Rabu, 22 September 2010

Pemerintah Bidik Investasi AS

JAKARTA (SINDO)-Pemerintah akan berupaya memacu peningkatan investasi Amerika Serikat (AS) di Indonesia memanfaatkan momen ASEAN-US Summit di New York Kamis (23/10) mendatang.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengatakan, Indonesia yang akan diwakili Wakil Presiden Boediono di sela pertemuan tersebut dijadwalkan beraudiensi dengan mantan Presiden AS Bill Clinton dan puluhan pengusaha AS, yang dilanjutkan dengan pertemuan forum bisnis. ”Acara bussines forum itu akan dihadiri oleh minimum 32 pimpinan perusahaan AS, terdiri dari beberapa sektor usaha, yaitu infrastruktur, migas, farmasi, manufaktur, dan infrastruktur,” ujar Gita di Jakarta kemarin.

Dari pertemuan tersebut, kata Gita, diharapkan diperoleh informasi dan masukan dari kalangan pebisnis AS mengenai hal-hal yang dibutuhkan guna meningkatkatkan investasinya di Indonesia.Wapres Boediono kemarin menggelar rapat terbatas guna membahas persiapan menghadapi pertemuan tersebut. Gita mengatakan, pengusaha AS sebetulnya telah cukup banyak berinvestasi di Indonesia.

Namun, skalanya memang masih terbilang kecil jika dibandingkan Singapura dan Hong Kong yang menempati urutan pertama dan kedua dalam jumlah investasi di Indonesia. Namun, kata dia, para pengusaha AS sudah menyampaikan keinginannya untuk menanamkan lebih banyak investasinya di Indonesia.

Selain itu,potensi masuknya investor baru dari AS pun menurut dia cukup besar karena cukup banyak pengusaha asal Negeri Paman Sam itu yang tengah menelaah lebih dalam tentang kemungkinan investasi di Tanah Air. ”Saya rasa ini merupakan tindak lanjut dari momentum yang sudah kita nikmati dalam beberapa bulan ini, dan itu kelihatan dari nilai investasi AS di kuartal I dan II yang sudah menempati top five untuk realisasi investasi di Indonesia,”tuturnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementrian Luar Negeri Jauhari Oratmangun mengatakan, pada pertemuan itu Wapres juga akan bertatap muka dengan Menlu AS Hillary Clinton dalam acara Bussines Leader yang akan dihadiri oleh 300-an pengusaha. Terlepas dari misi Indonesia tersebut, Jauhari mengatakan bahwa hasil subtantif yang diharapkan dalam pertemuan ASEAN-US Summit itu adalah terbentiknya pernyataan bersama (joint statement) antara ASEAN dan AS.

”Selain itu, diharapkan pula pembentukan Eminent Person Group (EPG) untuk mengkaji lebih mendalam hubungan antara ASEAN dan US, dan apa yang dapat dikembangkan pada tahuntahun mendatang,”jelasnya. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menyambut baik misi pemerintah tersebut. Dia optimistis melalui pertemuan tersebut investasi AS di Indonesia dapat ditingkatkan.

”Seharusnya bisa.Banyak peluangnya,”kata Sofjan kemarin. Sofjan menuturkan, investasi AS yang bisa diincar antara lain adalah industri pengilangan minyak.” Kita bisa minta perusahaanperusahaan minyak AS, terutama yang besar-besar berinvestasi di Indonesia, fokus ke downstream (hilir), jangan cuma ambil bahan mentahnya dari kita,”tuturnya. Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga harus mendorong agar perbankan AS bisa membantu pembiayaan, terutama untuk sektor industri, di Indonesia.

Pengusaha AS di sektor komponen elektronik menurut dia juga bisa dibujuk untuk berinvestasi di Indonesia. Untuk itu, imbuh dia, pemerintah pun harus serius dan tidak segan menyiapkan insentif bagi investor AS yang memang serius untuk berinvestasi di Tanah Air.

Bahkan, Sofjan berpendapat bahwa harusnya Presiden secara langsung mewakili Indonesia dalam pertemuan tersebut untuk menunjukkan keseriusan posisi negara ini, khususnya dalam komunitas ASEAN. ”Kalau Presiden hadir, Indonesia berpeluang jadi leader di ASEAN.Kita harus bisa memanfaatkan kesempatan seperti itu,” tuturnya.

Perdagangan RI-Rusia

Terpisah, Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu mengatakan, pemerintah berupaya meningkatkan kerja sama perdagangan dengan Rusia. Nilai perdagangan Indonesia dengan Rusia hingga akhir tahun diproyeksikan mencapai USD1,4 miliar. Mendag yang beberapa waktu lalu memimpin misi dagang ke Rusia menjelaskan, Rusia saat ini sedang mengalihkan pandangannya ke Asia, dan pemerintah memanfaatkan peluang itu untuk memperluas pasar ekspor.

”Perdagangan bilateral kita untuk semester I/2010 sekitar USD700 juta dan pada akhir tahun kemungkinan bisa sampai USD1,4-1,6 miliar ,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta kemarin. Pemerintah, kata dia, akan memperkuat kerja sama bilateral, utamanya bidang ekonomi dan perdagangan dengan Rusia.Rusia pun menurut dia tampaknya memiliki keinginan yang sama.

”Saat melakukan misi dagang,kita bertemu menteri ekonomi Rusia dan sepakat membentuk forum kerja sama antara kedua negara pada level menteri,”katanya. Di samping mencari solusi atas kendala perdagangan antara kedua negara, jelas dia, kelompok kerja bersama antara kedua negara akan membahas sektor yang akan diprioritaskan dalam kerja sama tersebut.

Menurut Mendag, selama ini kendala perdagangan antara kedua negara utamanya disebabkan masih rendahnya pemahaman pasar masing-masing serta belum adanya hubungan antara bank di Indonesia dan Rusia.Faktor penghambat lainnya adalah ketiadaan transportasi langsung antarnegara dan kurang transparannya aturan perdagangan di Rusia. Pada semester I/2010 nilai ekspor ke Rusia tercatat mencapai USD242 juta.

Komoditas ekspor Indonesia ke Rusia yang nilainya menunjukkan peningkatan antara lain minyak sawit mentah,minyak kelapa, produk elektronik, teh,dan alas kaki.Meski demikian,peran Indonesia sebagai pemasok ke Rusia masih sangat kecil.Indonesia hanya menyuplai 0,4% dari seluruh impor Rusia, jauh lebih kecil dari China (14%), Jepang (4,5%), dan Korea (3%).Namun, kata Mendag, Indonesia masih bisa meningkatkan ekspornya, mengingat potensi pasar Rusia yang cukup besar. (rarasati syarief/ sandra karina/ant)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar