JAKARTA(SINDO) – Aliran dana asing (capital inflow) masih menyenangi pasar saham Indonesia. Konfidensi asing terlihat sangat tinggi memasuki September 2010.
Di mana selama delapan hari perdagangan efektif di Bursa Efek Indonesia (BEI), asing melakukan pembelian bersih hingga mencapai Rp4,737 triliun. Nilai fantastis itu membuat IHSG bercokol pada level tertingginya di posisi 3.384,653 akhir pekan lalu. Akibat aliran dana asing tersebut IHSG meroket sebanyak 302,769 poin atau 9,8% dari posisi 31 Agustus 2010.
“Pasar saham kita dianggap memiliki return yang besar, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga,asing tentu memilih masuk sebelum terlambat,” ujar Kepala Riset Bhakti Securities, Edwin Sebayang, kepada SINDO,kemarin. Edwin mengatakan, asing melihat pasar saham Indonesia masih sangat potensial, di mana earning yang dihasilkan berdasarkan data kinerja emiten-emiten di semester I/2010 mencapai 37%. Sehingga, tidak heran bila asing memilih Indonesia, menjadi tempat investasinya.
Selain itu, kata dia, aliran dana tersebut kembali masuk secara besar seiring dengan kondusifnya kondisi global. Menurut Edwin,berkurangnya kekhawatiran terhadap terjadinya krisis ekonomi jilid II,menjadi faktor pendukung.Namun,di saat ekonomi Eropa dan AS masih dalam pemulihan,dana tersebut memilih mencari tempat yang bisa mengembangkan keuntungan yang lebih baik.
“Eropa dan AS melambat, sementara likuiditas itu kan harus berputar ke tempat yang dianggap menguntungkan. Itu sebabnya, mereka masuk ke pasar kita,”tuturnya. Indonesia, lanjut dia, saat ini menjadi pasar paling menjanjikan dibandingkan negara-negara lain. Kenaikan peringkat investasi dan daya saing Indonesia,juga menjadi penguat konfidensi asing.
Seperti diketahui,pada 9 September 2010, World Economic Forum (WEF) mengumumkan peringkat Global Competitivenes Index (GCI) negara- negara di dunia dalam Global Competitiveness Report (GCR) untuk 2010–2011.Berdasarkan peringkat terbaru yang dikeluarkan, Indonesia mengalami kenaikan substansial yaitu sebanyak 10 peringkat ke posisi ke-44 dari peringkat ke-54 tahun lalu.
Dengan peringkat tersebut, posisi daya saing Indonesia mengungguli peringkat daya saing sejumlah negara besar,antara lain: Portugal (46),Italia (48),India (51), Afrika Selatan (54), Brasil (58), Turki (61),Rusia (63),Meksiko (66), Mesir (81), Yunani (83), dan Argentina (87).“Ini membuat dana asing tidak akan ragu untuk masuk ke dalam negeri,”katanya. Berdasarkan risetnya, Edwin menilai penguatan IHSG hingga akhir tahun akan berada paling tidak di level 3.500.
Kondisi tersebut mengacu pada kinerja yang dibukukan emiten-emiten di semester I/2010. Jika, kinerja emiten-emiten BEI mengalami penguatan di luar ekspektasi pada kuartal III/2010, maka target Rp3.500 akan dinaikkan. “Tentunya sangat mungkin IHSG berada di level fantastis melewati Rp3.500,”paparnya. Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai konfidensi asing terhadap pasar Indonesia mengalami peningkatan tajam, pascanaiknya rating daya saing Indonesia 10 peringkat lebih baik.
“Selain itu, pertumbuhan kita juga sustainable,”ujar Purbaya. Kenaikan daya saing tersebut, lanjut Purbaya,memberikan optimisme tinggi bagi asing menyalurkan dananya ke pasar saham Indonesia. Tidak heran bila pada periode September ini, arus asing yang melakukan pembelian bersih saham sangat besar. Pembelian terbesar dilakukan asing berlangsung sejak dua hari sebelum Lebaran dan saat perdagangan di buka,usai libur panjang Rabu lalu (15/9).
Tercatat pembelian saham asing mencapai Rp1,5 triliun dalam dua hari perdagangan terakhir sebelum libur Lebaran (Senin 6/9 dan Selasa 7/9). Sementara pada saat perdagangan bursa dibuka pada Rabu (15/9), pembelian bersih asing mencapai Rp2,18 triliun. Pembelian beli asing juga berlanjut pada 16 dan 17 September 2010, dengan total net buy mencapai Rp1,142 triliun.“Ini menandakan asing sangat konfiden,kedepannya return yang didapat masih tinggi,” ucap Purbaya.
Menurut dia, dana asing tersebut sebagian besar cenderung memilih bertahan. Pasalnya,ekonomi Indonesia akan terus mengalami pertumbuhan yang baik selama lima tahun ke depan.Namun, kondisi tersebut juga sangat tergantung dari kemampuan pemerintah dalam menjaga kebijakan moneter dan fiskal secara prudent.“Jika ini bisa dilakukan, maka asing akan bertahan.
Ke depan pun capital inflow masih akan terus masuk,“ tandasnya. Purbaya mengatakan, asing tidak akan memperhitungkan valuasi saham-saham unggulan yang saat ini dianggap sudah sangat tinggi dan kemahalan. Menurutnya, saat kondisi pertumbuhan ekonomi terjaga dengan baik, maka valuasi saham pun akan sendirinya dianggap murah.
Kepala Badan Pengawas dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany, menuturkan peningkatan saham di BEI membuktikan telah terjadi rebalancing perekonomian dunia. Di mana saat ini Indonesia dan Asia lain, menjadi negara yang diperhitungkan untuk investasi.
Investor menilai keuntungan yang bisa diperoleh mereka jauh lebih besar, ketimbang menempatkan dana di Amerika Serikat (AS) ataupun Eropa. ”Bukan hanya Indonesia, Thailand juga kebanjiran. Likuiditas yang sebelumnya di negara barat, beralih ke kita karena bottom line (laba bersih) di sana tidak bagus,” kata Fuad akhir pekan lalu. (juni triyanto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar