Senin, 06 September 2010

Dana Asing Terus Topang IHSG

JAKARTA(SINDO) – Derasnya arus dana asing yang masuk (capital inflow) diperkirakan mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 3.500.

Sementara nilai tukar rupiah berpotensi berada di bawah Rp9.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut didukung oleh terjaganya pertumbuhan ekonomi serta penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) sejumlah perusahaan berkapitalisasi besar. “Jika rencana sejumlah perusahaan besar melakukan IPO terlaksana, indeks akan naik lebih tinggi lagi.Pasalnya,likuiditas saat ini memang berlebih,” ujar analis Eko Capital Cece Ridwan kepada Seputar Indonesia,kemarin. Menurut Cece, asing masih memburu produk-produk investasi yang menguntungkan serta likuid. Tidak heran, bila pasar saham dan juga obligasi pemerintah menjadi tujuan investasi mereka.

“Dengan banyaknya dana asing yang melakukan pembelian produk-produk tersebut, otomatis rupiah juga menguat,” ujarnya. Cece menuturkan, investor asing memang menunggu emiten baru yang dianggap menguntungkan. Sebab, valuasi sejumlah saham- saham unggulan (blue chip) sudah dianggap terlalu tinggi.“Karena biasanya saham perdana itu mengalami diskon 30% dari valuasi wajarnya. Untuk itu, saham-saham baru yang berkualitas akan diminati asing,”tuturnya. Cece berpendapat, dari sejumlah rencana IPO di sisa tahun ini,beberapanya dianggap sangat potensial, yakni IPO PT Indofood CBP Sukses Makmur, PT Bumi Resources Mineral,PT Harum Energy,serta PT Borneo Lumbung Energi.

Dua badan usaha milik negara (BUMN) yang berniat melantai di bursa,yaitu PT Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia juga dianggap sangat menarik, jika sahamnya diperdagangkan.“ Saham-saham ini berpotensi menjadi saham-saham unggulan baru,”kata Cece. Masuknya saham-saham tersebut, sambung Cece, bisa mengangkat IHSG ke level 3.300–3.500.Pada penutupan akhir pekan lalu, IHSG kembali mencetak rekor baru setelah menguat 42,128 poin (1,34%) ke level 3.164,277. Pada kesempatan terpisah,Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Aditya Swara mengatakan,nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berpotensi menguat hingga penghujung tahun ini akibat derasnya capital inflow.

“Faktor positif buat penguatan rupiah adalah aliran modal jangka pendek yang masih masuk terus ke Asia, termasuk Indonesia,”ujarnya. Menurut Mirza, derasnya dana asing yang masuk ke Indonesia dipicu oleh pertumbuhan ekonomi dan suku bunga Indonesia yang lebih menarik dibandingkan di Amerika dan Eropa. Arus modal asing yang masuk ke dalam negeri hingga 27 Agustus 2010 mencapai Rp14,68 triliun. Sementara itu, suku bunga acuan bank Indonesia (BI Rate) tetap pada level 6,5%. Kendati demikian,Mirza menilai, ada sentimen negatif yang bisa menahan laju penguatan rupiah, yaitu tren peningkatan impor.Tingginya impor menyebabkan neraca perdagangan bulanan mulai mengalami defisit.

Di lain pihak,BI tidak menginginkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terlalu kuat lantaran memberi imbas buruk terhadap ekspor.Ini membuat bank sentral harus melakukan intervensi dengan membeli dolar di pasar. “Kemungkinan rupiah di akhir tahun berkisar di Rp8.850–9.150 per dolar AS,”ujarnya. Senada dengannya, Ekonom Senior Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto menilai,rupiah hingga akhir tahun ini berpotensi berada di level Rp8.900 per dolar AS. Hal itu ditopang fundamental ekonomi Indonesia dan cadangan devisa Indonesia yang bagus.

Sementara dari luar negeri,pemulihan ekonomi Amerika yang cenderung lambat menyebabkan mata uang dolar AS tidak lagi menarik di mata investor. “Investor melirik mata uang Asia, termasuk Indonesia untuk berinvestasi. Bahkan, apresiasi rupiah merupakan yang paling tinggi dibanding beberapa mata uang Asia lainnya,”paparnya. Masuknya dana asing ke Indonesia melalui Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) maupun saham, menurut Ryan,akan mendorong rupiah terus menguat.Namun, BI harus melakukan intervensi.

Sebab, bila rupiah terlalu tinggi (overvalued), maka produk ekspor Indonesia tidak kompetitif ketika berhadapan dengan produk China.“Kalau rupiah terlalu kuat,ekspor akan tertekan.Karena itu,rupiah memang harus dijaga. Idealnya, posisi rupiah untuk jangka pendek di kisaran Rp9.000–9.300 per dolar AS,” tuturnya. Sebelumnya, pemerintah berkomitmen untuk menjaga nilai tukar rupiah pada level Rp9.000–9.200 per dolar hingga akhir tahun ini.

Selama periode 31 Desember 2009–27 Agustus 2010, rupiah mengalami apresiasi sebesar 4,13% dari Rp9.404 per dolar AS menjadi Rp9.016 per dolar AS.Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah berada di level Rp9.010 per dolar AS. (juni triyanto/j erna)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar