, tambah Sandiaga, pengusaha harusnya bisa berperan lebih dalam pembangunan negara, yaitu dalam hal menumbuhkan kemandirian bangsa terkait pembangunan yang berkelanjutan.
Taufan Sukma
. "Coba lihat negara-negara lain yang lebih sukses dari kita. Bahkan ada dari mereka yang APBN-nya hanya membiayai 20% dari total belanja negara. Sedang kita, hampir sebagian besar masih dibiayai APBN. Ini yang harus kita ubah," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Usaha Kecil Menengah (UKM), Sandiaga S Uno, saat dihubungi, Selasa (21/).
Dengan paradigma tersebut, Sandiaga mengaku ingin Kadin dan juga seluruh pengusaha secara umum bisa semakin ‘dekat' dengan pemerintah untuk memberi masukan hal-hal yang terkait dengan kemandirian pendanaan.
Dengan sudut pandang yang dimilikinya, Sandiaga menjelaskan, pengusaha bisa melihat potensi-potensi penyelenggaraan aktivitas kenegaraan yang berpotensi mandiri secara pendanaan, sehingga sebisa mungkin tidak membebani APBN. "Saya pikir ini tugas ke depan kalangan pengusaha melalui Kadin, agar memberi masukan terkait kemandirian pendanaan. Dengan begitu pemakaian APBN bisa semakin efektif dan kita secara perlahan tidak lagi terlalu tergantung pada APBN seperti sekarang," ujar salah satu calon Ketua Kadin dalam Munas Kadin yang akan dihelat pada 25 September 2010 mendatang ini.
Terkait struktur kerjasamanya, lanjut Sandiaga, perlu dipahami semua pihak bahwa posisi pemerintah dan pengusaha dalam hal ini adalah setara. Masing-masing pihak, menurutnya, tidak berada di bawah kendali yang lain, melainkan setara untuk mewujudkan tujuan bersama. "Jadi tidak ada politik kepentingan di sana. Pengusaha tidak di bawah kendali pemerintah. Begitu pun sebaliknya, pengusaha tidak dalam upaya ‘menguasai' pemerintah. Semuanya setara untuk mewujudkan tujuan bersama, yaitu pembangunan yang berkualitas," tukasnya.
Dengan pandangannya tersebut, tambah Sandiaga, pengusaha harusnya bisa berperan lebih dalam pembangunan negara, yaitu dalam hal menumbuhkan kemandirian bangsa terkait pembangunan yang berkelanjutan.
Taufan Sukma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar