Selasa, 21 September 2010

IMF Gunakan Asumsi yang Tidak Realistis Perekonomian Indonesia ke Depan

Prediksi NPL Bank Bisa 31,5 Persen

JAKARTA - Publikasi Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) terkait stress test terhadap perbankan Indonesia direspons keras Bank Indonesia (BI). Bahkan, BI menyatakan IMF ngawur karena menggunakan asumsi yang tidak realistis dengan kondisi perekonomian Indonesia ke depan.

Kepala Biro Humas BI Difi A. Johansyah mengungkapkan, skenario yang digunakan IMF tidak mencerminkan proyeksi realistis atas perekonomian Indonesia. ''Skenario anjloknya ekonomi yang diusulkan tim IMF tidak realistis dengan kondisi ekonomi Indonesia ke depan,'' ujarnya dalam keterangan resmi BI yang disampaikan kemarin (20/9).

Pekan lalu, IMF memang merilis laporan Financial System Stability Assessment (FSSA) setebal 108 halaman. Dalam laporan tersebut, IMF menggunakan asumsi kontraksi laju ekonomi Indonesia minus 5 persen. Dengan asumsi tersebut, kredit macet atau non-performing loan (NPL) perbankan Indonesia pada kuartal III 2011 bakal melonjak hingga 31,5 persen. Padahal, saat ini, NPL hanya berkisar 3,5 persen.

Menurut Difi, dalam penyusunan awal skenario dan metode stress test, telah ada pembicaraan di level teknis antara BI dan IMF. Dalam diskusi penyusunan skenario tersebut, BI sudah sangat berkeberatan. ''Skenario risiko yang dipilih adalah sangat ekstrem negatif,'' katanya.

Dia menyebutkan, kondisi ekstrem negatif tersebut tidak realistis. Sebab, lanjut dia, pemerintah dan BI tentu tidak akan tinggal diam kalau ekonomi sudah gawat. Pasti akan diambil langkah penyelamatan untuk mencegah hancurnya perekonomian. ''Artinya, pemerintah dan BI pasti bertindak preemtif untuk mencegah skenario krisis tersebut terjadi,'' terangnya.

Difi menyatakan, BI juga berkeberatan kalau nanti hasil stress test IMF tersebut disalahartikan di kemudian hari. Sebab, stress test itu menyangkut kondisi perbankan yang terkait dengan nasabah serta perbankan yang listing di pasar modal. ''Karena itu, pemberitaan stress test IMF di media perlu diluruskan agar tidak menimbulkan salah paham,'' tegasnya.

Menurut dia, hasil stress test yang dilansir bukanlah suatu prediksi atau ramalan, tapi gambaran yang terjadi kalau ekonomi sudah sangat gawat. Karena itu, hasil NPL yang terjadi akan sangat berbeda kalau baseline skenarionya juga berbeda. ''Jadi, kalau skenarionya lebih positif, NPL yang dihitung juga akan semakin baik. BI sendiri dalam melakukan stress test menggunakan skenario yang lebih sesuai dengan kondisi perekonomian,'' paparnya.

Dia menambahkan, jika dilihat secara general, kondisi sebagaimana stress test tersebut baru bisa terjadi jika ekonomi benar-benar gawat. Misalnya, pertumbuhan ekonomi negatif serta nilai tukar rupiah anjlok sehingga NPL melonjak. Jika itu terjadi, bukan hanya perbankan, sektor keuangan secara keseluruhan pun akan kolaps. ''Hal itu secara realistis tidak sesuai baseline outlook ekonomi Indonesia ke depan,'' ujarnya. (owi/c5/kim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar