Rabu, 18 Agustus 2010

Ketidakpastian ekonomi global picu turbulensi pasar

Oleh: Bloomberg

SEOUL: Gubernur Bank of Korea Kim Choong Soo mengatakan ketidakpastian ekonomi internasional akan menyebabkan turbulensi dalam pasar finansial global dan aktivitas bisnis.

Dia mengatakan pasar akan menunjukkan turbulesi di masa depan dan mungkin ada volatilitas tinggi dalam kegiatan bisnis di negara-negara maju. Hal itu disebabkan ketidakpastian dari melambatnya ekonomi di AS dan China serta masalah utang di kawasan Eropa selatan.

Kim dalam pidato di Seoul Financial Forum itu menjelaskan pola yang masih terlihat adalah pemulihan kegiatan ekonomi yang lambat di AS, Eropa, dan negara maju lainnya.

Pemerintah Korsel menghadapi tantangan kebijakan pekan lalu ketika menahan suku bunga acuan pada 2,25%, setelah pemulihan ekonomi yang menaikkan harga, sementara tanda pertumbuhan ekonomi dunia yang lemah membayangi ekspor.

"Tingkat suku bunga masih belum sesuai karena perkiraan inflasi akan meningkat," ujar Kim.

Negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia itu berekspansi sebesar 7,2% per tahun pada kuartal lalu, melampaui estimasi median 6,9% dari survei Bloomber News. Ekspor memberi kontribusi sekitar separuh dari ekonomi, karena nilai tukar won yang lemah membantu meningkatkan ekspor dan pendapatan perusahaan besar seperti Samsung Electronics Co dan Hyundai Motor Co.

Gubernur bank sentral itu menjelaskan kestabilan nilai tukar merupakan prioritas utama. Bank sentral, tambahnya, tidak memiliki target untuk won. Nilai mata uang itu melemah 1,6% terhadap dolar AS tahun ini, paling buruk di Asia.

Won menguat 0,6% menjadi 1.180,7 per dolar AS pada pukul 10.10 a.m di Seoul, sementara indeks saham kospi sedikit berubah.

Tekanan harga diperkirakan makin besar akibat permintaan dan tingginya tarif utilitas, dengan inflasi diprediksi naik di atas titik tengah target Bank of Korea dari kuartal keempat.

Indeks harga konsumen naik 2,6% pada Juli dari setahun sebelumnya, di kisaran objektif bank sentral antara 2% dan 4% untuk rata-rata hingga 2012.

MoneyToday yang mengutip Deputi Menteri Keuangan Yim Jong Yong melaporkan Korea Selatan memerlukan kebijakan preemptive untuk menghadapi harga yang sepertinya akan kurang stabil pada semester kedua.

Kim menegaskan bank sentral akan berusaha mencapai kestabilan harga dan menjaga pertumbuhan di bawah kebijakan moneter yang akomodatif, dengan ekonomi global dan kondisi finansial ikut memengaruhi kecepatan meningkatnya suku bunga.

Bank of Korea, tuturnya, juga bertanggung jawab untuk mempertimbangkan efek dari tingginya suku bunga pinjaman pada usaha rumah tangga dan UKM.

"Produk domestik bruto diperkirakan naik sekitar 0,8% pada kuartal III dan IV," ujar Kim.

Bank of Korea menaikkan suku bunga dari rekor terendah 2% pada Juli untuk pertama kali sejak krisis global.(t04/yn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar