TOKYO (SINDO) – Jepang mengingatkan China untuk mewaspadai nasionalisme ekstrem.Aksi nasionalisme ekstrem dikhawatirkan bisa memperlebar konflik antarkedua negara.
Ketegangan ternyata belum mau pergi dari dua negara ekonomi terkuat di Asia, Jepang dan China. Setelah menangkap awak sebuah kapal asal China,berikut memperpanjang waktu penahanan terhadap sang kapten,Zhan Qixiong,Jepang kini mulai khawatir. Pangkalnya, sejak persoalan penangkapan nelayan dua pekan lalu, China terus menyerang Jepang.
Duta Besar (Dubes) Jepang di Beijing, Uichiro Niwa dipanggil enam kali.Selain itu,China juga turut membatalkan undangan kepada sekitar 1.000 anak muda asal Jepang. Remaja itu akan menghadiri World Expo di Shanghai, China.Tidak hanya itu, Beijing juga menghentikanpenjualantiketduakonser kelompok musik pop Jepang,SMAP. Terhadap aksi China,Jepang tidak mau dikalahkan. Pemerintah Tokyo memperingatkan China supaya berhati-hati terhadap aksi nasionalisme ekstrem.
Nasionalisme dimaksud bukan cuma berasal dari China.“Pemerintah harus mewaspadai aksi nasionalisme ekstrem di Jepang, China, serta negara-negara lain,”ungkap Sekretaris Kabinet JepangYoshito Sengoku. Mengingat demonstrasi di Beijing, Sabtu (18/9) lalu cukup mengkhawatirkan, Jepang meminta warga di kedua negara untuk menyikapi setiap masalah dengan kepala dingin. “Emosi kita tidak boleh terpancing. Jangan sampai isu ini (penangkapan terhadap Zhan) memengaruhi relasi ekonomi kedua negara,” tegas Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda.
Ketegangan antarkedua negara dimulai sejak 7 September lalu. Saat itu sebuah kapal nelayan asal China memasuki kawasan perairan yang sampai sekarang masih diperebutkan. Jepang lantas menahan kapal beserta awaknya. Beberapa hari kemudian awak kapal dibebaskan, kecuali Zhan.Dia tetap ditahan atas tuduhan telah melanggar hukum Jepang. Pengadilan telah melayangkan putusan terbaru terhadap Zhan pada Minggu (19/9).
Masa penahanan Zhan diperpanjang hingga 29 September.Namun, dia belum tentu akan dibebaskan hari itu.Boleh jadi Zhan justru menghadapi sidang atas tuduhan yang dibebankan kepadanya. Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang yang baru dilantik, Seiji Maehara mendeskripsikan kondisi itu sebagai bentrokan “guhatsuteki”. Dalam bahasa Jepang,guhatsutekiberarti kejadian tak terduga dan sifatnya insidental.
Sementara China menganggap penahanan terhadap Zhan sebagai sesuatu yang ilegal. Kegeraman memuncak saat China mendengar kabar perpanjangan waktu penahanan terhadap Zhan. Pemerintah Beijing mengancam bakal melakukan perhitungan dengan Jepang. “Perhitungan serangan yang kuat,”demikian sebutan atas strategi terbaru China,diharapkan bisa mengacaukan pertahanan Jepang.
Sementara itu,Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan dan PM China Wen Jiabao akan bertemu pada rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. Namun, hingga kini belum ada rencana pertemuan khusus di antara keduanya. Pertemuan yang sudah pasti dilaksanakan adalah dengan Presiden AS Barack Obama.
Namun,kedua PM tidak akan duduk bersama. Pertemuan dilakukan secara terpisah, dengan agenda diskusi yang sama yaitu penyelesaian isu lewat dialog damai. Senin (20/9) lalu Wakil Presiden (Wapres) AS Joe Biden mengirim pesan khusus kepada Jepang, negara yang sudah lama menjadi sekutu Paman Sam. Biden menekankan, hubungan AS dan Jepang adalah pusat kebijakan politik Paman Sam di Asia. (AFP/BBC/anastasia ika)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar