Bank Indonesia (BI) telah meluncurkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Juli 2010 yang terbit 15 September 2010. Bagaimana kinerja kelompok bank umum swasta nasional (BUSN) devisa? Kelompok bank ini antara lain meliputi bank-bank papan atas.
Dapatkah BUSN devisa meraih rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) (loan to deposit ratio/LDR) 78-100% terkait aturan giro wajib minimum (GWM) teranyar? Pada 3 September 2010, BI menerbitkan aturan GWM-LDR 78- 100% yang semula direncanakan 78-102% dan sebelumnya 75-95%. Aturan itu yang untuk mengerek pertumbuhan kredit memuat tiga hal.
Pertama, GWM primer dalam rupiah dinaikkan dari 5% menjadi 8% dari dana pihak ketiga rupiah yang berlaku 1 November 2010.Kedua, GWM sekunder dalam rupiah tetap 2,5% dari DPK rupiah.Ketiga, GWM-LDR ditetapkan 78-100% yang berlaku 1 Maret 2011. Mengapa GWM naik? Sejatinya, GWM adalah salah satu alat moneter yang bisa memengaruhi ekonomi, pinjaman, dan suku bunga suatu negara.Tinjauan Kebijakan Moneter per September 2010 menunjukkan inflasi melejit dari 6,22% (year on year/yoy) per Juli 2010 menjadi 6,44% (yoy) per Agustus 2010.
Kenaikan GWM itu lahir untuk menekan tekanan inflasi yang cenderung naik terutama pasca-Lebaran, Natal, dan Tahun Baru.Maka,kenaikan GWM itu diharapkan akan menekan ekses likuiditas perbankan yang kini mencapai sekitar Rp300 triliun. Lalu,bagaimana kinerja BUSN devisa? SPI menunjukkan kredit (yoy) tumbuh 18,22% dari Rp501,95 triliun per Juli 2009 menjadi Rp593,41 triliun per Juli 2010.
Sementara itu,pertumbuhan kredit bank umum sebagai representasi semua kelompok bank mencapai 16,69% per Juli 2010. Pertumbuhan yang jempolan ini mendorong BI merevisi target pertumbuhan kredit menjadi 22- 24% dari semula 17-20%. DPK BUSN devisa tumbuh 13,57% dari Rp715,71 triliun menjadi Rp812,86 triliun sehingga mengangkat LDR dari 70,13% per Juli 2009 menjadi 73,00% per Juli 2010. Dengan bahasa lebih bening, BUSN devisa kian mampu mengemban fungsinya sebagai intermediasi keuangan meski belum ideal (LDR 85-110%).
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/ NPL) membaik dari 3,68% menjadi 2,88% jauh di bawah ambang batas 5%.Intinya,BUSN devisa kian ekspansif mengucurkan kredit tanpa mengabaikan manajemen risiko kredit. Cantiknya, BUSN devisa mampu meningkatkan laba bersih 43,43% dari Rp8,52 triliun menjadi Rp12,22 triliun. Luar biasa! Dari bisnis apa saja? Pos Kenaikan nilai surat berharga (securities) menjadi tulang punggung dengan menyumbang peningkatan 914,44% dari Rp277 miliar menjadi Rp2,81 triliun.
Begitu pula pos keuntungan transaksi valuta asing yang naik 150,72% Rp5,58 triliun menjadi Rp13,99 triliun. Ditambah pula kenaikan dari pos dividen, komisi/provisi 10,19% dari Rp5,89 triliun menjadi Rp6,49 triliun. Karena itu, sungguh patut bila pos laba operasional melejit 19,31% dari Rp7,77 triliun menjadi Rp9,27 triliun.
Peningkatan laba bersih yang cemerlang ini mendorong return on assets (ROA) naik dari 2,14% menjadi 2,66% di atas ambang batas 1,5%.Artinya, kualitas aset BUSN devisa kian gemilang.Penghasilan bunga bersih (net interest margin/NIM) pun menipis dari 5,31% per Juni 2010 menjadi 5,30% per Juli 2010.
GWM-LDR 78-100%
Data di atas menyiratkan rapor biru BUSN devisa.Namun, dapatkah BUSN devisa meraih LDR minimal 78%? Cukup sulit.Mengapa? Pertama, potret LDR. SPI mencatat LDR beberapa kelompok bank belum mencapai LDR minimal 78%. LDR Kelompok BUSN devisa baru mencapai 73,00%. Begitu pula LDR bank persero 77,63% dan BPD 68,15%. Kelompok BUSN nondevisa, bank campuran dan bank asing telah melampaui LDR 78% masing-masing 81,45%,96,42%,dan 87,65%.
Upaya meningkatkan LDR BUSN devisa dari kini 73,00% menjadi minimal 78% sungguh tak gampang. LDR 78% artinya jika DPK mencapai Rp100 triliun, kredit harus mencapai Rp78 triliun. Maka, kian besar DPK, kian sulit untuk menaikkan LDR meski 1%. Ini bakal dialami banyak bank papan atas. Kedua, bunga kredit bisa terbang. Kenaikan GWM primer dari 5% menjadi 8% mungkin mampu menekan laju inflasi.
Namun ingat, kenaikan GWM itu menambah biaya dana (cost of fund) yang akan dikenakan kepada nasabah berupa kenaikan bunga kredit.Kondisi ini jelas berseberangan dengan jiwa aturan GWM-LDR yakni mendongkrak pertumbuhan kredit. Hal ini bisa menebalkan NIM meski NIM BUSN devisa kini menipis dari 5,31% per Juni 2010 menjadi 5,30% per Juli 2010.
Bagaimana NIM kelompok lainnya? NIM Kelompok bank campuran menurun dari 3,77% menjadi 3,75% dan bank asing dari 3,68% menjadi 3,50%. Sebaliknya, kelompok bank persero justru naik dari 6,26% menjadi 6,28%, bank BUSN nondevisa dari 9,48% menjadi 9,49%, dan bank pembangunan daerah (BPD) dari 8,90% menjadi 8,95%. Kenaikan NIM itu jelas tidak searah dengan mimpi BI untuk memiliki NIM mungil seperti negara tetangga yang hanya 2-3%.
NIM mini diharapkan dapat menipiskan bunga kredit.Tengok saja,kini bunga kredit modal kerja meningkat dari 12,63% per Juni 2010 menjadi 12,68% per Juli 2010. Untungnya, bunga kredit investasi dan kredit konsumsi mengecil masing-masing dari 12,19% menjadi 12,15% dan dari 13,97% menjadi 13,93% pada periode yang sama. Ketiga, modal menipis.
Akibatnya, bank yang belum mampu mencapai LDR 78% lebih memilih penalti (disinsentif) berupa tambahan GWM 0,1% dari DPK rupiah untuk setiap 1% kekurangan LDR. Kenaikan GWM primer dan penalti bakal menggerus modal yang tercermin pada rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR).
Hebatnya,CAR BUSN devisa masih tinggi yakni 17,05% meski sedikit di bawah rata-rata industri CAR 18,29%. Dengan melirik aneka pertimbangan demikian, BUSN devisa harus bekerja lebih keras dan mengencangkan ikat pinggang untuk meraih LDR minimal 78%.Upaya yang sungguh-sungguh akan melahirkan buah manis.(*)
PAUL SUTARYONO
Pengamat Perbankan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar