PROGRAM peningkatan daya saing harus jadi prioritas pertama Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR, Nurdin Tampubolon kemarin (20/9) dalam rapat kerja bersama Kemenperin dengan agenda pengesahan pagu sementara RKAK-L 2011 Kemenperin. Menurut Nurdin, anggaran harus disesuaikan dengan kebijakan pembangunan pemerintah saat ini yaitu pro growth, pro poor, dan pro job. Selanjutnya, Indonesia harus mengurangi impor. Nurdin menyoroti permasalahan industri garam. Menurut Nurdin, sampai sekarang Indonesia masih mengimpor garam padahal memiliki banyak bahan bakunya. "Industri garam kita tidak jelas," kata Nurdin.
Nurdin menegaskan anggaran Kemenperin harus visioner, tidak terputus. Selain itu juga harus punya sasaran prioritas industri yang akan dikembangkan. Soal perlunya prioritas industri terkait daya saing juga diungkapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Ferrari Roemawi.
Ferrari mengatakan bahwa harus ada industri unggulan yang diberikan perhatian khusus. "Terkait daya saing, memang harus ada industri yang akan diberikan perhatian khusus oleh Kemenperin. Kalau semua kita angkat, akan berat," katanya.
Lebih lanjut Ferrari mengungkapkan Kemenperin perlu melakukan identifikasi mengenai industri yang akan diprioritaskan. "Kalau menurut saya agro based industry perlu mendapat perhatian karena bahan bakunya ada, tapi kan agro juga luas, perlu identifikasi," kata Ferrari.
Sementara menurut Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun, daya saing merupakan tanggung jawab semua instansi dan saling terkait. Menurut Alex, permasalahan daya saing ini perlu dikemas secara nasional dengan baik sehingga anggaran untuk hal tersebut bisa efektif.
Usulan anggaran
Sementara Kemenperin mengajukan usulan APBN tahun anggaran 2011 sebesar Rp3,4 triliun. Jumlah ini terdiri dari pagu sementara Rp2,2 triliun dan usulan tambahan pagu anggaran Rp1,2 triliun.
Usulan tambahan anggaran Rp1,2 trilun yang diajukan Kemenperin ditujukan untuk revitalisasi industri gula Rp798,5 miliar, peningkatan daya saing Rp392,3 miliar, dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri Rp53,5 miliar.
Untuk anggaran revitalisasi industri gula, rencananya PTPN XI akan mendapat dana Rp23,95 miliar, PTPN XI akan mendapat dana Rp21,5 miliar, dan PTPN akan mendapat dana Rp33,1 miliar. Sementara sisanya sebesar Rp720 miliar akan digunakan untuk amalgamasi melalui pembangunan pabrik gula baru dengan kapasitas 4000 TCD expandable hingga 6000 TCD.
Jumlah ini digunakan untuk biaya konstruksi yang merupakan 40 persen dari keseluruhan biaya pembangunan pabrik gula baru. Sisa biaya sebesar Rp1,08 triliun untuk pengadaan dan pemasangan mesin dan peralatan dimasukkan ke usulan tambahan anggaran revitalisasi industri gula 2012.
Ayu Lazuardi Mutmainah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar