Sabtu, 18 September 2010

Eropa Klaim Menang dalam Kasus Subsidi

Jenewa -- Eropa mengklaim menang dalam kasus subsidi pemerintah Amerika Serikat terhadap produsen pesawat Boeing setelah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan subsidi itu ilegal. "Boeing menerima subsidi jutaan dolar yang dinyatakan ilegal oleh WTO," kata Rainer Ohler, juru bicara Airbus, perusahaan pesawat milik Eropa yang menjadi pesaing Boeing.

Menurut Ohler, keputusan WTO ini memang belum dirilis, tapi sudah didengar para pemimpin Eropa yang mengadukan bantuan istimewa dari salah satu negara bagian di Amerika Serikat untuk Boeing. Bantuan ini dituding menjadi alat melemahkan posisi Airbus di pasar. "Bantuan itu sudah lama dinikmati Boeing," kata Karel de Gucht, Komisioner Perdagangan Uni Eropa.
Dalam pengaduannya, Uni Eropa menyatakan menemukan temuan dukungan riset dan pembangunan yang mewah dari negara bagian di Amerika Serikat untuk melemahkan posisi serta daya asing Airbus dan meningkatkan Boeing. Selain itu, Boeing dituding menerima US$ 23,7 miliar dari Departemen Pertahanan Amerika berupa kontrak dan subsidi penelitian NASA.
Uni Eropa mengadukan kasus ini setelah Boeing mempersoalkan bantuan Uni Eropa terhadap proyek A380, pesawat penumpang terbesar di dunia. Dalam kasus ini, hakim WTO menemukan bahwa unit Eropa Aeronautika, Defense & Space Co, ini mendapatkan manfaat dari dukungan yang diberikan pemerintah Eropa untuk pesawat A380. Akibatnya, Airbus membayar kembali beberapa bantuan yang diberikan pemerintah.
Menanggapi klaim pemimpin Eropa bahwa WTO telah memenangkan mereka, Boeing menyatakan keputusan menang itu hanya klaim yang sebenarnya telah dibantah WTO. "Tidak ada laporan publik yang menyatakan WTO mengambil putusan memenangkan Airbus," kata Boeing dalam pernyataan resminya di Chicago kemarin. Boeing menyatakan kasus ini berbeda dibanding US$ 20 juta dari Uni Eropa untuk proyek A380.
Juru bicara Boeing, Charlie Miller, mengatakan bantuan pemerintah Amerika kepada Boeing Company tidak menyebabkan dampak distorsi pasar. Apalagi bantuan yang diberikan tidak mendekati skala praktek subsidi seperti yang dilakukan Uni Eropa terhadap Airbus.
Tapi, menurut Ohler, pengaduan tentang subsidi ini sebaiknya diakhiri dan dicarikan solusi yang sama-sama menguntungkan. "Mari kita mulai dengan tanggung jawab masing-masing," katanya. Dua raksasa produsen pesawat komersial ini diharapkan duduk bersama membuat aturan main yang adil untuk masa depan industri penerbangan dunia di masa mendatang.
Juru bicara Komisi Perdagangan Uni Eropa, John Clancy, mengatakan putusan WTO merupakan momentum yang tepat untuk memulai negosiasi. Namun dia menyarankan agar negosiasi dilakukan di level politik tingkat tinggi. "Tujuannya agar mendapat solusi yang konkret," kata Clancy. Apalagi pengaduan sejak 6 Oktober 2004 ini sudah menghabiskan biaya jutaan dolar Amerika tapi belum juga ditemukan solusinya.
Menurut Peter Mandelson, mantan Komisaris Perdagangan Uni Eropa, kedua pemerintah harus memiliki solusi negosiasi daripada mengadu ke WTO. "Kasus ini menghabiskan biaya jutaan dolar tapi solusinya belum jelas," kata mantan Sekretaris Bisnis Britania Raya ini. Tapi dia menuding Boeing memakai WTO untuk menekan Airbus, yang menyebabkan hubungan keduanya merenggang. newsyahoo | afp | arif firmansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar