RAMADAN berlalu. Ada baiknya kita memasuki bulan Syawal dengan renungan. Terutama tentang paradoks manusia. Perangai manusia, sering kali mengalami keterbelahan. Terjebak dalam kemunafikan. Baik sadar maupun tidak sadar. Sayidina Ali bin Abi Thalib mengungkap realitas yang berlaku sepanjang manusia. Khususnya ihwal perangai buruk manusia. "Jangan menjadi seperti orang yang mengharapkan (rahmat bagi) kehidupan di akhirat tanpa beramal, dan menunda taubat dengan memperpanjang hawa nafsu, yang mengucapkan kata-kata sebagai zahid di dunia, tetapi bertindak sebagai orang yang bergairah untuk itu,"
pesannya.
Banyak manusia, apabila diberi sesuatu, tidak merasa puas. Mereka tak bersyukur atas apa yang telah diperoleh. Lalu, menghasratkan penambahan dalam apa saja yang tertinggal padanya. Mereka mencegah orang lain, tetapi tidak (mencegah) dirinya. Mereka menyuruh orang lain apa yang ia sendiri tidak melakukannya. Mereka cinta kepada orang bajik tetapi tak berlaku seperti orang yang mereka cintai. Mereka membenci orang yang keji, tetapi sesungguhnya, dirinya merupakan bagian dari kekejian. Mereka tidak menyukai maut, karena kelebih-lebihan dosanya, tetapi menganut apa yang menyebabkan mereka takut mati.
Banyak manusia, merasa malu apabila sakit, merasa aman apabila ia sehat. Lalu, menghabiskan waktunya dalam kesenangan. Apabila mereka sembuh dari sakit, mereka sombong akan dirinya. Apabila tertimpa musibah dan kesusahan merasa putus asa, kemudian berdoa laksana orang meracau. Namun, bilamana ia mendapatkan kelapangan hidup, ia jatuh ke dalam tipuan. Memalingkan mukanya. Hatinya menaklukkannya dengan hal-hal khayali.
Kepada orang lain ia takutkan dosa-dosa kecil, tetapi bagi dirinya ia mengharapkan ganjaran yang lebih besar dari amalnya. Bila kaya, ia menjadi angkuh dan jatuh ke dalam kejahatan. Apabila miskin, ia berputus-asa dan menjadi lemah. Mereka menggambarkan peristiwa-peristiwa yang mengandung pelajaran, tetapi ia sendiri tidak mengambil pelajaran. Mereka berkhotbah panjang lebar, tetapi tidak menerima khotbah apa pun bagi dirinya sendiri. Mereka tinggi dalam bicara tetapi pendek dalam amal.
Banyak manusia mendambakan hal-hal yang akan musnah. Mengabaikan hal-hal yang bertahan abadi. Mereka memandang keuntungan sebagai kerugian, dan kerugian sebagai keuntungan. Mereka takut akan kematian, tetapi tidak berbuat sesuatu untuk menghadapinya. Mereka memandang dosa-dosa orang lain besar, tetapi memandang dosanya sendiri kecil. Apabila ia berbuat sesuatu dalam menaati Allah, ia memandangnya banyak, tetapi apabila orang lain melakukan hal yang sama, ia menganggapnya sedikit. Maka, pesan sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Jangan terjebak oleh keadaan: mencela orang lain, dan gemar memuji diri sendiri. Jangan menjadi bagian dari hiburan dalam pergaulan dengan orang kaya (yang lebih dicintainya) daripada mengingat (Allah) bersama orang miskin."
Di bulan Syawal ini, kita mesti mulai membebaskan diri, agar tidak menjadi manusia yang senang menuntun orang lain, tetapi menyesatkan diri sendiri. Selalu ingin ditaati oleh orang lain, namun tak pernah mau menaati Allah. Semoga, kita bukan termasuk manusia yang selalu mencari kepuasan (kewajiban kepada dirinya sendiri) tetapi tidak memenuhi kewajiban (terhadap orang lain). Takut kepada manusia (dan bertindak) bagi yang selain Allah, dan tidak takut kepada Allah dalam urusannya dengan manusia.© Habib Alwi As Segaff
pesannya.
Banyak manusia, apabila diberi sesuatu, tidak merasa puas. Mereka tak bersyukur atas apa yang telah diperoleh. Lalu, menghasratkan penambahan dalam apa saja yang tertinggal padanya. Mereka mencegah orang lain, tetapi tidak (mencegah) dirinya. Mereka menyuruh orang lain apa yang ia sendiri tidak melakukannya. Mereka cinta kepada orang bajik tetapi tak berlaku seperti orang yang mereka cintai. Mereka membenci orang yang keji, tetapi sesungguhnya, dirinya merupakan bagian dari kekejian. Mereka tidak menyukai maut, karena kelebih-lebihan dosanya, tetapi menganut apa yang menyebabkan mereka takut mati.
Banyak manusia, merasa malu apabila sakit, merasa aman apabila ia sehat. Lalu, menghabiskan waktunya dalam kesenangan. Apabila mereka sembuh dari sakit, mereka sombong akan dirinya. Apabila tertimpa musibah dan kesusahan merasa putus asa, kemudian berdoa laksana orang meracau. Namun, bilamana ia mendapatkan kelapangan hidup, ia jatuh ke dalam tipuan. Memalingkan mukanya. Hatinya menaklukkannya dengan hal-hal khayali.
Kepada orang lain ia takutkan dosa-dosa kecil, tetapi bagi dirinya ia mengharapkan ganjaran yang lebih besar dari amalnya. Bila kaya, ia menjadi angkuh dan jatuh ke dalam kejahatan. Apabila miskin, ia berputus-asa dan menjadi lemah. Mereka menggambarkan peristiwa-peristiwa yang mengandung pelajaran, tetapi ia sendiri tidak mengambil pelajaran. Mereka berkhotbah panjang lebar, tetapi tidak menerima khotbah apa pun bagi dirinya sendiri. Mereka tinggi dalam bicara tetapi pendek dalam amal.
Banyak manusia mendambakan hal-hal yang akan musnah. Mengabaikan hal-hal yang bertahan abadi. Mereka memandang keuntungan sebagai kerugian, dan kerugian sebagai keuntungan. Mereka takut akan kematian, tetapi tidak berbuat sesuatu untuk menghadapinya. Mereka memandang dosa-dosa orang lain besar, tetapi memandang dosanya sendiri kecil. Apabila ia berbuat sesuatu dalam menaati Allah, ia memandangnya banyak, tetapi apabila orang lain melakukan hal yang sama, ia menganggapnya sedikit. Maka, pesan sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Jangan terjebak oleh keadaan: mencela orang lain, dan gemar memuji diri sendiri. Jangan menjadi bagian dari hiburan dalam pergaulan dengan orang kaya (yang lebih dicintainya) daripada mengingat (Allah) bersama orang miskin."
Di bulan Syawal ini, kita mesti mulai membebaskan diri, agar tidak menjadi manusia yang senang menuntun orang lain, tetapi menyesatkan diri sendiri. Selalu ingin ditaati oleh orang lain, namun tak pernah mau menaati Allah. Semoga, kita bukan termasuk manusia yang selalu mencari kepuasan (kewajiban kepada dirinya sendiri) tetapi tidak memenuhi kewajiban (terhadap orang lain). Takut kepada manusia (dan bertindak) bagi yang selain Allah, dan tidak takut kepada Allah dalam urusannya dengan manusia.© Habib Alwi As Segaff
Tidak ada komentar:
Posting Komentar