Sabtu, 04 September 2010

Pajak Penghasilan Badan Usaha Diminta Turun

PARA pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menuntut pemerintah untuk menurunkan pajak penghasilan untuk badan usaha dari 25 persen menjadi 14-17 persen. Permintaan tersebut disampaikan Ketua Umum Sementara Kadin Adi Putra Taher saat berbuka puasa bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (3/9). Selain itu, pemerintah juga diharapkan menghapuskan pajak deviden atas pengembalian modal usaha.

Ia mengatakan, kedua pajak tersebut dirasakan membebani para pengusaha nasional karena membuat biaya menjadi sangat tinggi. "Saat ini pengusaha nasional dibebani dua pajak yang sangat memberatkan yaitu pajak pada badan usaha dan pajak atas pengembalian modal usaha yang ditangguhkan," katanya.
Pembebanan kedua pajak ini juga dapat menyebabkan para pengusaha lebih berminat meminjamkan dananya dibandingkan menanamkan sebagai modal. "Kami khawatir suata saat nanti pemilik dana memilih menjadi peminjam dana atau pengelola besar saja dan bukan menjadi pengusaha yang sesungguhnya," katanya. Ia berharap pemerintah menetapkan kebijakan pajak yang pro dunia usaha.
Atas usulan tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji akan merespon permintaan tersebut saat digelar Musyawarah Nasional Kadin pada akhir September mendatang."Akan saya simpan dan sampaikan pada saat munas Kadin karena banyak yang fundamental," katanya.

Industri Pertanian dan Pangan Lemah
Pada kesempatan itu, Adi Putra Taher juga menyampaikan bahwa industri pertanian dan pangan dalam negeri semakin lemah dan tidak sanggup bersaing dengan dunia internasional. Padahal daya beli konsumen Indonesia semakin meningkat mencapai US$4.000 dolar setahun.
Menghadapi persoalan ini, ia berharap akan terjalin kerjasama yang lebih erat antara Kadin dan pemerintah. Pada 2011, Kadin berharap industri pertanian termasuk infrastruktur pendukungnya dapat menjadi fokus pemerintah karena sektor tersebut melibatkan berbagai kalangan pengusaha mulai kelas menengah dan besar serta kecil dan mikro.
Selain itu pasar dunia dan dalam negeri untuk sektor tersebut masih terbuka sangat lebar serta sumber daya di Indonesia sangat melimpah dalam mendukung ketahanan pangan di dalam maupun luar negeri. Rizky Pohan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar