Kementerian Koperasi dan UKM mendorong perajin meningkatkan produktivitas dan inovasi guna menjaga keberlangsungan volume ekspor produk kerajinan. Pemerintah membuka akses luas bagi pembiayaan produk kerajinan tangan tujuan ekspor lewat skim kredit dan dana bergulir.
Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan menjaga produk akhir (out put) kerajinan tangan perajin UKM guna keberlangsungan ekspor. "Membuat handycraft ini tidak sama dengan produk massal, tentu jaminan suplai harus kami hitung," katanya usai menyampaikan sambutan dalam evaluasi Unesco Award Handicraft 2010 di Jakarta, Rabu (22/9).
Menurut dia, ada keterbatasan waktu perajin dalam meningkatkan produktivitas memenuhi volume ekspor produk kerajinan. Pembeli di luar negeri, katanya, mengetahui pembuatan produk kerajinan butuh waktu relatif lebih lama.
Penghargaan kerajinan tangan dari Unesco berlangsung di Smesco UKM pada 22-23 September 2010. Produk kreatif yang dipamerkan dalam kegiatan ini berasal dari sejumlah negara di Asia antara lain, Myanmar, Thailand, Vietnam, Timor Leste, dan Bangladesh.
Dalam acara evaluasi penghargaan produk kerajinan UKM hadir lima juri antara lain, Masato Kuroda (Jepang), Manjari Nirula (India), Vicki Crecic Peterson, dan Kelly Marciano (Amerika Serikat), dan Joseph Lo (Singapura).
Asisten Deputi Ekspor dan Impor Kemenkop dan UKM Prijadi Atmadja mengatakan produk kerajinan selalu menuntut inovasi agar mendorong peningkatan permintaan. "Karena itu kami harus mengembangkan produk baru karena negara lain juga sedang berlomba-lomba meningkatkan kualitas," katanya.
Pemerintah memerhatikan peningkatan inovasi dan produktivitas agar mampu bersaing dengan produk kerajinan dari negara-negara di ASEAN. Aspek lain yang dituntut saat ini, katanya, perajin menghasilkan produk kerajinan yang ramah lingkungan.
Menurut dia, belum semua produk kerajinan UKM mampu memenuhi kualitas ekspor karena kesulitan bahan baku. Pemerintah, katanya, telah memperluas akses pembiayaan perajin tujuan ekspor lewat skim kredit perbankan dan dana bergulir Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Luther Kembaren
Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan menjaga produk akhir (out put) kerajinan tangan perajin UKM guna keberlangsungan ekspor. "Membuat handycraft ini tidak sama dengan produk massal, tentu jaminan suplai harus kami hitung," katanya usai menyampaikan sambutan dalam evaluasi Unesco Award Handicraft 2010 di Jakarta, Rabu (22/9).
Menurut dia, ada keterbatasan waktu perajin dalam meningkatkan produktivitas memenuhi volume ekspor produk kerajinan. Pembeli di luar negeri, katanya, mengetahui pembuatan produk kerajinan butuh waktu relatif lebih lama.
Penghargaan kerajinan tangan dari Unesco berlangsung di Smesco UKM pada 22-23 September 2010. Produk kreatif yang dipamerkan dalam kegiatan ini berasal dari sejumlah negara di Asia antara lain, Myanmar, Thailand, Vietnam, Timor Leste, dan Bangladesh.
Dalam acara evaluasi penghargaan produk kerajinan UKM hadir lima juri antara lain, Masato Kuroda (Jepang), Manjari Nirula (India), Vicki Crecic Peterson, dan Kelly Marciano (Amerika Serikat), dan Joseph Lo (Singapura).
Asisten Deputi Ekspor dan Impor Kemenkop dan UKM Prijadi Atmadja mengatakan produk kerajinan selalu menuntut inovasi agar mendorong peningkatan permintaan. "Karena itu kami harus mengembangkan produk baru karena negara lain juga sedang berlomba-lomba meningkatkan kualitas," katanya.
Pemerintah memerhatikan peningkatan inovasi dan produktivitas agar mampu bersaing dengan produk kerajinan dari negara-negara di ASEAN. Aspek lain yang dituntut saat ini, katanya, perajin menghasilkan produk kerajinan yang ramah lingkungan.
Menurut dia, belum semua produk kerajinan UKM mampu memenuhi kualitas ekspor karena kesulitan bahan baku. Pemerintah, katanya, telah memperluas akses pembiayaan perajin tujuan ekspor lewat skim kredit perbankan dan dana bergulir Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Luther Kembaren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar