JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berencana melakukan pemecahan saham (stock split) untuk memperbesar nilai kapitalisasi menjadi lebih dari Rp 100 triliun. Bank pelat merah tersebut menargetkan kapitalisasi sebesar itu tercapai pada tahun depan.
Secara teknis, stock split dilakukan dengan memecah saham menjadi nominal lebih kecil tapi kapitalisasi pasarnya tidak berubah. Saat ini, kapitalisasi saham BRI berkisar Rp 98 triliun.
''Dengan stock split, kami harap kapitalisasi bisa lebih dari Rp 100 triliun,'' tutur Direktur Utama BRI Sofyan Baasir di Jakarta kemarin.
Dia menyatakan, stock split dilakukan pada November atau Desember mendatang setelah rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). ''Mungkin awal tahun sudah selesai,'' imbuhnya.
Sofyan menyebutkan, pihaknya tidak akan menggunakan penjamin emisi (underwriter). ''Stock split yang dilakukan hanya sederhana, sangat simpel,'' ujarnya. Untuk skemanya, stock split bisa dilakukan dengan skema 1:2 hingga 1:4.
Rencana pemecahan saham itu didasari kecenderungan harga saham BRI di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terus naik. Sejak penawaran saham perdana pada 2003, aksi korporasi itu belum pernah dilakukan. Padahal, beberapa bank lain sudah melakukan hingga dua kali.
BRI tercatat kali pertama melepas saham ke pasar modal pada 11 Juli 2003 dengan harga perdana Rp 875 dan saat ini Rp 10 ribuan per lembar. Itu berarti sejak tujuh tahun melantai di BEI, saham bank terbesar kedua di Indonesia tersebut telah terkatrol hampir 11 kali. (luq/c5/oki)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar