Selasa, 17 Agustus 2010
Investasi langsung masih terhambat
JAKARTA: Proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% yang dipatok pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011, diperkirakan tidak akan diimbangi ketertarikan pemodal melakukan investasi langsung (direct investment).
Analis pasar PT Mega Capital Indonesia Danny Eugene mengatakan belum mantapnya kondisi infrastruktur serta birokrasi yang berbelit di dalam negeri, menyebabkan para pemilik modal terutama dari luar negeri, memilih menahan rencana investasinya.
"Kalau untuk direct investment saya melihat investor masih akan terbentur persolan birokrasi, perizinan dan infrastruktur. Sebenarnya ini persoalan klasik, tetapi masih saja terjadi dan menghambat iklim investasi," ujarnya melalui pesan singkat kepada Bisnis, hari ini.
Menurut dia, Indonesia berpeluang menjadi negara tujuan investasi bagi pemilik modal asing, seiring kemungkinan naiknya posisi investment grade tahun depan.
Meski demikian, dia menuturkan kenaikan peringkat investasi ini diperkirakan akan berpengaruh pada financial market dalam negeri dengan banjirnya dana segar sesaat yang bertransaksi di pasar modal. "Saya optimistis financial market kita akan kebanjiran hot money," katanya.
Dalam kesempatan sebelumnya, Danny menilai pelaku pasar menanggapi secara dingin RAPBN 2011 yang dibacakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan parlemen, Senin lalu.
Asumsi RAPBN yang cukup disoroti yakni menyangkut nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipatok Rp9.300, sementara kebijakan pemerintah menawarkan surat berharga negara (SBN), berpotensi mengangkat nilai tukar rupiah.
"Asumsi Rp9.300 masih terlalu tinggi, semestinya bisa di Rp8.500-Rp8.700. peluang itu cukup terbuka, karena investor akan membelanjakan banyak rupiah sejalan dengan rencana pemerintah menjual SBN," jelasnya.(yn)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar