Yang diharapkan memasuki bulan puasa ini, tentunya, kebaikan yang melimpah dapat tercapai sebanyak-banyaknya dan tersebar seluas-seluasnya. Maka, di bulan Ramadhan inilah momen yang sangat baik untuk memupuk rasa persaudaraan, tolong-menolong, baik antar-umat Islam sendiri, maupun antar-umat beragama lainnya dan antar-negara di dunia, dan lain-lain untuk mencapai kedamaian. Pada momen bulan puasa ini, mari kita dengungkan imbauan untuk menyucikan negara ini dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Bagaimana pun KKN di negara kita ini sudah cukup parah. Lewat bulan puasa ini, selain kita perlu berproses menyucikan diri lahir batin, mari kita juga bersama-sama menyucikan negara ini dari para koruptor yang mencuri uang negara dan rakyat. Tertangkapnya sejumlah koruptor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari kalangan elite politik dan pemerintah terkait berbagai kasus korupsi menunjukkan bahwa negara ini sedang mengalami penyakit parah yang bernama 'korupsi'. Pada tahun 2008 salah satu media melaporkan, bahwa korupsi merebak mulai dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke. Tanah di negeri ini telah begitu sesak dengan para koruptor. Dalam struktur pemerintahan, tidak hanya di tingkat pusat yang banyak melakukan korupsi. Tetapi, di tingkat daerah pun korupsinya juga sudah parah. Negara ini memang tidak aman dari para koruptor. Negara ini telah dibikin "kotor" oleh mereka. Rakyat dibikin sengsara akibat tingkah laku para koruptor yang lebih mengedepankan nafsu angkara. Oleh karena itu, tiada jalan lain, untuk menyelamatkan negara ini dari para koruptor, kecuali dengan cara membersihkan praktik-praktik kotor terseb ut mulai dari pusat sampai daerah. Bulan puasa inilah waktu yang sangat tepat untuk membulatkan sebuah tekad membersihkan diri dan negara ini dari penyakit-penyakit korupsi yang telah menyengsarakan rakyat. Sungguh ironis, di tengah rakyat masih banyak yang miskin, kelaparan, dengan kondisi kesehatan memprihatinkan dan biaya pendidikan mahal, banyak di antara para elite politik, pejabat dan penguasa di negeri ini menjadi tertuduh kasus-kasus korupsi. Mereka tidak peduli dengan nasib rakyat yang sebagian besar hidup sengsara akibat kemiskinan yang terus merajalela. Mereka para koruptor adalah "tuyul-tuyul berdasi" yang pantas ditangkap dan mendapat ganjaran hukuman yang seberat-beratnya atas tindakan dan perilaku melakukan koprupsi yang berimbas menyengsarakan rakyat banyak. Sungguh banyak kerugian negara ini akibat dikorupsi. Sungguh banyak rakyat kehilangan hak-hak mereka akibat dikorupsi. Karena itu, koruptor merupakan musuh rakyat dan negara. Kita semua wajib memeranginya. Perang melawan korupsi harus selalu didengungkan dalam momen-momen penting. Hal ini untuk menyadarkan elite politik dan pejabat pemerintah agar selalu waspada dan membersihkan diri dari tumbuhnya penyakit korupsi. Seperti memasuki bulan puasa ini, para koruptor di negara kita harus kita puasakan atau kita semua harus mendukung upaya-upaya untuk menindak tegas mereka agar tidak kembali melakukan korupsi. Tentu hal ini merupakan tanggung jawab penegak hukum yang harus bergerak cepat dalam menindak tegas para koruptor yang masih berkeliaran. Tumpulnya hati dan perasaan akan tanggung jawab untuk membantu sesama akan membuat kita terjerambab godaan untuk melakukan sesuatu yang sewenang-wenang, termasuk korupsi. Dengan berpuasa, kita dapat menajamkan hati dan rasa akan tanggung jawab sosial dan beban moral terhadap sesama yang kekurangan. Mereka tentu sangat mengharapkan uluran tangan kita. Ketika merasa lapar dan haus saat berpuasa, kita dapat merenungkan bahwa betapa makanan dan minuman yang sangat kita perlukan untuk menapaki hidup adalah milik Allah. Pada saat-saat tertentu, seperti pada bulan puasa ini, kita dilarang menikmatinya. Maka, sudah sepantasnya kita semua perlu menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan kita perlu memelihara dan memanfaatkannya sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah. Rasa lapar dan haus dapat menyadarkan kita bahwa lapar dan haus itu tidak mengenakkan. Maka, rakyat miskin yang setiap hari mengalami kelaparan tentu merasa menderita karena tidak tenang, tidak nyaman akibat rasa lapar dan haus tersebut. Momen puasa diharapkan dapat mengetuk hati kita semua untuk membantu mereka agar terbebas dari ketidaknyamanan dan kesengsaraan akibat rasa lapar dan haus. Sungguh sangat buta hati kita, jika sudah melakukan puasa dan merasakan lapar dan haus seperti yang sering dirasakan rakyat miskin, namun masih juga melakukan korupsi. Apalagi, yang dikorupsi adalah segala sesuatu yang menjadi hak-hak orang miskin. Nah, di sinilah perang melawan korupsi harus didengungkan. Ibadah puasa dapat dijadikan sebagai moment untuk perang melawan korupsi agar rakyat miskin bisa keluar dari krisis dan menjadi bahagia. Memasuki bulan puasa ini, jika di antara kita melihat masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan, miskin, dan sakit-sakitan, maka hendaknya kita tidak segan-segan mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban mereka. Selain itu, pada bulan puasa ini, mari kita tingkatkan solidaritas persaudaraan di antara kita, baik antar agama, golongan, etnis dan lain sejenisnya demi menjaga keutuhan bangsa. Harus dihindarkan bulan puasa ini "dikotorp" oleh erbagai aksi kekerasan yang merusak hak-hak asasi manusia (HAM). Kita semua harus terus mengusahakan agar bulan puasa ini betul-betul suci, baik dari korupsi maupun kekerasan atas nama apa pun. Mari kita membuat agar saudara-saudara kita bahagia. Selamat menunaikan ibadah puasa. ***
Penulis adalah peneliti pada Institute for Social Empowerment.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar