Rabu, 22 September 2010

Resesi AS 2008 Terlama

WASHINGTON (SINDO) – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengklaim, bahwa perekonomian di Negara itu sudah keluar dari resesi sejak Juni 2009 lalu.

Meski demikian, hal itu merupakan resesi paling lama dialami Paman Sam dalam 50 tahun terakhir. Demikian hasil survei yang dirilis National Bureau of Economic Research (NBER) Senin (20/9) waktu setempat. Dalam survei tersebut juga disebutkan penyebab utama resesi di AS dua tahun lalu adalah masifnya jumlah orang kehilangan pekerjaan yang mencapai 8 juta orang,terutama di pusat keuangan Wall Street.

Dalam sebuah kesempatan Presiden Barack Obama mengatakan bahwa akhir “Great Depression” akan datang sebagai pelipur lara yang cukup menghibur bagi jutaan orang yang hingga kini masih keluar dari pekerjaannya.Menurut Obama, meski banyak ekonom mengatakan bahwa resesi secara resmi berakhir pada tahun lalu, namun sangat jelas bagi jutaan orang mengalami penurunan nilai perumahan akan dijadikan cara untuk berjuang memperbaiki ekonomi.

“Mereka akan membayar tagihan hari ke hari dan ini masih sangat nyata bagi mereka,”ujar Obama. Obama juga mengklaim,kebijakan stimulus ekonomi senilai ratusan miliar dolar telah bekerja.Meski demikian, pihaknya mempertimbangkan tambahan insentif untuk mendongkrak pasar tenaga kerja. “Semua program yang kami lakukan sudah berjalan pada jalurnya.

Sekarang Anda telah merasakan pasar keuangan yang stabil dan Anda juga mengalami peningkat-an pertumbuhansektortenagakerjaselama delapan bulan berturut-turut,” kata Obama pada pertemuan “Investing in America”awal pekan ini. NBER, yang merupakan sebuah lembaga penelitian nonprofit mengakui,siklus resesi di AS pada 2007–2009 lalu merupakan resesi terpanjang sejak Perang Dunia Kedua karena berlangsung selama 18 bulan.

Dan sebagai perbandingan, pada resesi sebelumnya, yakni pada tahun 1973 dan 1981, hanya terjadi selama 16 bulan. ”Meski demikian, kami tidak menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi sejak berakhirnya resesi merupakan bagian yang menguntungkan atau sudah kembali ke kapasitas normal,”kata NBER. NBER menambahkan, dasar keputusan berakhirnya resesi panjang itu menandakan adanya kekuatan pemulihan ekonomi di AS yang dirasakan hingga saat ini.

Menanggapi hasil survei NBER, para ekonom menyatakan harapannya agar perbaikan perekonomian lebih luas. ”Hal yang penting sekarang adalah berapa lama pemulihan akan terjadi,” ujar Agustinus Faucher, ekonom Moody’s Economy.- com.”Peluang resesi kedua terlalu tinggi untuk kondisi yang nyaman seperti saat ini,”ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan, bahwa perekonomian AS akan tumbuh pada tingkat lebih lambat dari yang diperkirakan 1,5% pada tahun ini. Lembaga yang berbasis di Paris itu mengatakan, pertumbuhan ekonomi AS akan jauh lebih rendah dibanding Mei lalu yang mencapai 3,2% dan diperkirakan hanya meningkat 2,3% pada tahun 2011.

”Amerika secara perlahan pulih dari resesi yang parah, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tetap rendah untuk beberapa waktu,” kata OECD. Dalam kajiannya, OECD juga menyatakan, bahwa tingkat pengangguran di Paman Sam kemungkinan tinggi untuk jangka waktu yang relatif lama.Seperti diketahui, pada Agustus lalu tingkat pengangguran AS masih berada di level 9,6%, atau setara dengan 15 juta orang angkatan kerja.

Untuk itu, tulis OECD, perlu kelanjutan program yang mendukung pasar tenaga kerja serta mendorong agar sektor swasta berperan lebih besar. Hal itu sejalan dengan pernyataan Obama yang mengaku mendapatkan benefit dari banyaknya wirausahawan dan kaum inovator yang menciptakan lapangan kerja. “Kami sadar, bahwa tidak bisa menyediakan semua pekerjaan secara mayoritas.

Faktanya, kami ingin keluar dari kondisi ini dan kembali membuat orang bekerja,” ungkap Presiden kulit hitam AS pertama itu,seperti dikutip CNBC. Obama memang terus ber-upaya memperkuat ekonomi AS dengan menggelontorkan sejumlah program insentif bagi kalangan bisnis termasuk mengusulkan kredit pajak sebesar USD100 miliar awal bulan ini.Terakhir, pada pekan lalu Senat AS mengesahkan stimulus untuk usaha kecil senilai USD30 miliar dalam bentuk pinjaman modal serta menyediakan USD12 miliar untuk pemangkasan pajak. (AFP/Rtr/yanto kusdiantono)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar