Rabu, 22 September 2010

Memacu Daya Saing Indonesia

KABAR menggembirakan mengenai daya saing perekonomian Indonesia muncul di media massa harihari ini terkait dengan peringkat terbaru yang dirilis oleh Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum).

Dalam peringkat terbaru tersebut, daya saing keseluruhan perekonomian Indonesia meningkat cukup tajam,10 tingkat,dari peringkat ke-54 pada periode 2009– 2010 menjadi peringkat ke-44 pada periode 2010 – 2011. Kenaikan ini patut diapresiasi lantaran kenaikan peringkat sebelumnya hanyalah dari peringkat ke-55 menjadi ke-54. Menjadi negara dengan daya saing terbaik ke-44 di antara 132 negara tentu bukan pekerjaan mudah dan juga belum tentu mengundang pujian,bahkan dari masyarakat Indonesia sekalipun.

Mudah ditebak, berbagai kalangan langsung membandingkan peringkat Indonesia itu dengan negara-negara tetangga di ASEAN yang kebetulan sebagian besar mempunyai peringkat lebih baik dibanding Indonesia, termasuk dengan Singapura yang berada di peringkat ketiga. Dari rilis The World Economic Forum tersebut, aspek yang terpenting sebenarnya adalah introspeksi diri dari keadaan ekonomi Indonesia saat ini.

Laporan itu ibarat cermin dari apa yang sudah dilakukan pemerintah sampai saat ini sekaligus menunjukkan dengan transparan pekerjaan rumah apa saja yang belum diselesaikan pemerintah. Apabila laporan tersebut menjadi acuan strategi peningkatan daya saing perekonomian Indonesia di masa datang, Pemerintah Indonesia ibarat sekali merengkuh dayung,dua tiga pulau terlampaui.

Dengan berfokus pada upaya membereskan semua pekerjaan rumah tersebut, daya saing Indonesia akan terus meningkat dan akhirnya mengalahkan negara-negara tetangga yang potensi ekonominya sebenarnya berada di bawah Indonesia. Apabila menganalisis lima faktor utama yang menghambat iklim usaha di Indonesia, seperti dibahas oleh The World Economic Forum, masalah klasik seperti inefisiensi birokrasi dan korupsi masih menduduki peringkat teratas.

Kondisi ini seolah menyiratkan bahwa belum ada perkembangan berarti dari upaya reformasibirokrasisertapemberantasan korupsi yang sebenarnya selalu menjadi perhatian utama masyarakat dan pemerintah.Kedua masalah tersebut sebenarnya sangat terkait satu sama lain, di mana kegagalan reformasi birokrasi hanya akan menyuburkan korupsi dan maraknya korupsi hanya akan menciptakan birokrasi yang tidak ramah terhadap duniausaha, berbiaya tinggi, serta tentunya jauh dari efisien.

Karena upaya pemberantasan korupsi saat ini sudah mendapatkan perhatian cukup tinggi dari pemerintah, terutama dengan adanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan derajat yang sama perlu diberikan perhatian khusus pada reformasi birokrasi. Meskipun harus melirik ke negara tetangga yang sering berbuat ulah, Malaysia, ada baiknya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dimodifikasi namanya menjadi Menteri Reformasi Birokrasi, seperti salah seorang menteri di Malaysia yang disebut sebagai CEO dari transformasi Pemerintah Malaysia.

Faktor berikutnya yang mengganggu iklim usaha adalah tidak memadainya infrastruktur. Rendahnya kualitas pasokan listrik, kondisi jalan, serta kondisi pelabuhan merupakan masalah utama infrastruktur yang mengganggu daya saing di Indonesia. Crash program dalam membenahi masalah tersebut sangat diperlukan mengingat negara-negara lainnya juga memberi perhatian khusus pada pembenahan infrastruktur atau bahkan menjadikan kelengkapan infrastruktur sebagai daya tarik berinvestasi di negaranya.

Daya saing ekonomi akan meningkat pesat apabila ada kepastian pasokan listrik serta tersedianya jalan yang layak antara sentra produksi dan distribusi. Pelabuhan sebagai sarana distribusi utama tidak boleh mempunyai kongesti yang akut dan membuat proses bongkar muat barang menjadi berlarut- larut. Yang agak mengejutkan sebenarnya adalah kedua faktor lainnya yang paling mengganggu iklim usaha di Indonesia yaitu sulitnya akses pembiayaan serta inflasi.

Sulitnya akses pembiayaan dapat diartikan masih relatif mahalnya biaya peminjaman modal di Indonesia atau masih sulitnya UMKM meminjam dari lembaga keuangan. Mengembangkan terus keuangan mikro dapat menjadi jawaban untuk kemungkinan terakhir, tetapi masalah tingginya biaya pinjaman kemungkinan terkait dengan masih tingginya tingkat risiko serta efisiensi perbankan sendiri.

Bank Indonesia tampaknya masih harus ikut aktif membantu memperbaiki daya saing dengan memfasilitasi kemungkinan penurunan biaya pinjaman perbankan. Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga harus pandai-pandai menjaga inflasi. Yang masih harus menjadi perhatian BI dan pemerintah adalah masih belum stabilnya laju inflasi di Indonesia yang sangat mudah terganggu oleh kesulitan pasokan pangan (beras) atau oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta listrik.

Masalah klasik lainnya yang masih mengganggu daya saing perekonomian Indonesia adalah inefisiensi pasar tenaga kerja,terutama terkait dengan kakunya peraturan tenaga kerja serta biaya tinggi yang harus ditanggung pemberi kerja. Tidak tuntasnya masalah ini ditambah masih relatif rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia berpotensi menjadikan Vietnam sebagai pesaing Indonesia yang tidak akan mudah dikalahkan.

Selain membereskan pekerjaan rumah yang belum selesai, tentunya tidak boleh dilupakan upaya untuk memelihara keunggulan yang sudah dimiliki. Dari laporan The World Economic Forum, kekuatan daya saing Indonesia berasal dari kondisi ekonomi makro serta kekuatan ekonomi Indonesia sendiri. Sebagai perekonomian terbesar ke-18 di dunia (mengacu produk domestik bruto/PDB), Indonesia harus mampu menjaga dirinya agar tetap menjadi perekonomian yang kuat dan kokoh serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkualitas.

Apa yang sudah dicapai Brasil, Rusia, India, dan China (BRIC) adalah target yang harus dikejar dan jangan sampai terjebak menjadi negara berpenduduk besar, tapi dengan ekonomi yang kurang solid, seperti Pakistan, Bangladesh,dan Nigeria. Kunci agar size perekonomian Indonesia terus membesar dan stabil adalah kondisi ekonomi makro yang kondusif melalui pengelolaan APBN yang hati-hati dan tidak terjebak utang berlebihan yang dapat membawa perekonomian dalam kondisi krisis seperti kasus Yunani saat ini. Mudah-mudahan peringkat daya saing Indonesia tahun depan akan melonjak lagi, lebih dari 10 tingkat! (*)

BAMBANG PS BRODJONEGORO
Guru Besar FE
Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar