Oleh:Makmun
PenelitiUtama Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan
Peran foreign direct investmen (FDI)maupun domestik dalam proses pembangunan ekonomi di berbagai negara di belahandunia tidak dapat diragukan lagi.
Meski peranan FDIcukup besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi, sayangnya hingga kini investasiasing yang masuk ke Indonesia masih jauh dari optimal. Dari data FDI perkuartal 1 tahun ini, ternyata investasi asing masih didominasi oleh Singapura(USD 675,8 juta), Mauritius (USD 446,6 juta), Amerika Serikat (USD 436,7 juta),Inggris (214,9 juta) dan Australia (186,4 juta). Sementara itu investasi dariTimur Tengah ke Indonesia masih sangat kecil.
Sementara itu menurut KepalaBadan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, realisasi investasisampai dengan semester I/2010 mencapai Rp92,9 triliun. Nilai realisasiinvestasi selama semester I ini sudah mencapai 58,1% dari target investasitahun 2010, yakni sebesar Rpl60 triliun. Apabila dibandingkan dengan periodeyang sama tahun 2009, realisasi tahun ini meningkat 39,9%. Sementara itu dariangka tersebut, Rp71 triliun merupakan investasi penanaman modal asing (PMA)dan Rp21,9 triliun merupakan investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Sementara itu potensiinvestasi yang sesungguhnya diperkirakan dapat mencapai Rp200 triliun padatahun ini. Rendahnya realisasi dibandingkan dengan potensi ini selalu dihubungkan dengan klasik, seperti ketersediaan infrastruktur dan ketersediaan energi listrik,gas, dan batu bara untuk industri dalam negeri. Lemahnya infrastruktur dan energi ini menyebabkanpemain baru sedikit tertahan untuk investasi sehingga secara keseluruhan realisasiinvestasi pada semester 1/2010 didorong ekspansi perusahaan yang sudah ada.Jikapun pemain baru, itu didominasi investor yang telah memindahkan investasidari Vietnam dan China.
China atau India
China, India danIndonesia merupakan tiganegara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia dan makinberperan penting dalam ekonomi global. Ketiga negara ini terbukti mampumencapai pertumbuhan positif pada saat dunia terjangkit krisis global 2008 yanglalu. Namun demikian diantara ketiga negara tersebut hanya China dan India yangmampu meraup FDI dalam jumlah yang cukup besar. Kedua negara tersebutmenerapkan strategi yang berbeda dalam menarik FDI.
Kemampuan modaldan tenaga kerja yang besar memungkinkan China membangun industri manufakturdan infrastruktur yang besar pula.Akibatnya,negeri Tirai Bambu itu menguasai dunia dengan ekspor barang-barang manufakturke seluruh dunia. China secara nyata telah berhasil menjadipusat perhatian bagi para investor global. Untuk itu tak heran apabila mereka akhirnya menjadikan negara ini menjaditumpuhan dalam menanamkanmodalnya, terutama untuk tujuan investasi baru maupun perluasan kapasitas pabrik.
Tentunyapilihan ini bukan semata-mata karena China memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, akan tetapi China memang memiliki banyak daya tarik lainnya, sepertitingginya tingkat pertumbuhan ekonomi, liberalisasi kebijakan peraturan tentang modal asing, terbukanya kesempatan bagi investor asing membeliasset perusahaan negara, Ikliminvestasi dan pengurusan perijinan yang mudah, cepat dan murah, kesempatan perusahaan asing melakukan kegiatan pembangunan prasaranainfrastruktur, dan undang-undang penanaman modal asing yang memberikan kelonggaran repatriasi modalmaupun laba perusahaan serta jangka waktu perijinan investasi dan hakpengelolaan yang semakin diperpanjang.
Denganberbagai strategi di atas, China menikmati aliran FDI dalam jumlah yang cukupbesar. Pada tahun 2005 China berhasil menarik sekitar 22%dari arus masuk FDI ke negara berkembang. Kehadiran FDI secara umum telahmemberikan manfaat bagi negara penerima dan mitra bisnis lokal di negaratersebut. Ekonomi China makin meraksasa dengancadangan devisa negeri menembus USD2,5 triliun pada Mei 2010. Bahkan negeri itumenyalip kekuatan ekonomi negara-negara maju, seperti Inggris, Prancis, danItalia.
Berbeda dengan China yang mengandalkan arus FDI, India berhasil menyitaperhatian dunia justru karenamampu mengembangkan bisnis berbasis ilmu pengetahuan berkelas dunia, sepertipiranti lunak, jasa teknologi informatika, dan farmasi serta memasok sumber dayamanusia terampil. PemerintahIndia juga mengurangiintervensi pada dunia bisnis,bahkan cenderung curiga terhadap investasiasing sehingga pertumbuhan ekonomi lebih didorong tingginya permintaan domestik. Dengan strategi yang ditempuhnya, kini Indiaberhasil menjadibasis produksi piranti lunak dan produk teknologi informasi untuk pasar AmerikaSerikat, Eropa, dan Asia.
Di tengah krisisIndia juga mencatatpertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia sementara negara-negara Eropa, AmerikaSerikat, dan sejumlah negara Asia mengalami pertumbuhan negatif. India, sebagai negaraindustri baru yang giat melakukan transformasi ekonomi, pada pertengahan Juni 2010 memilikicadangan devisa sekitar USD272 miliar. Bandingkandengan cadangan ekonomi Amerika Serikat yang USD 72,5 miliar, danInggris sebesar USD 71,1miliar.
Berbeda denganChina dan India, meskicadangan devisa kita mampu menembus di USD 74,6miliar per31 Mei 2010, akan tetapi FDI yang masuk ke Indonesia masihjauh dari harapan, masih banyak potensi yang sebenarnya dapat digali, namunkenyataanya banyak kendala yang dihadapi. Beberapa kendala tersebut antara lainadalah: (i) masih lemahnya insentif investasi. (ii) terbatasnya infrastruktur dan rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja. (iii) tingginya biaya ekonomi, karena tingginya kasus korupsi, keamanan danpenyalah gunaan wewenang, dan (v) carutmarutnya birokrasi dan prosedur investasi.
Gambaran di atas sejalan dengan hasil laporan BankDunia mengenai iklim investasi (World Bank, 2005), diantara faktor-faktortersebut, stabilitas ekonomi makro, tingkat korupsi, birokrasi, dan kepastiankebijakan ekonomi merupakan empat faktor terpenting. Laporan Bank Dunia inijuga menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara paling mahal dan rumit baikdalam arti biaya maupun jumlah hari dalam melakukan bisnis. Data tersebut jugamenunjukkan bahwa untuk mengurus semua perizinan usaha, seorang pengusahamemerlukan sekitar 151 hari, dan besarnya biaya dan modal minimum yangdiperlukan berkisar sekitar, masing-masing 130,7% dan 125,6% dari pendapatanper kapita di Indonesia (World Bank, 2005).
Berkaca dari China dan India, Indonesia nampaknyaharus bekerja keras agar mampu bersaing dengan kedua negara tersebut. Indonesiadapat saja mencontoh China dengan menggenjot ekspor. Namun Indonesia dapat pulamencontoh India dengan mengembangkan ilmu pengetahuan. Mencontoh India tidaklahmudah, karena Indonesia terlanjur mengandalkan ekspor. Tapi untuk bersaingdengan China, setidaknya ada tiga hal yang harus dibenahi, yakni memperbaiki birokrasiagar lebih efisien, memperbaiki infrastruktur, dan regulasi perpajakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar