LONDON (SINDO) – Posisi Indonesia di kancah perekonomian global semakin diperhitungkan. Survei lembaga pemerintah Inggris, United Kingdom Trade & Investment (UKTI),menyebutkan, tahun ini Indonesia berada di peringkat kedua negara berkembang (emerging market) yang menjadi tujuan investasi global di bawah Vietnam.
Meski kalah dari Vietnam, posisi Indonesia lebih baik dibandingkan negara berkembang lain seperti Malaysia di posisi kedelapan, Afrika Selatan (6) maupun Meksiko (3). Namun survei yang dilakukan terhadap lebih dari 520 eksekutif global di berbagai sektor itu tidak menyertakan BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) yang dikenal sebagai negara ekonomi baru. Survei global UKTI yang dirilis Rabu (15/9) itu menunjukkan, potensi ekonomi Indonesia semakin mendapat perhatian di mata investor global.
Sebelumnya, pada Juli lalu, Indonesia mendapat perbaikan peringkat investasi menjadi level investment grade oleh lembaga pemeringkat Japan Credit Rating Agency (JCR). Dalam survei UKTI terbaru bertajuk Great Expectation: Doing Business in Emerging Market dilaporkan, dunia internasional melihat pasar di negara berkembang akan menjadi mesin pertumbuhan global di masa mendatang. Laporan itu juga menyebutkan, responden yang disurvei menyatakan siap melakukan bisnis atau membuat rencana bisnis di negara emerging marketdalam dua tahun ke depan. ”Pada 2030, sekitar 93% dari kelas menengah di dunia akan hidup di negara emerging market. Ekonomi global telah membuat bisnis di Inggris siap beradaptasi,” kata Menteri Urusan Bisnis Inggris Vince Cable seperti dikutip situs resmi UKTI kemarin.
Dia menambahkan, fenomena dari negara emerging marketbukan hanya untuk satu wilayah saja sehingga perusahaan Inggris harus melihat lebih jauh untuk melakukan diversifikasi basis ekspor. Menurutnya, sektor perdagangan dan investasi Inggris menunjukkan pasar di Asia,Afrika,Timur Tengah, dan Amerika Latin dapat menawarkan peluang bisnis baru bagi perusahaan-perusahaan Inggris. Dalam survei UKTI terungkap, 76% dari investor melihat pasar di negara berkembang merupakan sumber pertumbuhan bisnis. Selain itu, 71% responden juga menyatakan, negara berkembang di luar BRIC menawarkan kesempatan besar yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
”Perusahaan kini memprioritaskan jangkauan pada ‘negara kedua’ di samping negara BRIC yang sudah relatif stabil,” ujar UKTI. Bagi kebanyakan orang, tulis UKTI, pasar berkembang telah menjadi tempat yang sangat familier dengan pasar para responden. Hampir setengah dari responden menyatakan telah beroperasi di satu atau lebih pasar negara berkembang setidaknya satu dekade. Sementara dua pertiganya berinvestasi selama enam tahun atau lebih.
Dana Asing Terus Mengalir
Di pasar keuangan, optimisme investor terhadap perekonomian nasional terlihat dari aliran dana asing yang terus masuk ke pasar modal Indonesia.Aliran dana asing (capital inflow) diperkirakan masih akan masuk ke dalam negeri hingga akhir tahun. Fundamental perekonomian ekonomi Indonesia yang sangat baik menjadi alasan masuknya likuiditas tersebut. Di sisi lain, perekonomian negaranegara Eropa dan Amerika Serikat yang belum menjanjikan membuat likuiditas mencari pasar dengan pertumbuhan ekonomi tinggi seperti Indonesia.
”Adanya peningkatan rating daya saing Indonesia memberikan kepercayaan lebih bagi asing. Selain itu, pertumbuhan kita juga berkelanjutan,” ujar Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa, kepada SINDOdi Jakarta kemarin. Kenaikan daya saing tersebut, lanjut Purbaya, memberikan optimisme tinggi bagi asing untuk menanamkan investasinya di Indonesia, baik itu di pasar saham maupun surat utang negara (SUN). ”Itu mengapa IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kemudian tembus ke level baru di atas 3.300 dengan pembelian bersih hingga Rp2 triliun dalam satu hari,”tuturnya.
Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang melihat derasnya arus asing yang terjadi beberapa pekan terakhir ini tidak lepas dari kenaikan pendapatan di pasar dalam negeri. Berkurangnya kekhawatiran terhadap terjadinya krisis ekonomi jilid II memberi keyakinan bagi investor. Adapun Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengatakan, optimisme terhadap perekonomian semakin bertambah dengan kenaikan peringkat daya saing Indonesia. ”Saya lihat kondisi kita secara umum baik, semua yang terjadi lebih ke arah yang positif,”kata Menkeu.
Namun, kata Agus, tidak ada salahnya bagi Indonesia untuk tetap waspada terhadap kemungkinan pembalikan modal (capital outflow) yang bisa terjadi kapan saja. (yanto kusdiantono/juni triyanto/bernadette lilia nova)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar